oleh

Perpecahan Suara Jadi Momok Menakutkan

Editor : rakyat-admin-Berita-

Keluarga ‘Kaisar’, Suara Karaeng, dan Birokrat Terbelah

 

RAKYAT SULSEL . TAKALAR – Tujuh pasangan calon bupati dan wakil bupati Takalar, diprediksi akan bertarung sengit pada 4 Oktober mendatang. Banyaknya pasangan yang maju pun membuat konstalasi politik diprediksi berjalan sangat ketat.

Keluarga ‘Kaisar” Ibrahim Rewa, kini dilanda isu perpecahan. Begitu juga suara para karaeng dan birokrat, yang juga disebut-sebut tak lepas dari ‘prahara’ perpecahan.

Sebelumnya, H Achmad Dg Se’re alias Ajjiku santer dibicarakan akan membuat keluarga sang kaisar terbelah dua. Sebahagian merapat ke Natsir Ibrahim (Nojeng), putra sulung Ibrahim Rewa yang kini menjadi calon wakil bupati dari Golkar, dan sebahagian lagi mendukung Ajjiku yang juga merupakan menantu sang kaisar.

Isu perpecahan juga merebak di rumpun Karaeng Polongbangkeng  dan Galesong. Majunya Sekkab Takalar, A Jen Syarif Rifai yang tak lain adalah paman A Makmur A Sadda yang sekarang menjabat wakil bupati Takalar, membuat beberapa tokoh karaeng di Butta Pangrangnuangku diterpa kegalauan. Kondisinya bimbang; memilih antara A Makmur A Sadda Atau A Jen Syarif Rifai.

Perpecahan juga melanda beberapa juragan di Galesong. Empat putra Galesong kini ikut bertarung. Satu di antaranya, membidik kursi 01, yakni; Syamsari Kitta. Sementara tiga tokoh Galesong lainnya; A Nashar A Baso, Tombong Rani, dan Gassing Rapi, yang mencalonkan diri sebagai wakil bupati, membuat beberapa juragan dan tokoh terkemuka di Galesong pun dikabarkan terpolarisasi habis.

Kondisi peta politik Takalar yang terus berjalan, ikut memengaruhi dukungan kalangan birokrat. Perbedaan sikap di internal keluarga bupati sangat berpengaruh secara psikologi terhadap pejabat. Belum lagi, rivalitas tersembunyi antara Wabup A Makmur dan Sekkab A Jen yang makin mengukuhkan sikap galau yang menimpa birokrat.

Walaupun rumor ini berembus kencang, namun hampir semua kandidat laksana satu suara sepakat membantahnya. Menurutnya, perbedaan itu tidak akan memengaruhi hubungan keluarga dan aktivitas pelayanan di pemerintahan.

Menanggapi isu perpecahan berbagai elemen di Takalar, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Jamaluddin Maknum, menilai, itu tidak bisa dihindari dalam setiap even Pemilukada. Namun, di sisi lain, perbedaan itu adalah rahmat. “Semuanya adalah calon pemimpin Takalar dan karakter pemimpin adalah mampu melahirkan kedamaian. Apalagi tujuh pasangan ini merupakan bagian keluarga besar,” jelasnya, Selasa (3/7).

Muhammadiyah di Takalar, lanjutnya, mengajak masyarakat untuk menyukseskan pesta demokrasi Takalar dengan mengedepankan adab dan akhlak. “Saya yakin semuanya mampu mengimplementasikannya sehingga tercipta suasana damai,” harapnya.

Senada, Ketua Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar (PB Hipermata), Yunus Nyampa juga menyadari ketatnya persaingan menuju kursi bupati. Kendati demikian, dirinya berharap, rivalitas yang terjadi mampu menjadikan publik Takalar makin dewasa memahami arti perbedaan.

“Kami di Hipermata berharap, Takalar mampu menjadi pilot percontohan ajang politik di Sulsel. Apalagi, tujuannya adalah memilih pemimpin, bukan penguasa,” tutupnya.(yos/D)

Komentar