oleh

Fadeli Luran, Merangkai Iman Umat (Bagian 17)

Editor : Lukman-Profil-

Jahr-Sirr

PADA tahun 2000, saya pindah masjid. Pasalnya, terjadi kegaduhan tentang tata cara pembacaan basmalah saat shalat. Satu kelompok menginginkan basmalah dikeraskan (jahr). Golongan kedua berteguh agar bersuara pelan (sirr).

Saya berada di kafilah kedua. Tatkala naik haji, saya tak mendengar lafal basmalah Syekh Abdul Rahman as-Sudais. Di buku-buku juga diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak mengeraskan lafaz basmalah.

20 tahun kemudian, saya pindah rumah seraya pindah masjid. Marbot sempat mempertanyakan lafal basmalah yang tak dikeraskan. Saya langsung merasa bahwa ia tidak memperkenankan lagi saya imam. Saya akhirnya cari lagi masjid. Di samping sirr, usai memimpin shalat, saya tak mau berjabat tangan dengan makmum. Saya tidak pernah menemukan teks yang menerangkan Maharasul Muhammad berjabat tangan dengan jemaah usai shalat.

Pro-kontra basmalah begitu tajam serta berlarut-larut. Tak ada otokritik jemaah demi meningkatkan nilai epistemik secara faktual dan empiris. Tidak diketahui pasti apakah ini mirip dengan pendukung Donald Trump. Seperti dilansir banyak media, mayoritas pendukung Trump ketika Pemilu 2016, berasal dari tingkat pendidikan rendah. Grup anti-rasional kerap takabur dengan ilmu yang minus. Ini sejalan dengan ungkapan David Dunning bahwa mereka gagal memahami kejanggalan sebagai kesalahan.

Kemajuan sains serta teknologi sesungguhnya memudahkan sengketa jahr-sirr diselesaikan. Membuncah informasi yang mengarah ke Ali bin Abi Thalib. Narasi menukilkan bahwa Ali bin Abi Thalib memilih sirr dalam perkara basmalah. Ali bin Thalib pasti meniru cara baca Rasulullah. Sebab, ia diasuh sejak kecil dan menantu sang Nabi. Ali bin Abi Thalib malahan tertoreh sebagai orang terbaik keempat di dunia Islam.

Kemelut jahr-sirr menegaskan bahwa ada misinformed (salah informasi). Ini akibat wadah menimba ilmu bukan figur yang berkompeten. Ustaz poorly informed (kurang informasi) pasti melahirkan santri idiotlogi.

Ini belum seberapa. Ada yang belajar di Internet lantas merasa diri memahami seluruh persoalan. Ia berkeras tuturannya berhak didengar publik. Mendesakkan petisi supaya dikeluarkan fatwa. Ia seolah lebih hebat dibandingkan Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i atau Imam Hambali. Inilah yang disebut oleh Tom Nichols sebagai “the death of expertise”, matinya kepakaran gara-gara segelintir idiot yang merasa pintar.

Zaman Nabi

Saya menilai filosofi IMMIM merupakan proses santrinisasi masyarakat ultra-mutakhir yang berkarakter saintifik-industrial. Fadeli Luran melakukan vaksinasi berupa intensifikasi kultur religius terhadap kaum Muslim. Proses ini bakal terus berlangsung selama interpretasi fikih tak kembali ke khittah, karakteristik khas ajaran langit ketujuh.

Di era nabi, segala perbedaan cepat teratasi berkat Rasulullah. Perbedaan tidak destruktif di kalangan umat. Pihak yang bertikai bisa didamaikan atas dasar kepuasan bersama. Hingga, aneka perbedaan tak mengakibatkan perkembangan terhambat (blocked).

Kini, perbedaan justru gampang meruncing. Bahkan, berujung untuk saling memusnahkan.

Jika motto IMMIM sudah tidak dibutuhkan, berarti tak ada lagi sengketa furu’iyah serta khilafiah. Semua seragam demi menggapai kualitas ibadah secara gigantik. Dan itulah cita-cita luhur Fadeli Luran, “dunia tanpa furu’iyah serta khilafiah”. (Selesai)

Oleh : Abdul Haris Booegies dan Daswar M Rewo