oleh

Simalakama Roda Pemerintahan dan Penerapan Protkes Covid-19

Editor :Ashar Abdullah-Feature, HL

MAKASSAR menjadi episentrum pandemi Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), sampai hari ini jika merujuk data di laman situs “Sulsel Tanggap Covid-19” tercatat 662 pasien yang sedang dalam perawatan dari total kasus 1.508. Sementara itu Pemprov Sulsel masih terus melaksanakan pertemuan-pertemuan tatap langsung.

Dalam sehari ada dua sampai empat pertemuan yang dilakukan, misalnya pada, 26 November, ada empat rapat yang terselenggara, Gubernur sendiri menghadiri dua rapat yang berbeda: agenda pertama RUPS PT. Perusahaan Perseroan Daerah jam setengah delapan, agenda kedua jam sembilan, rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan, di Hotel Claro Makassar.

Tentu orang-orang yang ditemui oleh Gubernur pun berbeda. Bagaimana penerapan protokol kesehatannya? Dari tangkapan gambar yang ada, masker memang terpakai, tapi jaga jarak lebih dari satu meter tak terlihat. Jangan harap ada tes cepat Covid-19 sebelum memasuki ruangan.

Yang lebih parah, dalam acara rapat pengendalian dan evaluasi pelaksanaan program kegiatan pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan yang dirangkaikan dengan penyerahan DIPA bertempat di Hotel Claro, Senin 30 Nevember. Nampak ruangan dipadati tamu sehingga sulit untuk berjaga jarak. Mereka tetap mengenakan masker.

Bukan hanya itu, penerapan protokol kesehatan di hotel belum berjalan maksimal. Dalam acara tersebut pihak hotel masih menyediakan prasmanan dan menyediakan kue di setiap meja.

Padahal, sebelumnya Pemprov Sulsel, Satgas dan pihak hotel telah melakukan penandatanganan pakta integritas terkait ketentuan  pelayanan hotel dimasa pandemi.

Komitmen itu baru saja dilakukan pada Rabu (26/11) lalu, dalam pertemuan tersebut pihak hotel diminta untuk menghentikan pelayanan prasmanan dan mengganti dengan nasi dos/kotak.

Bahkan, waktu itu Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengaku akan memberi sanksi bagi hotel-hotel yang bandel.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Anggiat Sinaga bahkan hadir dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Swissbell.

Saat dikonfirmasi, Nurdin Abdullah, tidak berkomentar banyak. Ia bahkan tidak sadar jika pihak hotel menyediakan prasmanan, kemudian mengklaim bahwa yang disediakan hanya ‘kanrejawa’ alias kue.

“Tidak, hari Senin, 1 Desember mulai. Di seluruh hotel di Kota Makassar. Oh itu kanrejawa,” kilahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Ichsan Mustari, juga tak tahu menahu adanya penyediaan prasmanan oleh pihak Claro. Namun, ia berkilah dalam pelayanan makanan hotel ada dua versi, yakni menyedikan prasmanan tapi dilayani oleh pihak hotel, atau menggunakan kotak nasi.

“Kalau prasmanan mereka tidak ambil sendiri. Ada petugas ambilkan, prinsipnya terkait makanan di hotel tidak boleh berganti sendok. Jangan satu sendok dipegang sama 1000 orang,” ujarnya.

Ichan menegaskan, jika prasmananya berjubel maka ia akan langsung mengevaluasi.

“Kan ada saya punya staf diatas melihat, mereka (pihak hotel) juga sudah tandatangan pakta integritas, jadi mereka tentu patuhi,” ujarnya.

Ichsan juga mengklaim bahwa pelaksanaan rapat evaluasi tadi sudah sesuai protkes, dimana tamu mengenakan masker dan kapasitas orang yang ada dalam ruangan sudah sesuai, yakni 50 persen dari kapasitas normal.

Menerapkan protokol kesehatan dan tetap beraktivitas menjalankan roda pemerintahan sepertinya dua hal yang, mau tak mau ada tak diindahkan. Padahal, menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi adalah sebuah kewajiban, kalau harus dibilang mutlak perlu. Dan itu bukan hal yang menghambat roda pemerintahan untuk tetap menjalankan program-programnya, baik itu pemulihan eknomi ataupun pembangunan infrastruktur.

Disisi lain, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito melakukan konferensi pers perkembangan penanganan Covid-19, Senin 1 Desember. Ia menyebutkan, beberapa provinsi pada persentase kasus aktif dan kesembuhan. Pada minggu ini jumlah provinsi dengan angka kesembuhan lebih dari 80 persen dengan kasus aktif kurang dari 20 persen sebanyak 16 provinsi secara berutan. Dari Persentase kasus sembuh terbesar itu, Provinsi Sulsel berada pada posisi 3, yakni mencapai 89,59%;8,0.

Diketahui, berdasarkan data dari website Sulsel Tanggap Covid-19 per 1 Desember 2020, kasus akumulatif Covid-19 di Provinsi Sulsel telah terkonfirmasi: 20.804, sembuh: 18.600, meninggal: 497

“Saya mengapresiasi atas kinerja yang telah di tunjukkan oleh 16 provinsi ini. Capaian ini tentunya tidak mudah. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat ini pasti bisa maksimal lagi,” tuturnya

Namun, lanjut Prof Wiku, jika kita melihat lebih mendalam dari 7 provinsi teratas, maka Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan Bali mengalami penurunan kesembuhan dan peningkatan kasus aktif secara persentase.

“Saya meminta jangan sampai lengah. Terus massifkan 3T dan memaksimalkan penanganan serta disiplin protokol kesehatan untuk mempersempit penularan,” jelasnya.

Ketua Tim Ahli Data dan Epidemiologi Gugus Tugas Sulsel, Ridwan Aminuddin mengakui, proporsi memakai masker saat ini ada penurunan, dimana sebelumnya berada pada angka 82 persen di hari ke-238 (Kamis, 12 November), saat ini menurun pada posisi 78 persen untuk di lingkup Kota Makassar.

Lanjut Prof Ridwan, hal ini berdasarkan pada data tingkat kepatuhan individu dalam penggunaan masker dan jaga jarak se-Sulsel. Orang yang di pantau sekarang sebanyak 138.871, sementara total orang di pantau hingga saat ini sebanyak 2.463.520. Selain itu, titik yang dipantau hari ini 18.787. Sedangkan total titik yang dipantau 328.393.