oleh

Instalasi Rehabilitasi Tunjang 14 Provinsi

Editor : rakyat-admin-HL, Wawancara-
H SYAHRUL YASIN LIMPO, Gubernur Sulawesi Selatan

RAKYAT SULSEL . Balai Rehabilitasi Narkoba terbesar di Indonesia, dibangun di Sulsel, tepatnya di Baddoka, Makassar. Pusat pengobatan bagi para pecandu narkotika tersebut, dibangun dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 3.145.968.000. Tidak hanya melayani pasien dari Sulsel, balai rehabilitasi tersebut akan menjadi rujukan 14 provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Rencananya, gedung tersebut akan diresmikan Wakil Presiden RI Boediono hari ini, Selasa (26/6).

Dipilihnya Sulsel sebagai lokasi pembangunan Balai Rehabilitasi Narkoba terbesar tersebut oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), bukannya tanpa alasan. Apakah Sulsel merupakan area strategis bagi peredaran barang haram tersebut? Apakah jumlah pengguna narkoba di Sulsel tergolong tinggi sehingga membutuhkan pusat rehabilitasi yang sangat megah? Berikut petikan wawancara Harian Rakyat Sulsel dengan Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, Senin (25/6).

 

+ Peredaran narkotika secara nasional meningkat sangat signifikan. Bagaimana dengan di Sulsel sendiri?

– Secara nasional, terjadi peredaran narkotika yang semakin meluas. Kemungkinan ada daerah yang terkontaminasi tentu saja ada. Tetapi, data yang saya pegang, eskalasi penggunaan narkoba dalam frekuensi yang sangat berbahaya, misalnya heroin, tidak terjadi di Sulsel. Penggunaan narkotika turun pada jenis shabu-shabu dan amfetamin. Nah, oleh karena itu, saya berfikir bahwa Sulsel termasuk daerah yang lebih aman dari peredaran narkoba dibandingkan dengan provinsi lain. Di Sulsel, kita tidak pernah mendengar ada pabrikasi. Begitupun pemasarannya, tidak ada data yang konkret. Justru, instalasi rehabilitasi itu dibangun di Sulsel karena daerah ini dianggap lebih aman dari provinsi lain. Instalasi rehabilitasi itu merupakan yang terbesar dan untuk menunjang 14 provinsi di KTI.

 

+ Di Sulsel, berdasarkan data yang ada, berapa jumlah pengguna narkotika

– Berdasarkan data, jumlahnya mencapai 1,9 persen dari jumlah penduduk atau tidak kurang dari 118 ribu orang. Hal ini merupakan masalah yang serius, masalah masa depan generasi muda kita. Jangan sampai mereka terperangkap dan tidak bisa mengendalikan diri lagi. Karenanya, saya berharap, pembangunan balai rehabilitasi ini bisa menjadi sarana untuk menyembuhkan para pecandu narkotika secara permanen. Semoga, para pecandu bisa menjalani rehabilitasi dan pulih secara total dan tidak terjerumus lagi.

 

+ Menurut Anda, upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah peredaran narkoba agar tidak meluas?

– Masalah narkotika sangat kompleks. Sehingga, untuk memecahkan persoalan yang ada, masalahnya harus diurai satu per satu. Tiap daerah tentu saja berbeda cara penanganannya. Hadirnya balai rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika, merupakan program nasional yang menjadi bagian dari upaya komprehensif untuk memberantas narkotika. Termasuk, sistem untuk memecahkan kebuntuan dalam koordinasi antara pusat dan provinsi dalam pemberantasan peredaran narkotika.

 

+ BNN telah membangun pusat rehabilitasi terbesar ini di Sulsel. Lalu, bagaimana bentuk dukungan yang kemudian akan diberikan oleh Pemprov Sulsel?

– Pemprov Sulsel akan terus mendukung program BNN dalam pemberantasan narkotika. Ke depannya, rumah sakit rehabilitasi tersebut juga akan didukung dengan program-program setelah pasien menjalani rehabilitasi. Pemprov Sulsel akan menyiapkan program after rehabilitasi. Sehingga, para mantan pengguna narkotika, bisa berkembang dan meraih masa depannya yang lebih baik. Kawasan balai rehabilitasi ini juga harus steril. Jangan sampai kita kecolongan. Peredaran narkoba sangat lihai sehingga harus diantisipasi dengan cara-cara yang akademis dengan konsepsi yang terukur. (RS5/D)

 

Shabu dan Amfetamin Banyak Beredar di Sulsel

Instalasi Rehabilitasi Tunjang 14 Provinsi

Cegah Narkoba Butuh Pendekatan Keluarga

Komentar