oleh

Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Sifat Layanan Islami di Bulan Puasa

Editor :Armansyah-Berita, Kampus-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Hari Kedelapan Pesantren Ramadan Virtual UMI membahas Tiga Sifat dalam Layanan Islami di Bulan Ramadhan. Tema ini dibawakan oleh Wakil Rektor 2 UMI Prof Salim Basalamah, Selasa (20/4).

Kegiatan ini dihadiri sejumlah dosen dan mahasiswa serta calon mahasiswa baru UMI dengan dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.

Prof Salim Basalamah menjelaskan ada tiga hal yang perlu diterapkan dalam melayani mahasiswa di UMI, yakni sifat wara’, yakni sifat yang sederhana, tidak sombong dalam memberikan layanan.

“Sebab mahasiswa ibaratnya adalah raja yang dilayani, tanpa mahasiswa, maka tidak ada pelayanan di kampus,” jelasnya.

Selanjutnya, Sambung Prof Salim, sifat qanaah, yakni merasa cukup denga napa yang sudah dimiliki, sehingga tidak ada ambisi untuk mendapatkan yang lebih.

“Tetapi sebaliknya sifat ketiga yang selalu bersyukur terhadap apa yang telah diperoleh, mensyukuri nikmat Allah Swt, akan ditambah nikmat olehNya,” katanya.

Terpisah, Host Dr.M.Ishaq Shamad menambahkan jika sifat wara’ sangat penting dalam menjalankan ibadah puasa, sebab dengan begitu, akan menghindarkan kita segala perbuatan yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa.

Puasa mendidik kita untuk mampu menahan diri dari segala godaan yang mengarah kepada sifat-sifat yang tercela. Namun ada pengembangan makna dan implementasi dari sifat wara’ ini, jika dulu para Sufi mengartikan wara’, artinya meninggalkan kehidupan duniawi, tidak mengejar harta dan jabatan.

“Namun sekarang makna wara’, diartikan memiliki sikap yang tidak meninggalkan kehidupan dunia dan jabatan, tetapi ia tidak diperbudak oleh harta dan jabatan. Malah dengan harta dan jabatan yang ia peroleh, digunakan untuk membantu sesama dan berada di jalan Allah SWT,” tuturnya.

Diceritakan dalam sejarah salah satu sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, dikenal kaya, dan ia mau jatuh miskin dengan menggunakan hartanya membeli kurma busuk, tetapi ia gagal jatuh miskin, karena kurma busuk sangat laku dibeli dari negara tetangga yang sangat membutuhkannya untuk pengobatan.

“Oleh karena itu, tidak apa-apa menjadi orang kaya dan pejabat, tetapi hati dan pikirannya tetap menegakkan keadilan dan kebaikan untuk umat dan kemanusiaan,” jelasnya.

Lanjut Ishaq Shamad tentang seorang ulama besar bernama An Nukman yang melihat buah apel hanyut di Sungai. Ia kemudian mengambilnya, tetapi sebelum buah apel itu dimakan, terlebih dahulu ia menemui pemilik kebun apel tersebut dan meminta halalnya.

Namun pemiliki kebun tersebut sangat terkesan dengan adab dan akhlaq an Nukman, sehingga ia memintanya untuk menikahi putrinya, jika buah apel tersebut mau dihalalkan, dan akhirnya dinikahi.

“Ini memberi pembelajaran bagaiman seorang ulama menjaga diri dari memakan makanan yang tidak halal,” jelasnya. (*)