oleh

Birahi Syahwat Jl Nusantara

Editor :rakyat-admin-HL

Makin Malam Makin Asyik

ETALASE. Suasana Jl Nusantara yang menawarkan birahi seks bagi lelaki hidung belang.

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR – MALAM mulai dingin.Saat itu jarum jam menunjuk angka 22.12 Wita. Aktivitas warga masih terlihat, meski angin  sudah menembus pori-pori kulit. Rakyat Sulsel melakukan peliputan soal prostitusi di kota ini.

Meluncur dari Jl Hertasning. Berbelok ke Jl AP Pettarani, kemudian masuk di Jl Sungai Saddang. Di jalan ini, saya menjumpai beberapa wanita seksi berdiri di pinggir jalan. Tidak jauh dari Rujab Gubernuran mereka mangkal menunggu lelaki belang yang ingin mencumbunya. Jl Sungai Saddang memang dikenal sebagai salah satu alternatif tempat untuk mendapatkan wanita-wanita penghibur. Seiring perkembangan waktu, dulunya penjaja seks di tempat itu biasa ditemani daeng becak atau ‘becak-becak’, tetapi sekarang kelasnya sudah naik, setiap PSK didampingi tukang ojek.

Lepas dari Sungai Saddang, saya kemudian menuju Jl Nusantara. Berbeda di tempat sebelumnya, jalan ini masih sangat ramai. Mobil berderet parkir di sisi kanan-kiri jalan. Motor-motor pun terlihat banyak di depan ruko–ruko. Suara musik bersahut-sahutan. Tak ketinggalan, pedagang asongan lengkap dengan pelayannya. Di sini ada pilihan, apakah ingin menikmati malam di pinggir jalan ditemani pelayan atau berbaur di tengah musik karaoke dan house musik atau ingin mencicipi wanita penjaja seks yang dipajang di etalase.

Penasaran, saya mencoba untuk singgah di warung asongan. “Mampir, silakan mampir,” sahut suara perempuan yang merupakan pelayan di warung itu.

Tidak lama saya berkenalan. Nama wanita itu Sita. Kelihatannya usianya masih belasan. Sita mengaku, dirinya hanya menemani tamu yang mampir di warungnya. “Maaf, kalau mau begituan, di dalam ada,” ucap Sita dari bibir tipisnya.

Usai ngobrol dengan Sita, saya langsung bergegas. Tapi, saya dikagetkan dengan harga sebuah minuman bir, kacang yang saya harus bayarkan. “Memang di sini harganya bisa sampai 2-3 kali lipat, karena untuk bisa mangkal di sini, pedagang dipasangi tarif mahal juga,” jelas Sita.

Saya pun mencoba untuk memahami situasi ini.  Melupakan sejenak kejadian dengan Sita, suasana di Jl Nusantara semakin malam semakin ramai. Saya bergegas menuju tempat yang menawarkan kepuasan birahi. Dari referensi teman-teman, tempat ini memiliki gadis-gadis yang muda belia. Di luar tempat itu memang ramai. Dua pria berbadan tegap berjaga di pintu. Saya pun langsung masuk ke dalam kemudian dipersilahkan duduk di sofa. Sebuah layar besar digunakan untuk tamu yang yang di ingin berkaraoke ria. Tidak jauh dari sofa saya duduk, beberapa perempuan duduk berjejer. Tidak lama datanglah seorang pelayan menawari saya minum. “Mau minum dulu, atau main?,” tanyanya. Di tempat ini, mereka menyediakan dua pilihan.

Saya pun mengangguk dan memberikan jempol. Di tempat ini saya berkenalan dengan Ayu. Mengaku sudah tiga tahun jadi PSK. Dalam semalam, dia mampu melayani tiga sampai empat lelaki dengan bayaran rata-rata Rp175 ribu per lelaki. Kadang juga Ayu menemani lelaki yang hanya ingin karaoke dengan tarif Rp 50 per jam.

Ayu  adalah orang asli Surabaya. Awal jadi PSK, dia bergabung di lokalisasi Gang Dolly Surabaya. Afiliasi Nusantara-Dolly membuatnya harus dirotasi ke Nusantara. Kedua lokalisasi tersebut memang secara berkala saling bertukar PSK. Alasannya: biar pengunjung tidak bosan.

Setiap hari, Ayu harus bersaing dengan beberapa PSK lainnya untuk berebut perhatian pelanggan.

Ada puluhan tempat prostitusi yang mudah kita jumpai di Jl Nusantara. Pengakuan Pemerintah Kota Makassar, pemerintah tidak pernah melegalkan praktik prostitusi di kota ini. Lantas, bagaimana dengan aktivitas di Jalan Nusantara Makassar?

Kepala Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Dinas Pariwisata Kota Makassar, A Mirza Abidin, mengaku sesuai Perda No 2 tahun 2002 tidak diatur bahwa praktik prostitusi tidak dibenarkan terjadi di Tempat Hiburan Malam (THM) seperti tempat karaoke umum.

“Pembinaan terhadap pelaku dan pengusaha  tempat hiburan malam itu terus dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) pengawasan yang di dalamnya bekerjsama antara satuan Polisi Pamong Praja, Dandim dan pihak Kejaksaan,” ungkapnya.

Menurutnya, Dinas Pariwisata melakukan pengawasan terhadap terhadap THM setiap bulan. Berdasarkan SK pengawasan itulah pihak terkait terus memantau sejauh mana aktivitas para pelaku usaha THM.”Dalam aturan itu, tempat bernyanyi untuk keluarga buka dari pukul 10.00 hingga 22.00 dan tempat karaoke umum buka mulai jam 20.00 hingga jam 02.00,” ujarnya.

Lalu, mengapa Jl Nusantara masih saja terus menjadi stigma tempat prostitusi terbesar di kota ini?. (bersambung/RS1/E)

Komentar