oleh

Sudah Bekerja, Pemerintah Masih Dinilai Lamban

Editor : rakyat-admin-Berita-

 Tangani Banjir Bandang Di Tiga Kabupaten

Warga Masih Terisolir, Butuh Beras Dan Air Bersih

 

RAKYAT SULSEL . LUWU – Pascabanjir bandang yang melanda tiga kabupaten, Luwu, Sidrap, dan Wajo, warga sangat membutuhkan uluran bantuan beras dan air bersih. Khususnya, mereka yang masih terisolir akibat beberapa jembatan penghubung antardesa yang terputus.

Pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulsel, dinilai masih lamban menyalurkan bantuan ke daerah-daerah terilosir itu.

“Kalau bisa, kami butuh bantuan beras dan air minum. Kami juga  tidak bisa memasak air untuk minum karena kayu bakar basah. Sementara kami tidak punya kompor,” lirih Agus, warga Desa Dadeko, Larompong Selatan, Luwu, kemarin.

Selain kesulitan beras dan air bersih, puluhan ton gabah kering milik petani dua kecamatan di Luwu; Larompong Selatan dan Suli, terancam rusak dan tidak bisa diolah lagi menjadi beras.

Sejumlah petani mengaku merugi dan berharap adanya bantuan dari pemerintah setempat.

Ahmad, petani di Desa Larompong Selatan mengatakan, gabah miliknya yang dikemas dalam karung dan disimpan di pekarangan  rumahnya, tidak bisa lagi digiling menjadi beras. Pasalnya, sudah rusak setelah terendam air.

“Kami tidak sempat menyelamatkan gabah. Karena malam itu yang ada dalam benak kami adalah mencari selamat dari terjangan air yang cukup deras,” ucapnya, sedih.

Untuk sementara ini, Ahmad bersama keluarganya hanya bisa berharap uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Luwu. Karena, saat ini, yang paling dibutuhkan adalah bahan pangan untuk menyambung hidup.

“Kalau bisa kami butuh bantuan beras dan air minum,” harapnya.

Akibat peristiwa itu, petani yang ada di Larompong Selatan dan Suli, mengaku mengalami kerugian puluhan bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Pemerintah sendiri mengaku telah bertindak cepat menangani bencana banjir bandang yang melanda tiga kabupaten ini. Relawan langsung diturunkan, termasuk menyalurkan bantuan logistik untuk para korban.

Bahkan, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta sesegera mungkin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulsel untuk turun secepatnya ke lokasi secepatnya pula memberikan bantuan atau bentuk intervensi di lapangan.

“Saya sudah berkali-kali diminta oleh Pak Gub (SYL) untuk tetap turun ke lokasi,” ujar Kepala BPBD Sulsel, Mappagio saat berada di Sidrap, Minggu (8/7).

Mappagio mengatakan, BPBD Sulsel bersama Pemkab setempat setiap saat melakukan koordinasi. Bahkan, BPBD, lanjut Mappagio, telah melakukan kaji cepat, yakni suatu SOP dalam menangani bencana di wilayah tertentu.

“Dalam waktu dekat, bantuan dari berbagai pihak juga akan segera kita salurkan ke warga yang menjadi korban bencana banjir di tiga kabupaten ini,” kata Mappagio.

Dia juga menegaskan, BPBD Pemprov Sulsel telah berkoordinasi dengan Dinsos, Dinkes, Bina Marga Pemprov. “Ini untuk memudahkan proses bantuan,” tutup Mappagio.

Kepala Dinas Sosial Sulsel, Suwandi menambahkan, sesuai Protap, ketika terjadi bencana, maka yang pertama menangani adalah di tingkat kabupaten. Tetapi, karena persediaan bantuan di kabupaten juga menipis, sehingga Dinas Sosial turun langsung.

“Kami sudah menyalurkan bantuan berdasarkan permintaan dari kabupaten yang masuk,” kata Suwandi saat dikonfirmasi, Minggu (8/7).

Bantuan logistik yang disalurkan berupa makanan instan, obat-obatan, selimut, dan kebutuhan lainnya. Nilai bantuan mencapai Rp300 juta.

“Tagana-tagana kami di daerah juga sudah turun membangun posko-posko untuk para korban,” ujarnya.

Pada Jumat silam, banjir bandang melanda tiga kabupaten. Puluhan ribu rumah warga terendam. Selain itu, ruas  Jalan Trans Sulawesi di beberapa titik juga mengalami rusak berat akibat banjir dan menyebabkan seorang yang meninggal dunia. (k17-RS5/D)

Komentar