oleh

Pemerintah Belum Mampu Stabilkan Harga Kedelai

Editor :any Ramadhani-Ekonomi & Bisnis, Nasional

JAKARTA, RAKYATSULSEL.CO – Harga kedelai yang melambung masih menjadi sorotan publik. Pemerintah rupanya belum berhasil untuk menstabilkan harga kedelai.

Kenaikan harga kedelai diketahui membuat harga tahu dan tempe menjadi lebih mahal dari biasanya. Makanan sebagai panganan favorit masyarakat Indonesia. Pada awal Februari, harga kedelai naik menjadi Rp9.200.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan, kenaikan harga kedelai dunia, disebabkan dua negara produsen kedelai yaitu Brazil dan Argentina mengalami bencana alam dan menyebabkan terjadinya penurunan produksi.

“Produsen terbesar kedelai dunia itu paling besar Amerika dan Brazil, baru nomor tiga Argentina. Kebetulan Brazil dan Argentina itu terjadi musibah angin topan sehingga produksi menurun. Sementara produksi Amerika Serikat stabil,” ujar Aip kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (17/2).

Selain itu, kapasitas produksi yang berkurang, di mana kebutuhan Cina sebagai importir utama kedelai dunia justru naik signifikan. Pada kondisi normal impor Cina hanya 75 juta ton pertahun, namun saat ini naik hingga 100 juta ton per tahun.

“Cina pesan itu naik tinggi, dari kira-kira 75 juta ton per tahun impor di sana, sekarang sudah hampir 100 juta ton. Sedangkan Indonesia tahun lalu 2,6 juta ton. Artinya kalah dengan Cina, sehingga harga mahal,” ungkapnya.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra membenarkan. Menurutnya, dominasi Cina terhadap impor kedelai, menjadikan harga komoditas pangan itu naik.

“Sekarang kondisi lagi enggak normal. Sekarang kan karena Cina beli banyak, India dan lain-lain juga,” ujar Syailendra kepada FIN, kemarin.

Lanjut Syailendra, kondisi itu sebenarnya bisa diatasi jika para importir kedelai Indonesia berani melakukan pembelian untuk jangka panjang, misal untuk kebutuhan hingga tiga bulan kedepan.

“Karena mereka (Importir) enggak berani beli untuk long term. Kalau sampai tiga bulan ke depan misalnya, mereka kuatir, iya kalau nanti harga naik, kalau turun?,” tuturnya.

Terpisah, Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi Nasdem, Charles Meikansyah menilai, situasi di internasional yang menyebabkan terjadinya lonjakan harga kedelai.

Namun demikian, ia melihat upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dengan target-targetnya untuk mengatasi permasalahan kedelai, menurutnya sudah benar dan perlu didukung maksimal.

Kendati demikian, dia juga meminta Kementan untuk membenahi masalah rantai pasok. Ke depan, ia berharap ermasalahan kedelai berangsur akan pulih.

“Bisa menjadi solusi sebagai kebijakan alternatif, misalnya diberikan perbaikan sistem insentif ekonomi rantai nilai kedelai dari produksi di hulu, distribusi dan serta jaminan kepastian pasar di hilir,” pungkas Charles. (int/*)