oleh

Polda Tetapkan Dua Tersangka Baru Dugaan Penggelembungan Suara Rahman Pina

Pemilihan Legislatif 2019

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Tim Penyidik Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulsel dalam hal ini Polda Sulsel kembali menetapkan dua tersangka baru pada kasus tindak pidana pemilu dengan cara melakukan penambahan suara terhadap Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Sulsel Daerah Pemilihan (Dapil) 1 atau Makassar B, Rahma Pina.

Kedua tersangka tersebut, yakni Firman selaku Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Biringkanayya dan Barliansyah sebagai Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Kelurahan Karampuang, Kecamatan Panakkukang.

“Iya benar (tersangka baru) ada dua,” kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, saat membeberkan perkembangan kasus ini, Jumat (12/7/2019).

Untuk peran kedua tersangka baru tersebut, menurut Dicky, seperti halnya lima tersangka lain yang lebih dahulu menjadi tersangka. Yaitu Umar sebagai Ketua PPK Kecamatan Panakkukang dan Adi Ketua PPK Kecamatan Biringkanaya. Keduanya dinilai berperan lalai dalam pengawasan saat pelaksanaan penghitungan perolehan suara Pemilu, sehingga penetapan suara tidak sesuai antara C1 dari TPS dengan DAA1 yang dikeluarkan oleh PPK.

Kemudian, Fitri PPS Kelurakan Panaikang yang berperan meminta kepada pengimput untuk mengubah suara dengan cara mendapatkan imbalan. Lalu, Rahmat selaku operator KPU Kecamatan Biringkanaya telah mengubah suara dari inputan dan mendapatkan upah berupa uang dan Ismail PPS Kecamatan Panakkukang berperan mengubah suara pada formulir DAA1.

“Semua perubahan suara tersebut menguntungkan caleg nomor 5 Partai Golkar (Rahman Pina) dan caleg yang dirugikan diambil perolehan suaranya adalah caleg nomor 1 (Imran Tenri Tata Amin),” sebutnya. (****)