oleh

Banyak Kandidat Tidak Miliki Etika Politik

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-

Saling Serang Lewat Media, Upaya Pembunuhan Karakter

Ketua KPID Sulsel Rusdin Tompo, akademisi politik Unhas Armin Arsyad dan Pimred Harian Rakyat Sulsel Subhan Yusuf menjadi pembicara aparat kehumasan di Hotel Losari Metro, kemarin.

RAKYAT SULSEL –– Semua politisi selalu berusaha menciptakan citra politiknya. Baik melalui iklan media cetak, elektronik, hingga pemasangan baliho di pinggir jalan. Sayangnya, iklan-iklan tersebut kadang berisi muatan saling serang antar-kandidat.

Hal itu diungkapkan akademisi ilmu politik dari Universitas Hasanuddin, Armin Arsyad saat menjadi pembicara pada acara Pertemuan Aparat Kehumasan Tingkat Provinsi Sulsel, di Hotel Losari Metro, Rabu (6/6). Tampil sebagai pembicara lainnya pada acara yang dipandu Pimpinan Redaksi Harian Rakyat Sulsel Subhan Yusuf itu, yakni Ketua Komisi Penyiaran Independen Daerah (KPID) Sulsel Rusdin Tompo.

“Salah satu tujuan komunikasi politik adalah membentuk citra politik yang baik ke masyarakat. Semua politisi berusaha menciptakan citra politiknya,” kata Armin.

Ia mengungkapkan, dalam politik, manipulasi menjadi kata yang netral. Semua orang yang berpolitik, pasti melakukan manipulasi. Karena itu, semua kandidat yang bakal maju di Pilkada atau pertarungan politik, selalu dituntut untuk berbaik-baik kepada siapa saja.

“Dalam politik, senyum pun bisa menjadi jualan politik,” ujarnya.

Sementara itu, Rusdin Tompo, menjelaskan, ada tiga peran media dalam perpolitikan. Antara lain, peran media dalam substansi pilkada, peningkatan partisipasi politik masyarakat, dan peningkatan kualitas demokrasi. Media menjadi penting sebagai wadah sosialisasi, apalagi regulasi selalu berubah-ubah.

“KPID mempunyai fungsi dan tugas untuk mengantisipasi apa yang disebut pertarungan udara. Pertarungan dalam pembentukan citra dan pembunuhan karakter melalui siaran media,” terangnya.

Tren pilkada tahun 2013, lanjutnya, sudah mulai mengerucut calon-calon yang akan bertarung. Jika tiga calon bertarung pada pilgub nanti, tentunya pertarungan akan jauh lebih elok dibandingkan hanya memunculkan dua calon atau head to head. Apalagi, saat ini, mulai muncul tren baru dalam penyiaran, kampanye yang saling menyerang.

“Dalam kajian politik, ini disebut amerikanisasi politik. Di Amerika, menjelang pemilu, sah-sah saja saling serang lewat media. Tapi, di Indonesia, kita mengenal etika berpolitik,” urainya.

Rusdin menambahkan, KPID akan menjaring, apakah iklan atau muatan media masuk dalam ranah pelanggaran atau tidak. Dalam tataran etika politik, hal tersebut bisa dipersoalkan. Tetapi, dari segi regulasi masih abu-abu. Pasalnya, regulasi kita hanya berpatokan pada masa kampanye saja.

“Di luar aturan masa kampanye, muatan-muatan siaran tunduk pada aturan pada umumnya,” imbuhnya.(RS5/D)

Komentar