oleh

Tiga Saksi “Kompak” Ngaku Tak Tahu Seorang Staf Komisi Cairkan Bansos Rp1,9 M

Editor : rakyat-admin-Berita-

RAKYAT SULSEL–Sidang kasus dugaan korupsi penyelewengan dana Bantuan Sosial (Bansos) Pemprov Sulsel 2008 senilai Rp8,8 miliar yang melilit terdakwa Bendahara Pengelola Kas Daerah Pemprov Sulsel, Anwar Beddu, Selasa (5/6) kemarin kembali menguak fakta baru.

Dari tiga saksi yang dihadirkan, Pemegang Kas Daerah Pemprov yang juga Kuasa Bendahara Umum Pemprov Usman, Staf Komisi A DPRD Sulsel Firdaus, Staf Bendahara Umum Pemprov Tajuddin, semuanya mengaku mencairkan duit ke bank. Anehnya, ketiga-ketiganya juga mengaku tidak mengatahui, bahwa duit yang dicairkan itu adalah dana Bansos.

Saksi pertama, Usman kepada majelis hakim mengatakan bahwa uang yang ditarik dari rekening bank bendahara tidak mengetahui bahwa itu dana Bansos. Saat ditanya kapan mengetahui bahwa dana itu merupakan dana Bansos, Usman mengaku bahwa dirinya mengetahui uang tersebut merupakan dana Bansos usai dimintai keterangannya oleh penyidik di Kejati Sulselbar.

Saksi kedua, Firdaus juga menyatakan hal serupa. Saat itu dirinya diminta tolong oleh beberapa anggota DPRD Sulsel untuk mencairkan cek sebanyak 12 kali dengan total nilai Rp1,9 miliar dan tidak mengetahui dana tersebut merupakan dana Bansos. Terkait nama-nama anggota DPRD Sulsel yang disebutkan Firdaus, diantaranya; Dodi Amiruddin, Kamaruddin Nasar, Maparessa Tutu, Arifuddin Saransing, Mukhlis Panaungi.

“Setelah saya mencairkan dana tersebut, langsung saya serahkan uang itu kepada orang-orang yang telah menyuruh saya,” aku Firdaus sambil menjelaskan, bahwa saat mencairkan dana tersebut, dirinya ditemani orang dari lembaga atau yayasan penerima dana Bansos.

Terkait pengembalian uang Bansos ke DPRD provinsi, Firdaus tidak mengetahui hal ini. Dia menilai cek tersebut berasal dari Bendahara Pengelola Kas Daerah Pemprov, yang juga terdakwa, Anwar Beddu. “Katanya uang itu dari lembaga dan dibawa langsung ke DPRD Provinsi,” ujarnya.

Sementara itu, saksi terakhir, Tajuddin yang pada saat itu masih sebagai honorer di Pemprov Sulsel yang diperbantukan di staf bendahara, mengaku sering menulis dan mengeluarkan cek untuk pembayaran tagihan-tagihan, serta proposal yang masuk. “Segala bentuk kuitansi ataupun proposal yang telah masuk di meja bendahara saya ketahui telah memenuhi persyaratan,” tandasnya.

Meskipun tidak terlihat keabsahan dokumen dari lembaga atau yayasan yang terlampir tetapi Tajuddin menyatakan, dia hanya melihat stempel, tanda tangan biro keuangan, bendahara, sekretaris dan nama jelas suatu lembaga atau yayasan serta jumlah nominal yang tertera di kuitasi untuk di ajukan lagi ke bendahara.

Saat ditanya tentang pengembalian uang Bansos Tajuddin mengaku mengetahui hal itu dari kuitansi yang diterimanya langsung oleh bendahara dalam bentuk uang tunai yang berasal dari biro keuangan untuk di kembalikan ke kas daerah. “Saya baru tahu kalau itu dana Bansos setelah saya lihat di kuitansi,” akunya. (RS4/D)

Komentar