oleh

Waspada Ledakan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Editor : Ridwan Lallo-Megapolitan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Gugus Tugas Covid-19 Sulsel khawatir adanya ledakan kasus di akhir tahun. Pasalnya dua momen besar, Pilkada dan juga libur panjang ada di bulan Desember mendatang.

“Jadi ini dua agenda yang kami sedikit khawatir jangan sampai ada pemicunya dan terjadi klaster baru di libur panjang dan Pilkada,” ucap Ketua Tim Ahli Data dan Epidemiologi Gugus Tugas Sulsel, Ridwan Aminuddin saat ditemui di Hotel Swissbell Makassar, Jumat (20/11).

Apalagi kata Ridwan, perkembangan kasus Covid-19 di Sulsel masih berfluktuasi. Sehingga virus corona masih berpotensi tersebar dimana-mana.

Saat ini, klaster libur panjang pada Oktober lalu sudah terlihat. Sementara klaster keluarga dan perkantoran masih tetap mendominasi angka Covid-19 di Sulsel. Akibatnya angka positivity rate yang sebelumnya diangka 3 persen, sekarang naik lagi menjadi 11 persen.

“Satu pekan terakhir ada kecenderungan meningkat sedikit tidak terlalu signifikan. Itu akumulasi dari liburan yang panjang, akumulasi klaster keluarga, dan kantor,” bebernya.

Dijelaskan Ridwan, untuk klaster perkantoran khususnya di Kota Makassar ada 20 jenis. Sehingga diharapkan adanya pendekatan massif. Tracing dan testing berbasis institusi akan digenjot untuk menjangkau orang-orang yang berpotensi tertular.

“Kalau ada ASN yang kena maka keluarganya nanti akan disisir, karena kalau terpapar di institusinya pasti dia bawa ke rumahnya,” ucapnya.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas ini menambahkan, di Makassar masih ada sekira 7000 yang tersuspek Covid-19, karena itu sangat penting melakukan pendekatan langsung institusi.

“Menurut Pemkot itu (testing dan tracing di kantor) sudah berlangsung. Tapi sekarang masuk ke fase kedua untuk lebih menggencarkan bom-bom tracing,” tambahnya.

Ridwan menambahkan, Satgas Covid-19 Sulsel sudah mengelola sekira 19600 kasus, yang aktif sebanyak 8,5 persen atau 1956 kasus tersebar di RS dan hotel wisata covid. Angka kesembuhan mencapai 89 persen, dan kematian 2,4 persen. (*)