oleh

Calon Independen Mampu Pengaruhi Psikologi Pemilih

Editor : rakyat-admin-HL, Wawancara-
ADY SURYADI CULLA, Pengamat Politik dari Universitas Hasanuddin

RAKYAT SULSEL . BANYAKNYA calon independen yang akan maju di Pilwali Makassasr, karena banyak sebab. Di antaranya, karena ada keinginan dari sang calon untuk maju sementara dia tidak memiliki parpol. Ada juga karena besarinya aspirasi dari masyarakat terhadap sang kandidat yang bukan dari parpol, dan ada pula pengurus parpol yang ingin maju namun tidak terakomodir parpolnya.

Jika menimbang dari segi dana tentu melalui jalur independen relatif lebih sedikit dibanding yang menggunakan parpol walau akan direpotkan dengan pengumpulan KTP. Ini berbeda dengan calon dari parpol yang terkadang harus “barter politik” atau menyiapkan “uang mahar” bagi parpol yang akan mengusungnya. Meski begitu, peluang calon independen janganlah dianggap remeh. Mereka juga berpeluang sama. Sejumlah pemimpin daerah di Indonesia muncul dari calon independen. Namun tantangan lainnya bagi calon independen, bila terpilih nantinya tidak memiliki kekuatan politik di legislatif.

Untuk mengulas peluang calon independen, berikut wawancara Harian Rakyat Sulsel dengan pengamat politik sekaligus dosen Universitas Hasanuddin, Ady Suryadi Culla.

 

+ Sekarang ini setidaknya sudah ada sekitar 20 calon walikota yang menyatakan diri akan maju pada Pilwali Makassar Oktober 2013 mendatang. Beberapa di antaranya dari jalur independen. Tanggapan Anda?

– Kalau melihat kecenderungan bursa calon yang mencuat kini dengan jumlah sebanyak itu tentu tidak semua bisa lewat parpol, apalagi ada tuntutan persentase suara parpol atau jumlah kursi yang jadi syarat bagi calon bersangkutan dari satu atau beberapa parpol. Karena diperediksi sejumlah kandidat akan gagal mendapatkan kendaraan parpol, tentu nantinya akan ada yang maju lewat jalur perseorangan (independen).

Munculnya calon independen itu merupakan fenomena demokrasi, itu wujud hak politik setiap warga negara untuk memilih dan dipilih dalam Pemilukada. Regulasi kini membuka kemungkinan bagi kandidat kepala daerah untuk mengajukan diri dari calon perseorangan atau independen. Bukan hanya secara garis lurus lagi, harus lewat pintu parpol. Calon independen biasanya bukan muncul dalam hampa, ada kompetisi tarik menarik dan kompetisi politik yang dinamis yang mencuat di bursa kandidat yang mendorong lahirnya calon independen.

Persaingan untuk mendapatkan dukungan parpol sebagai kendaraan politik terbatas, maka sebagaian calon kemudian memutuskan untuk memilih jalur independen. Karena itu semakin banyak calon yang ada, semakin terbuka pula peluang bagi calon independen.

 

+ Untuk di Makassar sendiri, menurut pengamatan Anda, bagaimana kans calon walikota yang maju melalui jalur independen?

-  Pemilih di Makassar sebagian besar pemilih “rasional evaluatif”, sehingga peluang untuk terpilih juga ditentukan kompetensi dan kapasitas calon, track record yang terbukti memiliki reputasi yang baik. Tidak kalah penting tentu moralitas individual mereka. Tantangan yang paling berat tentunya karena calon independen akan bersaing dengan calon partai yang memiliki infrastruktur lebih. Bagi calon yang diusung parpol memiliki kekuatan karena adanya basis keorganisasian partai yang membantu pergerakannya. Namun tentu calon independen itu mampu mempengaruhi sikap psikologi pemilih, karena itu terbuka peluang mengalahkan calon dari partai.

 

+ Dengan banyaknya calon bahkan ada beberapa calon yang berada dalam satu atap partai, semakin membuka ruang jalur independen, bagaiman Anda melihat ini?

– Bukti dukungan basis massa yang dipersyaratkan oleh KPU itu, akan ada yang mengganjal karena akan terjadi persaingan di kalangan calon independen, sehingga tidak semuanya yang saat ini mempersiapkan diri secara otomatis mampu menjadi calon independen. Syarat lain calon independen yang berasal dari parpol yang karena sesuatu hal, maka dia akan terkendala aturan partainya, yang mungkin melarang dia jadi calon independen, kecuali memilih mundur atau dipecat oleh partai.

Persoalan berikut sebenarnya calon bersangkutan tidak hanya butuh modal politik terkait bukti dukungan kuantitatif pemilih yang disyaratkan KPU, itu karena peluang setelah disahkan jadi calon dapat pula dilihat dari modal finansial dan modal sosial calon berupa kepercayaan masyarakat. Tentu modal finansial dibutuhkan karena tidak dengan “jalan gratis” politik di era demokrasi. Mulai dari kebutuhan pendanaan tim sukses hingga kampanye ke berbagai media.

 

+ Fakta pilwali 2008 ada calon walikota yang memiliki suara yang lebih sedikit ketimbang KTP yang dikumpulkan. Bagaimana anda melihat ini?

-  Dalam kasus pilwali 2008 silam, umumnya tidak memiliki basis riil. Mereka lahir secara instan, tanpa investasi politik sebelumnya. Selain itu, juga tidak memiliki rekam jejak yang melahirkan legitimasi “akar rumput”. Karena itu sebaiknya calon walikota yang mengambil jalur independen mengevaluasi diri, jangan hanya jadi penggembira saja, termasuk pasangannya.

 

+ Apa strategi jitu untuk calon yang lewat jalur independen?

-  Sebaiknya mereka mengaca lebih dulu, mengukur potensi dirinya, lalu mengelola cita diri. Mereka harus melakukan sosialisasi yang lebih instens, biar memiliki kedekatan emosional dengan pemilih. Termasuk mensosialisasikan program strategis untuk janji politiknya. Tentu saja, tidak perlu yang muluk-muluk, itu karena kekuatan utama calon independen terletak pada sosok individualnya. Inilah yang membedakan calon independen dengan calon usulan partai yang memiliki kemampuan pengorganisasian massa yang lebih terstruktur rapi dan kuat. (RS11/E)

Calon Independen, Jangan Pandang Sebelah Mata!

Walikota Independen Dambaan Warga Makassar

Calon Independen Mampu Pengaruhi Psikologi Pemilih

Komentar