oleh

Aliansi Mahasiswa Palopo Ancam Segel Bank BNI

Editor : rakyat-admin-HL-

Wartawan Didorong Security Bank BNI

 

Puluhan pendemo yang tergabung dalam aliansi mahasiswa peduli korban penipuan bank melakukan unjukrasa di depan Kantor Bank BNI Cabang Palopo.(asrul)

RAKYAT SULSEL – Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Korban Penipuan Bank melakukan unjuk rasa di kantor Bank BNI Cabang Palopo, Kamis (7/6). Dalam aksinya mereka mengancam menyegel bank plat merah itu, jika kasus ini tidak diselesaikan secepatnya.

Mahasiswa menuntut agar kasus pemalsuan dokumen debitur Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Palopo atas nama Ronny Poniman Susanto yang diduga menjadi korban penipuan oleh Bank BNI, segera diproses dan diselesaikan.

Zafwan Misbahuddin, Koordinator Lapangan, menegaskan manajemen Bank BNI harus bertanggung jawab atas penipuan yang dialami Rony. Karena itu, tuntutan yang harus dipenuhi pihak Bank BNI yakni hapuskan black list PT Jakarta Adi Perkasa di BI.

“BNI harus juga mengganti segala kerugian pihak nasabah yang dikorbankan yaitu PT Jakarta Adi Perkasa. Jika dalam jangka 3×24 jam tuntutan kami tidak dipenuhi maka kami akan melakukan aksi besar-besar dan menyegel bank ini,” ungkap Zafwan dalam orasinya.

Rony yang merupakan Direktur PT Jakarta Adi Perkasa merasa dikorbankan dengan kerugian sebesar Rp3,6 miliar. Karena Bank BNI telah memberikan laporan palsu ke Bank Indonesia (BI) wilayah Makassar yang berisikan bahwa Ronny adalah nasabah yang bermasalah.

Dalam kasus ini, Ronny tercatat sebagai salah satu debitur bermasalah di BI, sehingga berbagai permohonan kredit yang diajukan ke bank mana pun ditolak. Padahal, pemilik Hotel Jakarta Palopo ini, tidak memiliki tunggakan kredit di BNI atau bank mana pun, sehingga pengajuan kredit usaha yang diajukan Ronny ke BNI atau bank mana saja, ditolak karena namanya masuk daftar blacklist debitur bermasalah.

Kasus ini bermula dari data yang tertera dalam IDI Histrory BI yang menyebutkan, angsuran bulan Maret 2010 atas nama Ronny menunggak selama 31 hari, termasuk pembayaran kredit bulan Agustus 2010 juga menunggak selama 153 hari di BNI Cabang Palopo. Sebaliknya dalam data yang terangkum dalam buku rekening koran milik Ronny tidak tercatat tunggakan pembayaran kredit di BNI Palopo.

Kepala Cabang Palopo, Rizal Syukur, yang akan dikonfirmasi tidak berada ditempat, telepon genggamnya juga saat dihubungi dalam keadaan tidak aktif, begitupun saat dikirimi pesan juga tidak meberikan respon jawaban. Beberapa karyawan Bank BNI yang ditemui mengatakan, pimpinannya lagi tugas di luar kota. Sebelumnya, penyidik Polres Palopo sudah memeriksa Rizal dan sejumlah karyawan Bank BNI.

Sejauh ini, polisi menetapkan satu tersangka dalam kasus tersebut yakni karyawan BNI Palopo, Supriyanto. Namun, penyidik memberikan penangguhan terhadap tersangka karena kedua pihak punya niat untuk berdamai.

Sementara itu, Kapolres Palopo AKBP Muh Fajaruddin menegaskan dalam kasus itu penyidik kembali membuka dan mendalami sehingga kasus ini bisa terbuka lebar untuk dituntaskan. Dia mengatakan, hasil penyelidikan sesuai keterangan sejumlah saksi kuat dugaan ada kesalaha menginput data sehingga nama debitur BNI Palopo tersebut, Ronny terdaftar dalam IDI Histrory BI sebagai debitur bermasalah.

“Kita kembali dalami kasus ini. Kita lihat saja hasilnya, apakah Kepala cabang, dan petinggi Bank BNI lainnya bisa jadi tersangka,” tegas Kapolres yang dihubungi via-Sms.

Sebelumnya, penyidik Polres Palopo menyerahkan berkas kasus itu di Kejari Palopo namun ditolak. Kejaksaan mengembalikan berkas karena dinilai belum lengkap.

“Kami sudah teliti ternyata masih belum lengkap. Kami kembalikan lagi ke penyidik Polres Palopo,” ujar Kajari Palopo, Oktavianus.

Sementara dalam aksi unjukrasa itu terjadi insiden antara wartawan Trans TV dengan pihak security Bank BNI. Sejumlah wartawan mengecam adanya tindakan arogansi pihak petugas BNI.

“Saya sedang mengambil gambar tiba-tiba saya didorong seorang security,”ujar Kontributor Trans TV, Jaya Hartawan. (K14/dj/D)

Komentar