oleh

PLN Sanggup Pasok 140 MW Listrik Di Indonesia Timur

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-

RAKYAT SULSEL . JAKARTA-PT PLN (Persero) menyanggupi permintaan pengusaha dalam memenuhi kebutuhan listrik sebesar 140 Megawatt (MW) untuk satu smelter di wilayah Indonesia bagian Timur.

Saat ini, kapasitas listrik di wilayah Indonesia bagian Timur masih terbatas. Adapun jika ingin dibangun smelter di daerah tersebut, dibutuhkan  penambahan daya, karena listrik yang ada saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Beda dengan kawasan yang listriknya terbatas. Seperti di Flores, karena PLN selama ini di Flores hanya melayani pelanggan rumah tangga. Tetapi kalau besok harus siap di Flores,” kata Nur Pamudji, Direktur Utama PLN saat diskusi Independent Power Producers (IPP) & Kesiapan PLN dalam Mendukung Industri Smelter, di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (28/6).

Diakuinya, PLN mengaku siap jika diminta untuk menambah pasokan listrik satu tahun mendatang. Kendati biaya penambahan pasokan listrik, diakuinya, akan lebih mahal.

“Setahun lagi ada hitungannya. Kita siap, tapi hitungannya beda, karena butuh 140 mw di Flores yang akan kita siapkan, kita bisa bangun pembangkit 140 mw dalam setahun tapi harganya lebih mahal, 39 sen, di atas 10 sen,” jelasnya.

“Kunci ketersediaan energi adalah harga, kesediaan kita untuk beli. Yang penting kesanggupan untuk bayar,” katanya.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku membutuhkan listrik dengan kapasitas 1.500 MW untuk menjalankan 40 smelter atau pemurnian bahan baku mineral.

“40 smelter kita butuh listrik paling tidak 1.500 MW,” kata  Natsir Mansyur, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Logistik dan Distribusi.

Demi memenuhi kebutuhan listrik smelter ini, kalangan pengusaha akan membentuk tim khusus antara PT PLN (Persero) dan IPP (Independent Power Producers) untuk teknisnya.

“Kebutuhan listrik untuk tiap smelter itu berbeda-beda makanya dibentuk tim teknis untuk mengatur segala sesuatunya. Misalkan untuk smelter dengan tingkat refinery itu lebih besar kebutuhan listriknya dibanding furninst,” katanya. (df/dul)

Komentar