oleh

Sulsel Masuk Enam Besar Penderita Gizi Buruk

Editor :Iskanto-HL, Info Rakyat, Kota, Megapolitan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Angka gizi buruk dan kekurangan gizi di Sulsel masuk tertinggi ke enam secara nasional di Indonesia. Persentasenya yakni, 4,9 persen balita mengidap gizi buruk dan 17,9 persen balita berstatus gizi kurang. Keduanya berada di atas rata-rata persentase nasional.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA) membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, meskipun angka tersebut menurun, pola kesehatan di Sulsel masih cukup miris. Kesadaran masyarakat juga masih minim. Itu karena fasilitas kesehatan tidak menyentuh semua sektor. Termasuk untuk orang kurang mampu, mereka susah berobat.

“Memang miris. Saya ke daerah, ada bayi yang meninggal karena kurang gizi. Belum lagi untuk ibu, meninggal karena keguguran,” kata Nurdin.

Sejak tahun 2016, angka gizi buruk dan kekurangan gizi di Sulsel mencapai 156 kasus, berkurang di tahun 2017 yakni 97 kasus. Hanya saja untuk data angka gizi buruk di tahun 2018, baru akan di data di akhir tahun.

Belum lagi dengan maraknya pernikahan dini di Sulsel. Kata Nurdin, masalah sosial ini bisa mengakibatkan tingginya angka kematian anak dan ibu, juga pravelansi stunting. Makanya, perlu kesadaran untuk menekan angka pernikahan dini.

“Kita prihatin. Ini ancaman bagi generasi kita. Mereka tidak boleh lagi menikah dini, ini perlu menjadi perhatian bagi semua pihak,” lanjutnya.

Pemprov Sulsel ke depan, mencoba untuk membangun sebuah sistem kerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota. Disamping itu dirinya berharap inovasi di bidang kesehatan terus berkembang.

Salah satunya mengikuti program Pemkot Makassar, Home Care dan menambah armada kesehatan. Pemprov juga merencanakan pembangunan RS regional di enam daerah.

“Ada program seperti Home Care, cukup di telpon dan datang. Ini kita upayakan bisa dapat hibah ambulance dari Jepang karena kita tidak mampu beli,” ungkap NA.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Bachtiar Baso menambahkan, angka gizi buruk di Sulsel terus menurun setiap tahun.

Keberhasilan menekan kasus gizi buruk dikarenakan adanya kolaborasi penanganan dengan stakeholder lainnya yakni melalui program penyebarluasan taburia semacam serbuk yang memiliki kandungan multivitamin dan multimineral, pelatihan kader posyandu, pemberantasan program kemiskinan, penyelarasan program gerakan masyarakat sehat hingga ke tingkat daerah.

“Yang dulunya ratusan, kini puluhan. Dan ini kita bisa tekan terus,” kata Bachtiar.

Program menekan kasus gizi buruk di Sulsel menurutnya masih mengalami kendala, yakni kurangnya koordinasi antara dinas kesehatan dengan stakeholder terkait. (*)