oleh

Tumben Prof Yusran Legowo

Editor : Lukman, Penulis : Al Amin-HL, Megapolitan-

*Tak Diizinkan Terapkan New Normal

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Pj Wali Kota Makassar, Prof Yusran Yusuf kali ini legowo. Pemerintah pusat tak mengizinkan Makassar menerapkan sistem New Normal atau hidup secara normal sesuai standar kesehatan WHO.

Sejak dilantik 13 Mei 2020 lalu, Prof Yusran memang kerap “melawan” dari kebijakan pusat. Saat MUI mengimbau agar masyarakat salat Idulfitri di rumah, Prof Yusran justru membolehkan di masjid. Tentu dengan syarat.

Belum lagi statemen Pj Wali Kota Makassar yang mengizinkan menggelar resepsi pernikahan di tengah pandemi Covid-19. Hal itu sontak mendapatkan teguran keras Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah.

“Hasil evaluasi pusat, bahwa kita secara formal belum bisa menerapkan new normal,” ujar Yusran, saat melakukan konferensi pers di posko penanggulangan covid19 Makassar, jalan Nikel, Makassar, Kamis (28/5).

Padahal, mantan dekan fakultas kehutanan Unhas ini sebelumnya sangat menggebu-gebu ingin menerapkan new normal di Makassar, namun karena standar dari rumus persebaran penularan covid masih tinggi, akibatnya tidak mendapatkan izin dari pemerintah pusat.

“Arahan presiden adalah memperketat penerapan protokol kesehatan. Karena penerapannya harus RO-nya dibawah 1, nah kita ini masih 1,3 (sesuai rumus pandemi covid19). Jadi Kita harus intens lagi. Hasil investigasi Pusat, Makassar belum bisa terapkan new normal,” jelasnya.

Untuk mempercepat mendapatkan hasil RO di bawah 1, maka hari ini Jum’at (27/5) Pemkot Makassar akan menggelar evaluasi menyeluruh di lapangan terkait penerapan Perwali nomor 31 tahun 2020 tentang pembatasan aktivitas di luar rumah.

“Oleh karena itu, kegiatan besok (hari ini red–) mempercepat supaya bisa melakukan new normal. Langkah kita besok bagian dari itu. Sekalian mengingatkan masyarakat,” tutur Yusran.

Langkah evaluasi lapangan yang dilakukan yakni mengecek penerapan standar kesehatan oleh WHO sesuai yang tercantum dalam perwali, pada setiap tempat perbelanjaan, atau mall.