oleh

Eks Cawalkot Tak Minat Pimpin Golkar

Editor : any Ramadhani, Penulis : Fahrullah-HL, Politik-

MAKASSAR, RAKYATULSEL.CO – Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Makassar rencananya akan digelar Februari mendatang. Sejumlah nama pun mulai dikaitkan untuk menjadi suksesor Farouk M Betta.

Jika bercermin pada Pilwalkot Makassar 2020 lalu, ada tiga kader Golkar yang jadi kandidat dan maju bertarung. Munafri Arifuddin, Syamsu Rizal, dan Andi Zunnun Nurdin Halid. Ketiganya bahkan dinilai layak memimpin Golkar Makassar.

Hanya saja, mereka nampaknya belum punya niat maju di Musda. Deng Ical–sapaan akrab Syamsu Rizal mengaku tak berpikir untuk maju sebagai Ketua DPD II Golkar Makassar. Alasannya, masih fokus sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Makassar.

“Masih ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan di tengah pandemi Covid-19. Tugas saya di PMI. Apalagi banyak sekali kesibukan mengurus bencana,” kata Deng Ical.

Apalagi lanjut Deng Ical, pendaftaran Ketua DPD II Golkar Makassar belum dibuka. “Biar bagaimana saya ini kader. Tapi intinya belum berpikir maju Musda. Semua pikiran dan tenaga masih fokus urus bencana,” tegasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Andi Zunnun NH. Ia mengatakan, meski dirinya sudah lama berkiprah di partai berlambang pohon beringin ini, namun dirinya tak berniat maju di Musda.

“Untuk sementara belum ada (niat maju Musda). Karena setelah Pilkada lalu saya langsung kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahan,” katanya.

Hanya saja kata dia, jika kelak nantinya ada pimpinan kecamatan (Pimcam) yang mendorongnya atau memberikan mandat, dirinya bersiap untuk maju. “Kita tunggu saja arahan DPD II, kalau sudah ada kami siap,” singkatnya.

Munafri Arifuddin alias Appi enggan memberi komentar saat dikonfirmasi. “Bentar ya sementara rapat,” ucap CEO PSM Makassar tersebut.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Golkar Makassar, Irianto Ahmad mengatakan pelaksanaan Musda rencananya digelar Februari 2021 mendatang. “Kita berharap Musda selesai pada bulan Februari,” ucapnya.

Irianto mengatakan, saat ini pihaknya akan membentuk kepanitiaan Musda. Nantinya panitia akan menyusun tahapan Musda sesuai dengan AD/ART Partai Golkar.

“Mungkin awal Februari, kita sudah buka pendaftaran calon ketua. Lalu selanjutnya Musda digelar di bulan yang sama Februari. Kita targetkan memang rampung di bulan depan,” jelas Irianto.

Para figur yang ingin maju di Musda lanjut Irianto, wajib mengumpulkan dukungan dari pemilik suara. Ini sebagai syarat bagi figur untuk mendaftar menjadi peserta musda. “Jumlahnya minimal 30 persen suara. Baru bisa menjadi peserta musda,” kata Irianto.

Irianto mengatakan, jumlah pemilik suara untuk musda Golkar Makassar berkisar 19 sampai 20 suara. Itulah yang akan diperebutkan para kandidat untuk bisa memenangkan partarungan ini.

“Jadi kandidat wajib memiliki enam sampai tujuh dukungan dulu untuk digunakan mendaftar. Jumlah itu sudah 30 persen dari total suara,” tandasnya.

Irianto menjelaskan, para pemilik suara di antaranya ialah para pimpinan kecamatan Golkar Makassar yang berjumlah 15 suara. Selanjutnya, organisasi didirikan dan mendirikan sayap partai, DPD I Golkar Sulsel, dan lainnya.

Irianto Ahmad mengingatkan pentingya membangun kembali paradigma Partai Golkar terutama militansi kader jelang pelaksanaan Musda. “Saat ini di butuhkan kebersamaan dalam membesarkan partai,saya tidak ingin ada lagi faksi di Partai Golkar Makassar, semua harus bersatu membesarkan Partai Golkar jelang Musda,” katanya.

Terkait figur-figur yang muncul, mantan Dirut PD Parkir Makassar itu tak ingin berspekulasi. “Kita belum buka pendaftaran, kalau sudah buka baru kita ketahui,” ucapnya.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Ali Armunanto menilai, kurangnya figur yang ingin maju di Musda Golkar Makassar menandakan bahwa Golkar tidak nyaman bagi kader-kadernya.

“Ini menunjukan jika Golkar tidak nyaman jika banyak kader tak bersedia mencalonkan diri,” katanya.

Menurut Andi Ali, ada hal-hal yang tidak nyaman di internal Golkar sehingga orang-orang yang memiliki potensi membesarkan partai tak memiliki ambisi besar. Seperti Syamsu Rizal dan Munafri Arifuddin.

“Yang menjadi pertanyaan besar mengapa bukan dia (maju). Mungkin ada persoalan internal yang tidak banyak diketahui banyak orang. Kalau tidak ada persoalan pastinya kader akan antusias dan mengajukan diri maju di Musda,” pungkasnya. (*)