oleh

Diskominfo Bantaeng Pelesiran Saat Pandemi, Aktivis : Program Siluman

Editor : Muhammad Alief, Penulis : Jejeth-Bantaeng, Daerah-

BANTAENG, RAKYATSULSEL.CO – Dinas Komunikasi, Informasi, Statistik dan Persandian (Kominfo SP) Bantaeng sebagai corong pemerintah dalam hal penyebaran informasi, khususnya seputaran covid-19 malah melakukan kunjungan di daerah yang terbilang risiko penularan virus corona.

 

OPD tersebut diketahui tengah berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada hari ini, Kamis (19/11) lalu.

 

Hal ini dibuktikan dengan beberapa postingan di sosial media pribadi Kepala Dinas Kominfo SP Syahrul Bayan. Bahkan, nampak ia memboyong sejumlah bawahannya ke sana.

 

Sejumlah pegawai di Diskominfo juga membenarkan keberangkatan Syahrul Bayan ke Yogyakarta.

 

Penerbangan ke daerah zona berisiko tertular covid-19 itu disebutkan dalam rangka kunjungan kerja.

 

Kepala Dinas Kominfo SP, Syahrul Bayan yang dikonfirmasi malah mengarahkan untuk ke Kabid Humas. Padahal ia adalah Kepala Dinas yang memiliki tanggung jawab lebih besar dari pada seorang Kabid.

 

“Bisa dikonfirmasi langsung ke ibu Kabid Humas ya. Selengkap kegiatannya,” singkatnya.

 

Sementara itu, Ketua Pemuda LIRA Bantaeng, Yusdanar merasa miris melihat tata laksana Dinas Infokom. Dia membeberkan bahwa tidak adanya koordinasi Kadis dengan Sekretaris Dinas terkait masalah program dalam dinas itu.

 

“Intinya kami sangat menyayangkan kejadian di mana sekdisnya sendiri tidak tahu-menahu dengan program studi ini dan patut diduga kalau benar sekdis tidak mengetahui program ini maka diduga program ini seperti program siluman,” katanya.

 

“Dan saya meminta Bupati Bantaeng mengevaluasi kadis Infokom karena yang menjadi pertanyaan publik yang bertanda tangan atau minimal memberi paraf pada surat perjalanan dinas atau surat tugas staf yang pergi itu siapa ? dan apakah Kadis mempunyai surat tugas untuk ikut dalam kegiatan itu ?,” tambahnya.

 

Yusdanar juga meminta agar ketika Diskominfo Bantaeng kembali untuk langsung dikarantina. “Wajib (dikarantina) sebab Yogyakarta masih masuk zona merah,” tegasnya.

 

 

Seperti diketahui, berdasarkan data Pemda DIY, selama dua pekan di bulan November ini, kasus Covid-19 bertambah 676 kasus. Jika dirata-rata, 48 warga DIY terpapar Covid-19 per hari – tertinggi bila dibanding rata-rata harian kasus bulan-bulan sebelumnya.

 

Rekor tertinggi kasus harian sebelumnya, yakni pada 29 Oktober dengan 82 kasus, juga dipatahkan dengan temuan kasus baru pada 5 November, yakni 168 kasus yang didominasi oleh kasus di pondok pesantren di Krapyak, Bantul.

 

Pada 12 November, ada tambahan 79 kasus harian yang menjadi peringkat ketiga untuk kasus harian selama delapan bulan pandemi di DIY.

 

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium pada Sabtu (14/11) menemukan tambahan 51 kasus positif dari 533 orang yang diperiksa.

 

“Total kasus positif Covid-19 di DIY menjadi sebanyak 4.511 kasus,” ujar Bety Murtiningsih lewat pernyataan tertulis belum lama ini. (*)