oleh

Penduduk Miskin Di Sulsel Masih Tinggi

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-

Capai Hingga 10,11 Persen

 

ilustrasi

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR – Jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Sulawesi Selatan (Sulsel) per Maret 2012 masih cukup tinggi yakni mencapai 825.790 jiwa atau sekira 10,11 persen dari jumlah penduduk Sulsel sebanyak 8.032.551 jiwa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, jumlah penduduk miskin pada bulan maret 2012 berjumlah 825.790 jiwa atau hanya menurun 7.100 jiwa dibandingkan data Maret 2011 yang mencapai 832.900 jiwa.

Kepala BPS Sulsel, Bambang Pramono, beberapa waktu lalu, mengatakan, penduduk miskin di Sulsel sebagian besar berada di daerah perdesaan. Dengan persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan pada Maret 2012, sebanyak 84,35 persen penduduk miskin berada didaerah perdesaan.

“Selama periode Maret 2011- Maret 2012, penduduk miskin didaerah perdesaan bertambah 0,7 ribu orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 7,8 ribu orang,” jelasnya.

Besar kecilnya jumlah penduduk miskin di Sulsel sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan. Karena penduduk miskin memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan.

Selama Maret 2011-Maret 2012, garis kemiskinan mengalami kenaikan, yaitu dari Rp 179.933 perkapita perbulan menjadi Rp 190.545 perkapita perbulan. Dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan (GK), yang terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komuditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komuditi bukan makanan (perumahan, sandang,pendidikan, dan kesehatan).

“Pada bulan Maret 2011, sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75,54 persen, tetapi pada bulan Maret 2012 peranannya menurun menjadi 69,55 persen. Selain itu komuditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras, pada Maret 2012, sumbangan pengeluaran beras terhadap GKM makanan sebesar 42,59 di perdesaan dan 39,48 persen di perkotaan,” terangnya.

Selain beras, barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap GKM adalah roko 12,04 persen di perdesaan, 14,19 di perkotaan, gula pasir 5,30 persen di perdesaan, 4,47 persen di perkotaan, telur 2,25 persen diperdesaan, 3,46 di perkotaan, dan minyak goreng 2,24 persen di perdesaan, 1,14 persen di perkotaan.

Selain itu menurut Bambang, persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. “Kebijakan kemiskinan diharapkan tidak hanya memperkecil jumlah penduduk miskin, tetapi juga bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” ujar Bambang.

Adapun indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2), pada periode Maret 2011-Maret 2012 menunjukan kecendrungan menurun. Indeks kedalaman kemiskinan mengalami kenaikan 0,01 yaitu dari 1,64 pada Maret 2011 menjadi 1,65 pada Maret 2012.

“Namun untuk indeks keparahan kemiskinan tidak mengalami perubahan yaitu berkisar pada angka 0,40. Angka ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin menjauhi garis kemiskinan sedangkan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin tidak mengalami perubahan dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara perbandingan nilai indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi daripada perkotaan. Pada Maret 2012 nilai indeks kedalaman kemiskinan untuk perkotaan hanya 0,67 persen sementara di daerah perdesaan mencapai 2,21 persen. Nilai indeks keparahan kemiskinan untuk perkotaan hanya 0,16 persen sementara di daerah perdesaan mencapai 0,53 persen

“Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah perdesaan lebih parah daripada tingkat kemiskinan di daerah perkotaan,” imbuhnya. (RS10)

Komentar