oleh

Selamat Jalan Prof.. “Restorat is Justice 1.000 Halaman jadi Karya Terakhirnya”

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-
IKUT MELAYAT. Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin dan bekas mantan Menkum dan HAM Hamid Awaludin melayat di rumah duka, kemarin.

RAKYAT SULSEL . HUKUM Indonesia kehilangan salah satu intelektualnya. Guru Besar Fakultas Hukum Prof Dr Achmad Ali SH MH, Minggu (17/6), meninggal dunia di Rumah Sakit Pendidikan Unhas pukul 09.15 WITA. Almarhum dikenal bukan saja, sebagai guru besar Fakultas Hukum Unhas, tetapi sebagai dosen, saudara, senior, sekaligus sahabat yang berkarakter disiplin, tegas dan mempunyai pendirian yang kuat.

Istri almarhum, Wiwie Heryani bercerita, sudah sebulan terakhir suami tercintanya, berada di rumah sakit dengan menderita penyakit diabetes yang kronis dengan paru-paru. “Sudah seminggu terakhir ini bapak drop, tidak bisa bangun, bahkan bicara. Sempat dirawat di RS Stella Maris selama lima hari, kemudian dua minggu di RS Pertamina Jakarta dan di RS Pendidikan Unhas,” ucapnya saat ditemui Rakyat Sulsel di rumah duka.

Dengan mata berkaca-kaca, Wiwie melanjutkan ceritanya. Achmad Ali, seorang yang pekerja keras dan sering menulis buku yang membuat beliau kurang tidur serta asupan gizi yang dibutuhkan sangat kurang. “Setelah menulis buku terakhirnya tentang kronologi hukum dengan judul Restorat is Justice yang cukup tebal sekitar 1000 halaman yang dikerja sudah setahun yang membuat beliau tidak tidur selama dua hari dan kurang makan, sehingga asupan gizi beliau sangat kurang dan sempat drop. Sebelumnya masuk ke RS Pertamina, beliau pun menyempatkan diri untuk menghadiri rapat rutin Kejaksaan Agung,” kenangnya yang sesekali menitikkan air mata.

Di sudut lain, Wakil Kejati Sulselbar, Andi Abdul Karim yang berada di rumah duka, menilai sosok Achmad Ali merupakan orang yang sangat ahli di bidang hukum, sehingga sosoknya dalam pembangunan hukum, banyak memberikan rekomendasi terkait hukum di Indonesia kepada para penegak hukum, seperti kepolisian dan terlebih lagi kejaksaan.

“Beliau banyak sekali memberikan rekomendasi terkait hukum di Indonesia, sakitnya pun sudah  dan beliau tetap ulet dan berusaha melawan penyakitnya, akan tetapi Tuhan menghendaki lain,” sedihnya.

Civitas akademika Unhas juga merasakan sangat kehilangan. Rektor Unhas, Idrus Paturusi mengatakan, Achmad Ali adalah sosok yang taat serta memiliki pendirian yang kuat apalagi beliau adalah pakar hukum.

“Beliau seorang pakar hukum, yang menurut saya pakar hukum di Indonesia masih kurang tandingannya. Sehingga dengan kepergian beliau sangat memberikan rasa yang mendalam bahwa kehilangan seorang sahabat,” ungkap Idrus.

Idrus juga mengakui, dengan kepergian beliau sebagai guru besar, Unhas sangat kehilangan sekali dan menjadi panutan bagi mahasiswanya. “Unhas sangat kehilangan karena kepergian beliau serta bangga telah pernah memiliki seorang Ahcmad Ali yang merupakan pakar hukum, mudah-mudahan yang muda-muda bisa mengikuti apa yang beliau lakukan utamanya mahasiswa yang selalu melihat sosok Ahmad Ali sebagai panutan,” ujarnya.

Jenazah almarhum dikebumikan di pekuburan Unhas di Pattene, Maros, kemarin sore. Sebelum dikebumikan, jenazah disemayamkan di Fakultas Hukum Unhas. Almarhum semasa hidupnya pernah menjabat sebagai anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia periode kepemimpinan Abdul Hakim Garuda Nusantara. Selain itu, juga tercatat sebagai Dewan Guru Besar Perguruan Karate Goju Kai dengan gelar Shidoin Dan VII dan pernah menjadi salah satu calon Jaksa Agung RI.(RS10/D)

Komentar