oleh

Mengenal Istana Saorajana Lemoape

Editor : rakyat-admin-HL-

Tetap Kokoh dengan Segala Keunikannya

 

Penulis: Saenal Abidin

Editor: Adam Djumadin

 

RAKYAT SULSEL . Jika selama ini kita hanya mengenal kerajaan-kerajaan besar saja yang ada di Sulawesi Selatan seperti, kerajaan Gowa, Luwu, dan Bone, maka ada baiknya kita juga menelusuri kerajaan-kerajaan kecil yang berada diwilayah tiga kerajaan tersebut.

Salah satunya, kerajaan Lemoape yang berada diwilayah kerajaan Bone, tepatnya berada diwilayah Kecamatan Palakka, dimana kabarnya kerajaan yang berdiri sekitar 700 tahun yang lalu ini, diperintah oleh seorang perempuan yang bernama Petta MatinroE ri AlilingE.

Di Desa ini banyak sekali dijumpai tanaman buah jeruk nipis atau jeruk purut, sesuai dengan namanya tentu ini tidaklah mengherankan. Sebab jika diartikan kedalam bahasa Indonesia, Lemoape berarti jeruk nipis, atau orang Makassar biasa menyebutnya Lemo Kapasa’.

Secara alamiah, dalam kehidupan orang Bugis-Makassar, Lemoape adalah alat pembersih senjata tajam, seperti, badik, keris, dan tombak, agar senjata tajam tersebut tidak termakan oleh karat.

Selain keberadaan tanaman jeruk yang banyak, kerajaan Lemoape juga menyimpan keunikan yang lain seperti, mata air panas yang dipercaya bisa membuat kebal dari benda tajam, serta Istana yang dipercaya dilundungi kekuatan magis.

Konon kabarnya, dahulu kala sungai yang diberi nama Salo Lajjoro, yang terletak di Dusun BajuE, mempunyai palung ditengah sungai yang mengeluarkan mata air panas yang diberi nama Uwae WaraniE jika diartikan berarti Air Keberanian, disinilah tempat memandikan sejumlah prajurit istana untuk mendapatkan tuah kekebalan.

Indriyani, wanita yang kini dipercayakan untuk merawat dan menjaga istana Lemoape mengatakan, dirinya pernah mendengar cerita dari pendahulunya, jika istana Lemoape itu memiliki keunikan atau kelebihan tersendiri.

“Istana ini dulu katanya pernah dibakar, pada waktu DI/TII berkecamuk di Sulawesi Selatan, minyak tanah yang dipakai menyiram bangunan ini habis terbakar namun bangunannya tetap utuh,” ujar Indriyani.

Keunikan lainnya, pasukan TNI juga pernah akan membongkarnya, namun hal itu juga tidak berhasil dilakukan. “TNI pada waktu itu mencoba untuk merobohkannya tetapi ternyata juga gagal,” kata Indriyani.

“Ketika BarugaE ini yang sekarang dikenal Saorajana Lemoape direnovasi pada Juli 2000, pada saat renovasi berlangsung, pekerja disini bermimpi didadatangi oleh seseorang yang mengaku penjaga bangunan itu, menanyakan apa yang ingin diperbuat dengan rumah tersebut, namun karena dijawab tukang kayu dengan baik maka dia diberi hadiah sebuah permata,” ungkap Indriyani.

Inriyani menambahkan, Saorajana Lemoape ini dulu sangat panjang, namun sedikit dirubah ukurannya saat direnovasi. “Bapak dan ibu saya, kawin di rumah ini, bapak saya melakukan pesta perkawinannya di depan, sedangkan ibu saya di belakang, saking panjangnya dulu Saoraja ini, sehingga kedua orangtua saya melaksanakan pesta pernikahan dalam satu rumah secara terpisah,” terang Indriyani.

Indriyani menuturkan, ciri khas senjata Saorajana Lemoape atau pusaka Saorajana Lemoape yang merupakan maskot kerjaan Lemoape dahulu kala adalah keris “LambaE”.

“Keris ini sampai sekarang masih ada dan disimpan oleh paman saya. Keunikan keris ini terkadang menjelma menjadi ular. Kemudian salah satunya desa yang ada di Kabupaten Bone yang memiliki Saoraja (istana) adalah Desa Lemopae, jadi Saorajana Lemoape satu-satunya istana yang ada di pedesaan,” ujar Indriyani.

Saorajana Lemoape sekarang berfungsi juga sebagai objek wisata, dimana di dalamnya dipamerkan benda-benda antik dan relief-relief yang melukiskan episode-episode sejarah lama. Selain itu, juga dimaksudkan untuk pesta perkawinan dan juga tempat menginap bagi mereka yang berminat akan petualangan alam nyata dan alam gaib. (*/D)

Komentar