oleh

Investasi Kimama Butuh Rp900 M

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-

RAKYAT SULSEL–PT Kawasan Industri Makassar (Kima) terus melakukan pengembangan usaha. Terutama melahirkan kawasan industri yang tertata rapi. Salah satunya dengan berencana membangun Kawasan Industri Makassar Maros (Kimama).
Direktur Utama PT Kima, Bachder Djohan, mengatakan, saat ini sudah ada lahan yang tersedia seluas 250 hektar  dan masih akan dibebaskan lagi 100 ha.
“Guna pengembangan Kimama dibutuhkan anggaran sebesar Rp900 miliar, termasuk lahan, infrastruktur, serta untuk membangun power plant, water treatment, dan power suplay. Kendalanya, karena belum ada investor atau pihak ketiga yang menyatakan ketertarikannya,” ujar Bachder.
Manajemen PT Kima terus berburu investor yang akan menanamkan investasinya. Termasuk salah satu langkah yang dilakukan dengan mendekati Bank BNI. Bachder mengharapkan, melalui Bank BNI ada investor yang tertarik dan dibiayai bank BUMN itu.
“Baru-baru ini kita mempresentasekan rencana pembangunan Kimama itu di depan Direktur Utama Bank BNI Gatot Suwondo. Besar harapan kita Bank BNI mendapatkan investor yang akan dibiayai. Pengembangan Kimama ini sudah menjadi keharusan guna melakukan penataan terhadap keberadaan industri di Sulsel,” jelasnya.
“Tidak ada kendala berarti dalam pengembangan Kimama nantinya. Apalagi, rencana ini sudah mendapatkan restu dari Bupati Maros dan Gubernur Sulsel.
Apalagi survei yang dilakukan Japan International Cooperation Agency (JICA) lokasinya sangat strategis, sebab dekat dengan Pelabuhan Makassar dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin,” tambahnya.
Bachder mempresentasekan kinerja Kima. Menurutnya dua tahun terakhir mencatat kinerja prestisius. Tahun lalu laba bersihnya menembus Rp15 miliar. Padahal, pada 2009, perusahaan patungan Kementerian BUMN, Pemprov Sulsel, dan Pemkot Makassar ini, dalam posisi rugi Rp812 juta.
Dijelaskan, saat pertama kali memimpin PT Kima, dia sangat prihatin. Kas perusahaan tidak normal. Bahkan, pada akhir tahun buku 2009 keuangannya tercatat merugi Rp812 juta.
Dengan kondisi tersebut, Bachder mengaku, melakukan beberapa perubahan. Misalnya, menghentikan sistem penjualan lahan dan mulai melakukan pembenahan. “Mulai dari semangat dan perilaku karyawan, perubahan orientasi bisnis dari jualan lahan atau gudang ke sistem sewa,” jelasnya.
Selain melakukan reorientasi bisnis, Kima juga membuka unit-unit usaha jasa. Misalnya, menyediakan jasa container yard bekerja sama Sinokor dan MTS dari Filipina.
“Kami menyediakan jasa alat berat dengan investasi Rp7 miliar. Kami memiliki container crane berkapasitas 45 ton (kapasitas terbesar di Makassar), dan membangun rumah susun sewa bantuan dari Kemenpera,” jelasnya.
Upaya lain adalah meningkatkan pelayanan seperti perbaikan infrastruktur, dan sarana penunjang kepada user gudang di Kima, berupa perbaikan workshop (pemeliharaan alat berat) dan pembangunan jalan beton.
“Ternyata upaya ini membalikkan keuangan perusahaan dari posisi rugi Rp812 juta menjadi untung Rp15 miliar pada 2011,” jelasnya.
Bachder mengatakan, keuntungan melejit, PT Kima juga berhasil meraih predikat AA dari Kementerian BUMN. Dengan prestasi itu, Kima urutan kedua setelah “saudaranya” PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Persero yang mengusai jasa kontainer di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta. (RS10/dul/D)

Komentar