oleh

Jika Usungan PDIP di Pilwalkot Makassar Kalah, Gubernur Nurdin Abdullah Ikut Tanggung Malu

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Meski dibantah, hanya saja publik saat ini sudah mengetahui bahwa arah dukungan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah belum tentu memenangkan calon usungan PDIP di pilkada Makassar 2020.

Kabar terbaru, Nurdin Abdullah mengarahkan dukungan kepada calon bukan kader PDIP. Tentu saja, jika usungan PDIP gagal menang di pilkada Makassar, maka Nurdin Abdullah selaku kader PDIP akan ikut menanggung malu.

Pasalnya tidak mampu memberikan konstribusi memenangkan jagoan PDIP. Apalagi di Makassar, ada kader PDIP maju bertarung yakni Fadli Ananda berpasangan Syamsu Rizal.

Kabar saat ini Gubernur Nurdin Abdullah tak lagi berpihak ke paslon Dilan. Orang nomor 01 Sulsel itu dikabarkan condong mendukung calon lain, ketimbang kader PDIP.

Bagaimana tanggapan pengamat. Direktur Parameter Publik Indonesia ( PPI), Ras MD mengatakan, mestinya sebagai kader PDI Perjuangan, Gubernur Nurdin Abdullah harus patuh dengan segala keputusan parpol, termasuk keputusan PDI Perjuangan mengusung pasangan deng Ical-Fadli Ananda atau akrab dengan akronim DILAN.

“Bukan mendukung pasangan lain. Kita tau saat mendukung memang lepas dari jabatan pemerintahan. Tentu kalau kalah usungan PDIP, pak Gubernur Nurdin Abdullah akan dinilai bermacam-macam presepsi,” ujarnya, Kamis (5/11/2020).

Menurutnya, sebagai kader PDI Perjuangan, Gubernur Nurdin Abdullah tidak punya alasan untuk tidak mendukung pasangan ini. Kecuali beliau ingin berhijrah ke parpol lain, ya itu hak politik beliau.

Sama halnya SYL di waktu Pilgub lalu. Beliau karena tidak sejalan dengan keputusan Partainya, akhirnya beliau berpindah ke NasDem.

“Tapi sangat disayangkan jika Pak Nurdin Abdullah mengikuti jejak pak SYL. Waktu itu pak SYL pindah Parpol, karena punya alasan kuat. Kalau Pak Nurdin Abdullah, saya pikir sama sekali tidak ada alasan yang sangat prinsip,” tuturnya.

Dia menilai, Nurdin Abdullah mestinya mengingat jasa-jasa PDI Perjuangan. Partai yang sangat besar kontribusinya atas kemenangannya di pilgub 2018 lalu.

“Ya, seyogyanya beliau juga harus punya andil besar terhadap kemajuan partainya sendiri di Sulsel termasuk menyambut Pilkada 2020 mendatang,” jelasnya.

MD Ras menambahkan, PDI Perjuangan itu partai besar yang sedang berkuasa. Tentu partai sekelas PDI Perjuangan punya sistem evaluasi yang sangat kuat ditiap momen politik. ia tahu kader yang patuh terhadap keputusan Partai dengan kader yang tidak patuh dengan keputusan Partai.

“Jika rumor soal Pilgub mendatang menjadi pertimbangan beliau mengalihkan dukungan diluar kader PDI Perjuangan, itu pertimbangan yang cukup keliru. Emangnya beliau tidak yakin lagi dengan PDI Perjuangan sebagai partai besar yang sedang berkuasa?,” pungkasnya.

Diketahui, dalam video sangat viral. Kader PDIP membelot, Gubernur Nurdin Abdullah tinggalkan Dilan, balik Arah ke Appi-Rahman.

Salah satu Kader terbaik PDIP yang juga Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dikabarkan beralih dukungan ke paslon nomor urut 2 Appi-Rahman di Pilkada Makassar.

Beberapa bukti memperlihatkan bahwa mantan Bupati Bantaeng dua periode itu lebih cenderung ke Appi-Rahman ketimbang Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Dilan).

Seperti video berupa rekaman suara beredar di media sosial baru-baru ini pendukung Appi-Rahman yang juga Sekretaris Camat Ujung Tanah Andi Syaiful mengaku mendapat ultimatum dari Gubernur Sulsel untuk memilih calon nomor urut 2.

“Jadi apa yang disampaikan oleh pak camat itulah ultimatum dari Pak Gubernur apalagi Pak Pj Wali Kota sekarang adalah perpanjangan tangan dari Bapak Gubernur, harapannya adalah bagaimana pesta demokrasi dimenangkan oleh Walikota yang bersinergi dengan Gubernur,” kata Syaiful dalam rekaman suara tersebut.

Melihat peristiwa tersebut, besar dugaan Nurdin Abdullah yang notabene adalah kader partai pengusung Dilan tidak konsisten memenangkan usungan partainya.

Seharusnya Nurdin Abdullah lebih getol memperjuangkan pasangan Syamsu Rizal dan Fadli Ananda yang merupakan usungan dari partai besutan Megawati Soekarno Putri.(*)