oleh

Kumpulkan 16 Parpol, IA Patahkan Sayap Garuda’NA

Editor : rakyat-admin-Berita-

-Nasib Rudi-Nawir Makin tak Jelas

-Tiga Kandidat Gubernur Siap Lawan Zona Merah

 

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR — Pasangan Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar (IA), terus bergerak cepat. Selain dengan iklan TV dan surat kabar, baliho, plus sosialisasi gencar, pasangan dengan tagline Semangat Baru ini pun mulai mengumpulkan beberapa parpol. Bahkan, kemarin, IA mendatangkan 16 partai politik koalisi parlemen dan nonparlemen.

Langkah IA yang mendatangkan 16 parpol di Hotel Singgasana Makassar, Kamis (28/6), itu pun bisa berakibat fatal kepada calon lainnya; Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir (Garuda’Na). Bahkan, langkah IA itu dinilai sangat berpotensi mematahkan sayap Garuda’NA.

Parpol nonparlemen atau tidak memiliki kursi di legislatif yang hadir di pertemuan yang digagas IA itu, yakni;  Partai Merdeka, Partai Persatuan Daerah (PPD), Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Persatuan Nahdalatul Ummah Indonesia (PPNUI), Partai Pelopor, Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Partai Sarikat Indonesia (PSI), Partai Merdeka. Juga,  Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI).  Sementara partai parlemen atau partai yang memiliki kursi di legislatif, yakni; Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Marhaenisme), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai RepublikaN, dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), serta tentunya dari Partai Demokrat sendiri.

Tidak itu saja. Agenda pertemuan itu yakni pertemuan pertama Partai Pengusung. Ini sekaligus menjadi agenda konsolidasi sejumlah partai. Ilham yang tak lain adalah wali kota Makassar dua periode mengatakan, setelah rapat konsolidasi ini, akan lahir sebuah pola gerakan bersama secara tersistematis. “Pola gerakan yang kita gunakan selama ini masih sporadis. Terkesan masih serampangan, yang jelas pesannya sampai. Namun, tidak terarah dengan baik,” akunya.

Sehingga, lanjut dia, setelah dilakukan evaluasi, capaiannya kurang maksimal. Untuk itu, lanjut Ketua Harian PMI Sulsel ini, pertemuan tersebut sangat penting. “Mudah-mudahan, agenda selanjutnya akan diatur seperti apa koordinasinya dan rentan waktu berapa lama harus dilakukan evaluasi. Sehingga, energi yang digunakan dalam sosialisasi bisa betul-betul maksimal.

Bahkan, dalam pertemuan itu, Ilham juga mengaku bahwa sudah 90 persen PKS dan Hanura akan bergabung dalam koalisi yang mengusung dirinya. “Sudah 90 persen akan bergabung dengan Rumah Rakyat,” katanya, meyakinkan.

Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Partai Demokrat Sulsel Syamsu Rizal mengatakan, pihaknya akan terus melakukan komunikasi ke sejumlah partai yang belum bergabung agar masuk sebagai penghuni Rumah Rakyat memenangkan IA.

Dia mengaku, jika IA menargetkan 21 partai bisa berkoalisi. “Target kami akan mengumpulkan partai pengusung sebanyak 21 partai. Dan ini yang sedang kami terus lakukan,” tandasnya.

Nah, jika betul apa yang disampaikan Ilham, maka sudah bisa dipastikan Garuda’Na bakal kerepotan. Mimpi pasangan Rudi-Nawir ini kembali diperhadapkan pada posisi “mission impossible.” Ya, satu-satunya jalan, yakni melalui jalur independen. Tetapi, itu pun tidak mudah. Pasangan ini harus mengumpulkan paling sedikit 400 ribu kartu tanda penduduk (KTP) yang tersebar di 1/3 wilayah di Sulsel. Betul-betul sebuah kerja keras yang sangat berat.

 

Lawan Zona Merah

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel, tinggal menyisakan waktu tujuh bulan. Tiga pasangan “jagoan” yang akan bertarung; Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang) jilid II, Ilham Arief Sirajuddin-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (IA), dan Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir (Garuda’Na)– merujuk pada hasil survei–kini mulai mendeteksi konstalasi politik yang ada.

Tak ayal, para kandidat itu pun mulai fokus membenahi kelemahan-kelemahan, terkhusus membenahi “zona merah” dan zona garapan. Zona merah dikenal sebagai daerah/kabupaten yang minim suara berdasarkan hasil survei.

Selain itu, ketiga kandidat gubernur itu juga fokus pada zona pertarungan atau garapan. Zona pertarungan itu, antara lain; Bone, Pinrang, Selayar, Palopo, Lutra, Lutim, Bulukumba, dan Toraja Utara.

Pasangan Sayang berdasarkan hasil survei beberapa lembaga, dinilai memiliki sejumlah daerah yang dianggapnya sebagai “zona hijau”, seperti Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Wajo, Soppeng, Parepare, Pangkep, Barru, dan Toraja. Meski begitu, Sayang juga memiliki daerah yang dianggapnya sebagai zona merah, yaitu Makassar, Maros, Enrekang, Luwu, dan Sinjai.

Di sisi lain, Makassar, Maros, Enrekang, dan Luwu, merupakan zona hijau buat pasangan IA. Makassar menjadi daerah lumbung IA karena Ilham adalah Wali Kota Makassar dua periode. Sedangkan Kabupaten Sinjai merupakan lumbung tersubur buat pasangan Garuda’Na, karena Andi Rudiyanto Asapa merupakan Bupati Sinjai dua periode.

Namun, Syahrul sebagai petahana mengaku tidak gentar dengan adanya beberapa zona merah, daerah yang sekaligus menjadi basis lawan politiknya. Ia menegaskan, dirinya akan melawan dengan kerja keras. “Saya akan lawan dengan kerja keras. Dan saya ingin lihat hasilnya,” tegas Syahrul saat dikonfirmasi, Kamis (28/6).

Dia mengaku, tidak menyiapkan trik khusus menghadapi pilgub. Semuanya, kata dia, berjalan normatif dengan menunjukkan kerja keras untuk rakyat. “Biasa-biasa saja. Yang terpenting, kerja keras. Kalau kerja kita bagus, kesejahteraan rakyat meningkat, pasti mereka akan pilih kita tanpa diminta,” ungkapnya.

Peraih penghargaan Bintang Maha Putera Utama dari Presiden RI itu menegaskan, dirinya tidak terbiasa melakukan cara-cara yang curang hanya untuk meraih jabatan. Kata Syahrul, posisi gubernur adalah sesuatu yang terhormat sehingga harus diraih dengan cara yang terhormat.

“Jabatan tidak lebih tinggi dari harga diri saya. Kepada tim saya, juga sering saya katakan, saya akan kasi kamu ember dan handuk, kerja keras. Perlihatkan pada rakyat, kerja kerasmu itu untuk mereka,” terangnya.

Sementara itu, Ilham Arief Sirajuddin, mengaku tidak mengenal adanya zona merah. Baginya, semua daerah di 24 kabupaten/kota di Sulsel adalah zona garapan. “Kalau saya berharap di 24 kabupaten/kota ini hijau semua, tidak boleh ada yang merah,” ucapnya optimis, Kamis (28/6) di Makassar.

Bahkan di daerah Gowa sekalipun, Ilham mengaku sangat optimis bisa meraih suara maksimal. “Tim pemenangan saya di sana (Gowa) ada Maddusila yang kita ketahui waktu bersaing sama Pak Ichsan Yasin Limpo (Bupati Gowa sekarang) bisa mendapatkan suara 40 persen. Yang kedua, saya mantan anak Bupati Gowa dua periode. Bahkan, masih banyak orang di Gowa yang mengetahui saya jika anaknya mantan bupati,” lanjutnya.

Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel ini mengaku dirinya bersama pasangannya, Aziz, yang punya tagline Semangat Baru, selalu optimis bisa memenangkan Pilgub 2013 mendatang. “Saya selalu optimis, jika tidak optimis buat apa saya maju dalam Pemilukada Sulsel. Namun yang pasti, keoptimisan itu dibarengi dengan usaha dan kerja keras,” tuturnya.

Berbeda dengan Sayang dan IA, berbeda pula Garuda’Na. Pasangan Rudi-Nawir ini menganggap, zona merah bukan berarti tidak memiliki peluang. “Kami menggagap zona merah justru menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Tim akan bekerja dengan ekstra,” ujar juru bicara Garuda’Na, Nasrullah Mustamin, kemarin.

Menurutnya, Garuda’Na punya kalkulasi elektabilitas dan kekuatan politik, serta strategi pemenangan yang tentu akan berbeda di tiap daerah. “Hal yang perlu diiingat adalah kemenangan Andi Rudiyanto Asapa sebagai bupati di Sinjai periode yang dulu dengan hanya menggunakan koalisi partai, bukan berasal dari partai besar,” terangnya.

Bagi Garuda’Na, zona merah tidak berarti merah. Namun akan menjadi wilayah perebutan. Daerah yang dianggap menjadi wilayah perebutan bagi Garuda’Na itu masing-masing; Makassar, Bantaeng, Jeneponto, Gowa, Luwu, dan Enrekang.

 

Faktor Geopolitik Jadi Penentu

 

Sementara itu, pengamat politik sekaligus dosen UIN, DR Muh Firdaus, mengatakan, Sayang jilid II akan berkuasa di selatan-selatan, mulai dari Gowa hingga Bulukumba, sedangkan IA akan menguasai Makassar, Maros, Bone, Luwu, Enrekang. Sedang Garuda’Na akan mendulang suara di Sinjai, sebagaian Toraja dan Pinrang.

Faktor geopolitik akan menjadi penentu, namun hal itu tidak menjadi hal yang mutlak untuk memenangkan pilgub. “Pasti akan ada perubahan strategi dan penerapan taktik yang berbeda jika berada di zona rawan, berbeda ketika berada di zona yang dianggap hijau,” jelasnya.

Menurutnya, tim sukses akan berkerja dengan pendekatan yang berbeda di basis-basis suara lawan. Sebab, katanya, ada ruang dan masih banyak pemilih yang melihat calon dengan cara yang berbeda, misalnya pemilih yang tidak melihat soal kewilayahan.

Berdasar hasil survei, Syahrul cukup mengantisipasi berpaketnya Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar. Keduanya merupakan representasi geopolitik yang berbeda dengan pengaruh di basis massa yang riil.

Menurutnya, Ilham cukup berpengaruh dan menguasai wilayah Bone, Soppeng, Wajo (Bosowa) serta sebagian kawasan Ajattapareng. Sementara Aziz yang merupakan anggota DPD berpengaruh hingga ke tingkat grass root di beberapa daerah, terutama kawasan Luwu.

“Sulit dipungkiri geopolitik ikut memengaruhi pertemuan paket calon. Terbukti keputusan Ilham-Azis tidak terlepas dari tafsir geopolitik, meskipun batasan geopolitik masih bisa diperdebatkan. Namun, perpaduan Ilham-Aziz dianggap sebagai simbol basis representasi Bosowa dan Luwu Raya,” urai Firdaus.

Menurut Firdaus, Syahrul harus memprioritaskan aspek geopolitik sekitaran Bosowa dan Ajatappareng. Bukan paket wilayah selatan-selatan yang justru dapat menjadi titik kelemahannya. Basis di Bone dan Luwu juga harus diperkuat karena cukup menjadi penentu kemenangan. (RS11-RS5-RS9/D)

Komentar