oleh

Konsumen Indonesia Doyan Produk Impor Ilegal

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-

RAKYAT SULSEL — Pemerintah saat ini tengah berusaha menjaga agar Indonesia tidak dibanjiri oleh barang-barang impor, apalagi yang sifatnya melanggar aturan atau ilegal.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan, sifat konsumen dalam negeri yang sangat suka membeli barang-barang ilegal bakal merugikan Indonesia.
“Jangan sampai kita dibanjiri oleh produk-produk yang melanggar aturan. Harus diingat juga bahwa konsumen Indonesia sangat suka dengan produk-produk ilegal, ini akan merugikan Indonesia,” tegas Gita di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/6).

Memang pada April lalu, neraca perdagangan Indonesia defisit akibat nilai impor yang lebih besar ketimbang ekspornya. Ini yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah, bagaimana meningkatkan ekspor di tengah kondisi krisis Eropa.
Saat ini, diakui Gita, masih banyak barang-barang impor ilegal yang masuk ke Indonesia. Seperti ribuan makanan yang dikemas dalam produk yang tidak sehat, justru beredar.
“Kita ini tidak anti impor tapi hanya membatasi produk-produk yang tidak benar. Dan untuk melawan itu, kita harus mengkonsumsi produk dalam negeri 60% dari PDB. Apabila kita mengkonsumsi itu akan meningkatkan nilai tambah kita dan menguatkan negara,” tutur Gita.

Gita melanjutkan, ke depannya, pemerintah akan mengadakan sebuah penyuluhan yang lebih meluas dan menyeluruh terhadap masyarakat. Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak lagi mengonsumsi produk impor yang berbahaya bagi kesehatan.
“Perlu ada penyuluhan secara menyeluruh, dan penegakkan di lapangan, agar kita lebih gesit untuk menjaga produk-produk yang tidak benar, kita ingin mengatur barang-barang yang masuk ini lebih terkait dengan produk-produk yang tidak melanggar peraturan,” tuturnya.

Di sisi lain, Gita menjelaskan, nilai ekspor yang semakin menurun tidak terpengaruh pada impor ilegal. Namun karena impor

bahan baku dan penolong yang cenderung naik. Dia mengatakan, naiknya impor bahan baku dan penolong tersebut dimaksudkan untuk menambah nilai tambah produk ekspor Indonesia, sehingga akan terjaga kualitasnya.
“Dalam ekspor produk-produk kita, tentunya akan banyak, impor bahan baku dan bahan penolong. Itu baru akan tercermin dalam ekspor produk-produk yang mengandung nilai tambah, mungkin enam sampai tujuh bulan berikutnya. Nah, jadinya saya percaya, ekspor kita ke depan akan mengandung nilai tambah,” ujarnya.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang April 2012 nilai ekspor Indonesia turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara impor makin marak. Ini menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 641,1 juta. (df/dul)

Komentar