oleh

Kandidat “Mission Impossible” Beri Isyarat Lewat Independen

Editor :rakyat-admin-Berita, HL

Pakai Baju Kotak-Kotak, Garuda’Na Protes KPU

Nilai Persyaratan Calon Independen Berlebihan Dan Manipulatif

 

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR-Tren baju kotak-kotak ala Jokowi, rupanya ditiru pasangan Rudiyanto Asapa-Andi Nawir (Garuda’Na). Saat menggelar jumpa pers, Kamis (9/8) kemarin, di kediaman Rudiyanto Asapa, Jl Nikel, balutan baju kotak-kotak menempel di tim pemenangan Garuda’Na.

Juru bicara Garuda’Na, Nasrullah Mustamin dan Wakil Ketua DPD Gerindra Ir Yarifai Mappaty yang tampil di depan wartawan menjadi pusat perhatian.

Sayangnya, bukan kabar baik yang disampaikan. Acara jumpa wartawan itu dimanfaatkan tim Garuda’Na untuk memprotes persyaratan KPU yang mewajibkan calon perseorangan dalam pilgub Sulsel untuk mengumpulkan sebanyak 392.066 dukungan KTP/KK.

Angka tersebut dianggap kubu Garauda’Na berlebihan dan terkesan manipulatif. Apakah ini sinyal Garuda’Na menyerah, angkat bendera putih, kemudian memilih jalur independen atau perseorangan sebagai jalan terakhir?

“Kami tahu proses masih berjalan. Namun, kami harap KPU bisa menjaga independensinya, karena penduduk Sulsel yang menghampiri sepuluh juta, itu sangat besar. Kami ingin seluruh pihak, baik itu BPS, KPU, Pemprov dan masyarakat secara umum,   mengklarifikasi akan banyaknya jumlah penduduk ini,” tegas Yerifai.

Bagi Yerifai, tingginya angka penduduk itu bisa jadi karena hitungan yang dimark up. Dia mewarning semua pihak agar tidak main-main dengan angka. Itu karena kubu Garuda’Na akan mengambil jalur hukum. Sebab, data penduduk tersebut bisa me-mark up data yang berimplikasi pada mark up anggaraan untuk pembiayaan pilgub.

Hal senada disampaikan Nasrullah. Ia mengatakan, dukungan sebesar 4% dari jumlah penduduk yang telah diserahkan Pemprov Sulsel beberapa waktu lalu sebanyak 9.801.634 jiwa, sangat perlu dikritisi dan dicari kebenarannya. “Ya, data penduduk bisa jadi dimark up. Ini yang harus diwaspadai dari sekarang. Karena sangat rawan dimanfaatkan. Apalagi, dalam konteks pilgub, sampai pada hal-hal terjauh, kami tak ingin ada pemilih ganda, atau ada suara hantu dalam pilgub,” tegasnya.

Baginya, angka-angka tersebut harus disesuaikan dengan pendataan yang betul-betul faktual. Diharapkan, KPU nantinya mengoptimalkan pemutakhiran data pemilih agar tingkat akurasinya tak dipertanayakan lagi.

Nasrullah mengingatkan, sebagai bahan pertimbangan bahwa pendataan e-KTP akan berakhir pada bulan sepuluh tahun ini. Itu berarti, KPU akan melihat berapa sebenarnya penduduk yang ada di Sulsel.

Nasrullah kembali mengingatkan agar KPU jangan main-main. Pasalnya, proses e-KTP sedang berjalan. Jangan sampai, kata dia, terjadi range yang cukup jauh antara data penduduk riil dan data pemprov yang diserahkan ke KPU. “Data pemprov harus mengikuti angka riil yang memiliki KTP. Sebab, kita belum tahu bagaimana pemprov memperoleh data,” tegasnya.

Sementara itu, jumpa pers dadakan Garuda’Na yang memprotes KPU soal jumlah dukungan KTP itu, pun langsung memantik spekulasi. Sejumlah kalangan menilai, calon “mission impossible” ini, terindikasi bakal lewat jalur independen. “Kayaknya sudah sulit itu,” tandas beberapa politisi di sebuah warkop, sambil tertawa. Dugaan kuat mengarah pada ketidakkompakan partai nonparlemen di belakang Garuda’Na. Itu juga karena sebagian partai nonparlemen telah “di-knok out” pasangan Sayang dan IA. Betulkah spekulasi itu? Wallahu alam. Kita tunggu saja.  (RS11/D)

Komentar