oleh

Tokoh Perempuan Sulbar Optimistis Kejati Profesional Tangani Kasus Anggota Bhayangkari Ditelanjangi di Jalanan

Editor :Armansyah-Berita, Daerah, SulBar-

MAMUJU, RAKYATSULSEL.CO – Tokoh perempuan asal Provinsi Sulbar Hj Asyfa M Br Ginting Manik (SYF) sangat mengapresiasi kinerja Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulbar di bawah nakhoda Kepala Kejati (Kajati) Johny Manurung (JM). Terutama dalam mengeksekusi kasus-kasus di Sulbar, akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, Koordinator Bravo 5 Wilayah Sulawesi ini, optimistis Kejari akan bersikap profesional dalam menangani kasus penganiayaan terhadap istri seorang Polisi di Mamuju, Provinsi Sulbar, Hj Syamsiar atau Jie Siar, yang telah dilimpahkan Polda Sulbar ke Kejati Sulbar (P21). Bravo 5 sendiri merupakan Organisasi Masyarakat (Ormas) binaaan Jendral TNI (purn) Luhut Binsar Pandjaitan dan Prof Mahfud MD.

“Kami sangat percaya Kejati Sulbar di bawah pimpinan Bapak Johny Manurung bersikap profesional dan bekerja sesuai aturan dalam menangani kasus ini. Berkas para tersangka dan barang bukti kini diserahkan Polda Sulbar ke Kejati Sulbar,” ujar Bunda Syfa, sapaan akrab Asyfa M Br Ginting Manik, Selasa (20/4).

Bunda Syfa berharap, tidak terlepas dari kasus ini, telah viral di media sosial dan masyarakat, setelah video pengeroyokan yang dialami korban, Jie Siar, beredar luas.

“Masyarakat harus diedukasi tidak bisa bertindak brutal jika tidak diperlakukan adil, tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal-hal yang sama, bagaimana jika itu menimpa keluarga saya, keluarga anda, apakah dianggap biasa-biasa saja?. Wanita harus diperlakukan mulia, tetapi malah seorang ibu ditelanjangi di tengah jalan dan viral seluruh seantero dunia,” jelasnya.

“Kami akan terus mengawal kasus ini, sehingga korban mendapat perlakuan seadil-adilnya meski selentingan info-info yang menyesatkan ada orang-orang besar yang mem-back up, kami percaya hukum berlaku adil,” tambah pemerhati wong cilik juga aktif di Divisi Perempuan Bravo 5 yang ketuanya tokoh wanita nasional Dr Nurmala Kartini Sjahrir Br Pandjaitan.

Sebelumnya, korban meminta keadilan kepada penegak hukum atas penganiayaan yang dialami enam bulan lalu, namun hingga saat ini belum menemui titik terang. Termasuk mencari dukungan dari berbagai pihak salah satunya menemui Bunda Syfa.

Diakui, korban secara khusus sudah meminta dukungannya secara pribadi sebagai tokoh perempuan maupun sebagai Koordinator Bravo 5 Wilayah Sulawesi.

“Yang bersangkutan, korban, sudah tiga kali meminta saya membantu memonitor kasus tersebut dalam kapasitas saya sebagai tokoh perempuan dan Korwil Bravo 5 Wilayah Sulawesi. Terakhir korban menemui Bunda di Majene 18 April 2021, Bunda ada agenda lain mengunjungi korban gempa di sana,” ungkapnya.

Bunda Syfa mengakui, kepedulian Bravo 5 terhadap korban ini, sejalan dengan asas dan tujuan pejuang Bravo 5.

“Asas pejuang Bravo Lima didirikan berasaskan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Sementara, tujuan didirikannya Bravo Lima adalah untuk mengawal, mendukung, dan membantu pemerintah untuk mencapai cita-cita NKRI dalam mengisi kemerdekaan yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur serta mengamankan NKRI dari ancaman politik identitas, intoleransi, terorisme, dan ancaman lainnya,” jelas SYF.

“Tidak salah jika ada warga yang tertimpa musibah dan berkesusahan, Insya Allah, Bravo 5 akan hadir di situ,” tambahnya.

Diketahui, istri seorang polisi di Mamuju, Provinsi Sulbar, Hj Syamsiar atau Jie Siar, meminta keadilan kepada penegak hukum atas penganiayaan yang dialami enam bulan lalu.

Jie Siar mengaku, dianiaya lima orang. Kejadiannya pada 1 November 2020 di tengah Jl Ahmad Kirang, Mamuju, tepat di depan Rumah Jabatan Wakil Bupati Mamuju. Bahkan, rekaman video kajadian itu viral di media sosial. Jie Siar nyaris ditelanjangi di tengah jalan oleh pelaku bernama Amriana Hamka dengan kerabatnya.

Awalnya, mereka janjian di media sosial Facebook dan benar-benar bertemuan dan duel. Namun, Siar mengaku, menjadi korban, karena dikeroyok dan wajahnya disiram lombok yang sudah diblender pelaku. Siar mengaku, telah melaporkan lima orang pelaku ke Polda Sulbar, dia menilai proses hukum yang berjalan tidak transparan. (*)