oleh

Pemkab Tator Gelar Toraja Ma’kombongan

Editor : rakyat-admin-Daerah-

Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Toraja

 

TORAJA MA’KOMBONGAN. Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung berfoto bersama dengan dua mantan Bupati Tana Toraja J.A Situru dan Tarsis Kodrat dalam acara pembukaan Toraja Ma'kombongan.

RAKYAT SULSEL . TANA TORAJA – Pemerintah Kabupaten Tana Toraja (Tator) dalam memperingati 100 Tahun injil masuk ke Toraja, menggelar Toraja Ma’kombongan atau rapat akbar. Kegiatan yang berlangsung diruang Pola Kantor bupati Tana Toraja (4/7) bertujuan untuk menganilisis apresiatif-kritis hasil interaksi Injil dan Kebudayaan Toraja selama 100 tahun dan mengupayakan sebuah strategi kebudayaan 100 tahun kedepan.

Toraja Ma’kombongan ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat dan berbagai Gereja, termasuk Gereja Katolik, Gereja Kibaid, dan Gereja Toraja serta sejumlah tokoh masyarakat Toraja yang ada diluar Tana Toraja, termasuk dua mantan Bupati Tana Toraja J.A Situru dan Tarsis Kodrat. Kegiatan Toraja Ma’kombongan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung .

Dalam sambutannya, Theofilus mengatakan, Toraja Ma’kombongan dimaksudkan untuk melakukan refleksi kritis serta menghimpun dan membahas pemikiran, impian dan proyeksi Toraja di tahun 2025, 2045 dan 2113, dengan tujuan dengan merumuskan satu konsep komprehensif Toraja yang kita dambakan.

“Dari hasil itu kiranya kita menemukan kesepahaman dari berbagai komponen dalam masyarakat Toraja untuk kita jadikan acuan pembangunan Toraja kedepan sesuai dengan fungsi kita masing-masing,” ujar Theofilus.

Toraja Ma’kombongan kali ini bertemakan ” Sangtiangkaran pakalebu pa’inaan umbangun sangtorayaan lan lili’na Indonesia” dan akan berlangsung selama empat hari. (k12/dj/C)

dri�s ru`k � � melakukan penyerangan terhadap Belanda di Makassar, lalu dibawa kembali ke Wajo, kemudian wafat serta dimakamkan di kampung halaman mertuanya, itulah pemilik salah satu makam yang besar itu,” urainya.

 

Sultan Adji Muhammad Idris, kemudian tercatat dalam catatan lama di Sulawesi Selatan, dengan gelar, Darise Daenna Parasi Petta Kutai Petta Matinro ri Kawanne.

Dalam seminar sejarah yang sudah dilakukan beberapa kali oleh Pemerintah Kabupaten Kutai kartanegara, termasuk yang dilakukan di Kota Makassar menghadirkan narasumber sejumlah sejarawan nasional, disimpulkan perjuangan Sultan Kutai Sultan Adji Muhammad Idris, sangat layak ditetapkan juga sebagai Pahlawan Nasional.

“Satu-satunya Sultan yang rela meninggalkan tahta kerajaan di Kutai untuk berjuang lintas daerah melawan kolonialis Belanda, itu adalah beliau. Suatu sikap nasionalisme yang tinggi telah diperlihatkan Sultan Adji Muhammad Idris pada masanya. Sayangnya, usulan menjadikan Sultan Kutai ke-14 ini untuk menjadi Pahlawan Nasional belum juga tarsahuti oleh pemerintah pusat,” tutup Sudirman.

Makam Sultan Adji Muhammad Idris Raja Kutai ke 14, berada dalam kompleks Kuburan Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng tersebut, kini masuk cagar budaya dan merupakan salah satu benda purbakala yang menjadi potensi wisata di Kabupaten Wajo. (*/D)

Komentar