oleh

Anak Penderita Gizi Buruk di Jeneponto Tak Punya Biaya

Editor :Iskanto , Penulis : Jejeth-Daerah, Jeneponto-

JENEPONTO, RAKYATSULSEL.CO – Dia adalah Ibu Ani, buah hatinya penderita gizi buruk ini menangis lantaran tak punya uang belanja untuk kebutuhan hari – hari membeli makanan di Rumah Sakit Lanto Daeng Pasewang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Ibu Rumah Tangga (IRT) yang menghidupi dua orang anak itu mengaku tidak pernah membeli makanan sendiri selama di RS tersebut.

Bahkan hampir tidak makan lantaran tidak punya uang belanja. Ia hanya berharap belas kasihan dari orang lain yang kebetulan satu kamar di ruang rawat inap anak, Lontara 2.

“Saya sudah dua hari di rumah sakit ini. Saya masuk hari Jum’at kemarin ditemani oleh Ibu Hajja Murni yang Kepala Puskemas Bulusibatang karena anakku gizi buruk. Saya juga hampir tidak makan karena tidak ada uangku untuk beli makanan,” ucap Ibu Ani sedih, Senin (27/1).

Warga dari Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba itu, mengatakan sejak anaknya dirawat di RS Lanto Daeng Pasewang tak satupun dari sanak keluarganya yang datang menjenguk.

“Saya punya anak dua orang. Anakku yang pertama lagi sekolah, sekarang sudah kelas 4 SD. Selama adeknya di rumah sakit, saya tidak tahu lagi anakku yang pertama itu tinggal dimana dan dia makan di mana. Saya tidak tahu siapa yang ngurus kalau mau pergi ke sekolahnya,” ucap Ani dengan mata berkaca – kaca.

Meskipun, bayi tersebut dijamin di RS Lanto Daeng Pasewang selama proses penyebuhannya. Namun, Ibu Ani sangat merasakan penderitaan. Karena kebutuhan untuk makan hari harinya tidak terjamin. Jangankan uang 20 ribu rupiah. Baginya uang senilai 10 ribu rupiah saja sangat berarti sekali.

Ia juga cukup khawatir dengan keadaan anaknya yang pertama, Mantang (14). Ia berharap agar anaknya yang satu itu ada disamping pangkuan ibunya di RS menemani adeknya yang masih diinfus.

“Kalau suamiku (Sane) sudah meninggal dua bulan lalu, jadi saya sisa bertiga. Selama dua hari di rumah sakit belum ada keluargaku yang datang menjenguk,” kata dia.

Dikatakan Ani, mengenai makanan hari hari, ia peroleh dari teman sekamarnya. Kadang dikasih biskuit kadang juga dikasih nasi kalau kebetulan ada.

“Makanan saya biasa dikasih sama orang. Itupun kalau kebetulan ada. Kalau tidak ada saya diam saja,” terang Ibu Ani.

Ibu Ani yang hanya pasrah melihat kondisi bayinya. Ia berharap agar mendapat perhatian dari pemerintah dan uluran tangan dari para dermawan.

Diketahui, Ibu yang menghidupi dua orang anak itu, kesehariannya tak menentu. Ia bekerja sebagai buruh tani dengan upah seadanya. (*)