oleh

Bansos Terjerat Hukum

Editor : rakyat-admin-Berita-

RAKYAT SULSEL — TAK terkirakan memang. Bantuan  sosial yang orang menyebutnya Bansos bisa terjerat hukum. Di masa lalu memang, Bansos adalah ajang bagi-bagi duit. Dia mengalir ke mana-mana, para politisi, LSM, Ormas ataukah organisasi lainnya yang tidak berbentuk. Bansos adalah noktah hitam sebuah pemerintahan, yang dia sendiri tidak tahu kalau dirinya sedang dikadali dan dikelilingi para pemangsa.

Laiknya, Bansos adalah sebuah wadah stimulan yang akan diberikan kepada orang perorang ataukah kelompok dalam melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan ini tentunya harus bersentuhan langsung dengan masyarakat. Di sana, diharapkan ada motivasi untuk berkarya.

Sayangnya, Bansos menjadi kehilangan makna ketika para politisi melihatnya sebagai peluang mengeruk uang negara. Tak peduli, apakah ini prosedural atau tidak–yang penting bagi mereka, proposal yang diajukan untuk memenuhi syarat untuk dibantu.

Disinilah masalahnya bermula, begitu banyak Ormas dan LSM yang kecipratan uang haram. Tak tanggung-tanggung, ada yang mengantongi ratusan  juta rupiah. Maka, tidak heran kalau pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat dibuat geram adanya. Toh pihak Kejaksaan sudah menyerat beberapa orang kebangku pesakitan. Disidang atas nama keadilan.

Tapi keadilan sungguh memang mahal. Orang-orang yang diperhadapkan ke meja hijau adalah orang-orang yang bertanggungjawab secara administrasi. Yang ironis, karena para penerima uang haram itu dengan bebasnya berkeliaran di luar sana, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Karena itu, bicara soal Bansos, seperti menonton sebuah orkestra yang sumbang.

Karena itu, pihak Kejaksaan tidak boleh menjadi peragu untuk terus mendorong masalah ini ke meja hijau. Sebab, rakyat tak ingin selalu disuguhkan dengan dagelan-dagelan menggelikan.

Bagi rakyat di negeri ini, Sulsel, penyelesaian masalah Bansos adalah persoalan keadilan. Dia bukan hanya menghukum rakyat kecil, tapi juga mampu melibas para pembesar yang mengisi kantong-kantong baju safari mereka atas nama Bansos.

Kita masih ingat  Masih ingat legenda Yunani kuno tentang kisah Dewi Themis. Keadilan yang coba dihadirkan manusia sebagai sebagai wakil Tuhan di muka bumi, membawa seperangkat timbangan yang digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seseorang sebelum menghukum.

Ini mungkin yang ditunggu rakyat kecil di pelosok-pelosok desa, di kampung-kampung, menunggu Dewi Themis untuk menghukum,  ataukah kita dengan sengaja membiarkan para politisi menguras uang negara, sembari berbincang di kafe-kafe bagaimana membodohi para birokrat. Sungguh tragis. (**)

Komentar