oleh

eLSIM dan JaDi Sulsel Bahas Perlindungan Hukum Bagi Perempuan & Anak

Editor : Muhammad Alief, Penulis : Suryadi-Megapolitan, pendidikan, Politik-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Ditengah perdebatan mengenai pembahasan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) yang banyak menimbulkan pro-kontra ditengah masyarakat, NGO eLSIM dan Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDi) Sulsel, menggelar diskusi, di Kantor eLSIM, Jl A. P. Pettarani III C, Makassar, Rabu (20/11).

Diskusi ini di hadiri oleh Dr. Kunthi Tridewiyanti, SH, MA (Ketua Pusat Kajian Hukum Adat Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta), yang membahas tentang “Perlindungan Hukum dan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”.

Kunthi menjelaskan, mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sudah mengakar di tengah masyarakat Indonesia. Kekerasan yang dialami adalah fisik, seksual psikologis dan penelantaran ekonomi.

“Kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis kerap dilakukan oleh personal dan rumah tangga, komunitas bahkan negara,” ujarnya.

Menurut, Kunti, kekerasan seksual yang sering terjadi di Indonesia, salah satunya adalah kekerasan seksual berbasiskan budaya.

Dimana yang dimaksud dengan kekerasan seksual berbasiskan budaya ialah pemaksaan perkawinan usia dini, banyak sekali terjadi di Indonesia terkhususnya di wilayah Sulawesi Selatan itu sendiri.

“Kebanyakan mereka yang melakukan kekerasan tersebut dalam hal ini kekerasan seksual tidak mengetahui dan tidak sadar akan hal itu termasuk dalam tindak pidana,” tutur Kunthi.

Di akhir diskusi pembicara memberikan motivasi terhadap peserta yang hadir, khususnya dari kalangan mahasiswa untuk selalu belajar dan diskusi mengenai segala hal.

“Belajarlah banyak perspektif khususnya HAM dan Gender karena penting sekali agar pemahaman kita tidak sempit dan perlakuan kita akan semakin baik,” demikian saran dia.

Diskusi ini mendapat respon dari berbagai peserta umum kalangan mahasiswa. Menurut Muslim, peserta Fak Hukum Universitas UMI Makassar, banyak masyarakat yang salah kaprah mengenai pernikahan usia muda. Salah satunya adalah ketika sudah baliqh dianggap matang usianya dan bisa menikah.

“Banyak diantara kita beranggapan bahwa jika perempuan sudah memasuki masa menstruasi maka sudah siap untuk menikah dan sudah aqil baligh. Sementara yang aqil baligh itu sendiri mempunyai 3 fase dan fase menstruasi pada perempuan baru di fase pertama dan bukan fase kesiapannya untuk menikah,” terang Muslim.

Diskusi ini banyak dihadiri oleh mahasiswa di lingkungan Makassar. Diskusi kali ini diakhiri dengan pemberian cinderamata dari pihak eLSIM kepada pembicara dan penyerahan buku dari pembicara kepada pihak eLSIM.