oleh

Roem Bilang, Banyak Poli-Tikus tak Beretika

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-

Tak Mau Ikutan di Kapal Induk tapi Pilih “Kapal Fregat”
Idris Galigo: Bedakan Ayah dan Ketua Golkar

RAKYAT SULSEL–Wakil Ketua Partai Golkar Sulsel, HM Roem menyindir keras sejumlah politikus. Roem yang tak lain adalah Ketua DPRD Sulsel ini, bahkan dengan tegas menuding bahwa banyak politikus sekarang yang tidak beretika lagi.
Ia selanjutnya memberikan pengandaian. Dicontohkan, tak sedikit politikus saat kecewa terhadap sebuah keputusan parpol, kemudian mengerahkan massa. Selanjutnya, massa yang dikerahkan melakukan aksi anarkis yang justru merugikan masyarakat banyak. Ketenangan warga juga terganggu.
Tidak itu saja. Kata Roem, banyak politikus yang jika kecewa di partainya langsung jadi “kutu” loncat. “Padahal, dia besar karena partai yang ditinggalkannya,” kritiknya. Saat disinggung siapa orangnya, Roem sambil tersenyum mengatakan, “Banyak.”
Bagi Roem, berpolitik itu punya aturan. Juga, jelas ada etikanya. Sehingga, ketika orang lain terpilih, maka tidak perlu ngotot mempertahankan sesuatu yang bukan jadi milik kita. “Sekarang, tidak ada yang mau mengalah. Semua mau menang. Akhirnya, justru masyarakat yang menjadi korban,” tandas kader senior partai beringin ini.
Selain menyinggung politikus yang banyak tak beretika, Roem juga menggambarkan betapa karut-marutnya sistem di negeri ini. Ia menceritakan salah seorang calon legislatif yang terpaksa meminjam uang di bank hingga setengah miliar lantaran ingin menjadi caleg. Pinjaman bank plus bunga itu, dinilai Roem tak logis lagi.”Memang terpilih, tapi pertanyaan saya adalah bagaimana mengembalikan uang sebesar itu. Gajinya juga berapa,” tandas Roem, sambil geleng-geleng kepala.
Mantan bupati Sinjai dua periode ini, juga menyesalkan masyarakat yang lebih bersikap pragmatis. Dalam artian, lebih memilih uang ketimbang menyeleksi calon yang berkualitas. “Sudah seperti itu sekarang. Sehingga, banyak calon yang terpilih tidak berkualitas,” tandasnya.

Bukan Kapal Induk
Selain mengeritik politikus tak beretika, Roem juga mengaku bukan penumpang Kapal Induk yang merupakan nama dari tim induk pemenangan Syahrul Yasin Limpo. Namun, Roem mengaku, lebih memilih naik di kapal “fregat”. Sekadar informasi, kapal fregat adalah salah satu jenis kapal perang.
“Biarlah yang lain naik Kapal Induk. Saya akan naik kapal fregat. Kapal inilah yang akan mengawal Kapal Induk itu,” ujar Roem, pasti.
Roem kemudian mengisahkan munculnya istilah Kapal Induk itu. Dikatakan, sebenarnya tim pemenangan Syahrul mempunyai banyak “kapal”, bukan hanya Kapal Induk. “Di samping ada Kapal Induk, ada kapal-kapal lain yang mengawalnya. Tetapi karena terlanjur sudah terkenal dengan Kapal Induk, ya sudahlah. Tapi, saya akan memilih naik di kapal perang yang akan terus mengawal Kapal Induk itu,” tandasnya, memberikan pengandaian saat menerima tim Harian Rakyat Sulsel di ruang kerjanya, kemarin.
Saat menerima Rakyat Sulsel, Roem juga berbicara banyak hal. Termasuk, masih banyaknya legislator Sulsel yang malas masuk. “Ya, sampai sekarang banyak teman-teman yang masih malas masuk, sampai-sampai rapat kadang tidak korum,” keluhnya.
Roem juga menjawab pertanyaan seputar kemelut Golkar yang terjadi di Takalar dan Bone. Menurut Roem, aksi pembakaran atribut Golkar di Bone bukan dilakukan oleh kader Golkar. “Kalau kader Golkar, saya yakin tidak akan sampai membakar atribut. Kalau pun marah, paling hanya sesaat. Kader Golkar tidak akan sampai hati membakar rumahnya.”
Menurutnya, kisruh di Bone terjadi karena Golkar sebagai partai besar memiliki banyak pasukan yang selalu siap berperang. Namun, medan perang yang tersedia minim. “Sehingga, terjadi perang saudara di kubu partai sendiri,” ucapnya.

Ayah Kandung dan Ketua Parpol
Sementara ayah Cicang, Idris Galigo, yang juga Ketua DPD II Golkar Bone, mengaku sudah menugaskan secara khusus Wakil Ketua DPD II Golkar Bone, A Akbar Yahya, untuk menindaklanjuti penetapan DPP Partai Golkar itu dan memenangkan calon bupati dan wakilnya di Bone. Hanya saja, kata Bupati Bone dua periode ini, DPD II Golkar Bone belum menerima surat secara resmi terkait penetapan calon dan wakilnya yang diusung Partai Golkar yakni A Fahsar Padjalangi dan Ambo Dalle.
Terkait keputusan sang putra mahkota maju melalui jalur perseorangan, menurut Idris, adalah pilihannya sendiri. Kata Idris, Cicang pasti sudah tahu sanksi dari partai dengan pilihannya bertarung melawan pasangan A Fahsar Padjalangi dan Ambo Dalle yang diusung Partai Golkar. Dia beranggapan, jika Irsan memang sudah resmi mendaftar di KPU sebagai calon Bupati Bone melalui jalur perseorangan, tidak perlu dipecat. “Dia sendiri yang akan mengundurkan diri,” tegasnya.
Idris mengatakan, dia adalah kader Golkar yang tidak pernah loncat pagar. Sebesar apapun badai yang melanda Golkar, dia tetap bersama partai ini.
Bahkan, kata Ketua DPD II Golkar Bone ini, dulu dia lebih memilih untuk pensiun dini sebagai jaksa dan memilih bersama Partai Golkar.
Dia berharap, agar dapat dibedakan antara kepentingan dirinya selaku ayah kandung Cicang dan sebagai Ketua DPD II Golkar. Menurutnya, majunya Cicang melalui jalur perseorangan itu merupakan hak pribadi dari yang bersangkutan, dan Irsan sendiri sudah legowo menerima keputusan DPP. “Dia juga sudah mengetahui sanksi dari partai, jika dirinya sudah secara resmi mendaftarkan dirinya di KPU sebagai calon Bupati Bone. Dan sampai saat ini, KPU kan belum membuka pendaftaran itu,” ungkap Idris Galigo. (K19-RS6/D)

Komentar