oleh

Jangan Terpedaya “Survei Pesanan”

Editor : Lukman-HL, Pilkada-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Menjelang Pilkada 2020, sejumlah lembaga survei berlomba-lomba “menerawang” siapa yang nanti berjaya.

Beberapa lembaga survei secara konsisten merilis hasil “terawangan” mereka hampir setiap bulan. Masing-masing dari lembaga survei tersebut mengklaim bahwa hasil yang diperoleh sudah mendekati keadaan di lapangan.

Variabel yang sering disebut dalam hasil survei berupa elektabilitas juga dipandang sebagai hegemoni politik atas lawannya sekaligus psy war apabila dilaporkan lebih tinggi. Sebaliknya, pihak yang merasa “dirugikan” menganggap apa yang disajikan lembaga survei adalah sebuah “survei pesanan”.

Anggapan bahwa semua yang dilaporkan sudah diatur sedemikan rupa sehingga menempatkan pihak lawan yang seolah-olah menang atas diri mereka. Bahkan, metode yang digunakan dianggap “salah” sehingga hasil yang muncul tidak sesuai kondisi real. Kredibilitas lembaga survei pun jadi taruhannya.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indo Supporting Idea (Inside) Nurcholish tidak menampik sebuah survei adalah pesanan. Hanya saja, hasil yang akan disajikan berdasarkan data statistik.

“Survei itu lumrah. Ada yang by order dan independen (menggunakan biaya sendiri),” ucap Nurcholish, Selasa (15/9).

Sejatinya, kata Nurcholish, data survei yang disajikan ke pemesan hanya sebatas menambah wawasan peta elektoral secara umum. Selanjutnya, tujuan lain menggunakan lembaga survei tergantung dari lembaga survei itu sendiri.

“Tujuan kandidat memesan survei untuk peroleh wawasan elektoral dan itu saya kira lazim,” katanya.

Menurut Nurcholish, data survei yang dilakukan itu harus sifatnya objektif. Sebab, jika hasil survei yang diberikan berdasarkan subjektif maka hal itu akan terjadi penyimpangan data dan berimplikasi tidak baik.

“Kepuasan itu, perusahaan yang lakukan survei memberikan hasil objektif. Bukan menyesuaikan ekspektasi pemesannya,” paparnya.