oleh

RSBI Mestinya Memiliki “Sister School”

Editor : rakyat-admin-HL, Wawancara-
PROFESOR HALIDE, Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan

RAKYAT SULSEL . Dalam beberapa tahun terakhir ini,  pemerintah daerah mulai mengenalkan Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, yang salah satu sasarannya adalah untuk memacu peningkatan kualitas pendidikan. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah suatu program pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 50 ayat 3, yang menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Namun fakta sekarang ini RSBI lebih banyak bersentuhan dengan biaya yang selangit yang sebagian ditanggung oleh siswa. Syarat-syarat  menjadi RSBI tentu tidak mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi, misalnya: standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar kompetensi lulusan dan penilaian dan standar pembiayaan. Semua ini tentu diperlukan biaya yang tidak mudah.

Untuk mendapatkan biaya itu terkadang harus memungut dari para wali murid, dan akhirnya RSBI dirasakan mahal. Yang menjadi persoalan adalah bagi masyarakat yang tidak memiliki kemampuan ekonomi namun memiliki kemampuan pengetahuan akan menjadi kesulitan bila diperhadapkan dengan biaya yang selangit di RSBI.

Untuk membahas masalah ini, berikut wawancara Harian Rakyat Sulsel dengan Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan, Prof. Halide.

 

+ Pemerintah memperkenalkan lembaga pendidikan bertaraf internasional atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Bagaimana Anda melihat RSBI ini?

– Saya melihat ini terobosan yang bagus untuk meningkatkan mutu pendidikan. Masyarakat luas meresponnya, namun yang perlu diperhatikan adalah syarat-syarat menjadi RSBI.

 

+ Ada anggapan masyarakat bahwa biaya di RSBI itu lebih mahal?

– Betul. Kesannya di RSBI kalau sudah masuk di sana itu mahal, namun ini semua akan dievaluasi. Kami di Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan terus-menerus akan mengevaluasi ini.

 

+ Apa-apa saja yang perlu dievaluasi?

– Banyak, misalnya standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar kompetensi lulusan dan penilaian serta standar pembiayaan.

 

+ Fokus utamanya apa?

– Pertama soal mutu pendidikan, RSBI harus diakreditasi. Dalam UUD mengatakan begitu bahwa setiap kecamatan boleh bikin RSBI apakah itu SD, SMP, SMA, namun harus dilihat juga adalah kemampuan daerah yang akan membuat RSBI tersebut. Misalnya bila terkait dengan kualitas guru, apakah ada guru yang memiliki kualifikasi bahasa Inggris yang baik disana, jangan-jangan bahasa Inggrisnya patah-patah. Jangankan mengajarkan materi pelajaran dalam berbahasa Inggris, tapi lihat dulu kualitas bahasa Inggrisnya. Ini contohnya.

 

+ Selanjutnya?

– Mestinya RSBI itu memiliki “sister school”. Sekolah-sekolah RSBI dalam negeri memiliki kerjasama atau saudara di sekolah luar negeri, dan diharapkan memiliki kualitas yang sama dengan luar negeri. Ini harus kita cek kembali apakah RSBI-RSBI itu memiliki “sister school”.

 

+ Bukankah butuh biaya dengan adanya “sister school”?

– Untuk mendapatkan “sister school”, sekolah-sekolah RSBI harus meniru dan mendesian sekolahnya seperti sekolah di luar negeri. Yang jadi masalah, siapa yang mau bertanggung jawab dengan urusan kerjasama sekolah dengan sekolah luar negeri itu, apalagi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mungkin ada yang dibebankan kepada orang tua siswa.

 

+ Jika ada anak yang kurang mampu namun memiliki kemampuan untuk sekolah di RSBI?

– Ada kouta minimal 10 persen bagi yang tidak mampu, sekolah berkewajiban mencarikan mereka beasiswa. (RS11/D)

 

RSBI YANG MAHAL DIMINATI

RSBI MESTINYA MEMILIKI “SISTER SCHOOL”

RSBI HARUS TAMPUNG 20 PERSEN  SISWA MISKIN BERPRESTASI

Komentar