oleh

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mengadu Ke DPRD

Editor : rakyat-admin-Daerah-

RAKYAT SULSEL — Pahlawan tanpa tanda jasa, itulah julukan atau penghargaan yang lekat pada sosok seseorang yang berprofesi sebagai Guru. Pengabdiannya untuk memajukan bangsa sungguh sebuah pekerjaan yang mulia, tapi nasib sebagai guru sangatlah berbanding terbalik dengan apa yang sering dialami para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Mulai dari tingkat kesejahteraan yang masih terbilang pas-pasan, hingga perlakuan tidak adil yang mereka terima.
Seperti yang terjadi dikabupaten Wajo, Sebanyak 9 Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Madukkelleng Ungulan Kabupaten Wajo, terpaksa mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pasalnya para guru ini mengaku sering diperlakukan tidak adil oleh sang kepala sekolah, yang sering bertindak arogan.
Dihadapan Tim penerima aspirasi, para guru yang diwakili oleh Syahrir S.pd , menuntut agar Dra. Hj. Jawariah segera mundur dari jabatannya sebagai kepala sekolah. “Pengelolaan anggaran keuangan tidak transparan, tidak adanya perbedayaan guru dan kerap bersikap arogan kepada kami pak,” jelas Syahrir.
Mereka juga meminta kepada anggota dewan yang terhormat agar menfasilitasi menyelesaikan persoalan ini secepatnya, karena mereka sudah tidak merasa tenang lagi mengajar disekolah itu.
Mereka hanya bisa menerima pasrah janji dari Ketua tim penerima aspirasi Dewan yang diketuai, Taqwa Gaffar, yang mengatakan jika pihaknya dalam waktu dekat ini akan segera menurunkan tim investigasi.
“Sementara aspirasi dari bapak dan ibu kami tampung, dalam waktu dekat kami akan turunkan tim investigasi,” kata Taqwa dihadapan sejumlah guru yang hadir di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tersebut.
Wakil Ketua DPRD Wajo, Ir Junaidi Muhammad, juga menyayangkan masalah yang terjadi ini, dirinya berharap masalah ini  bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, karena kasihan bagi para guru dan siswa.
“Saya lebih melihat dampak terhadap sekolah ini, jangan sampai adanya kejadian ini justeru siswalah yang akan menanggung kerugian, saya lebih mau ini diselesaikan secara kekeluargaan,” katanya.
Dari sejumlah guru yang mengajar di SDN 2 Maddukkelleng, 80 persen dari guru tersebut meminta kepala sekolah mundur, ini berarti lebih banyak yang menginginkan Dra. Hj Jawariah untuk mundur. Semoga masalah ini segera dapat terselesaiakan, agar para pahlawan tanpa tanda jasa itu bisa kembali berkonsentrasi mencerdaskan bangsa. (K18/dj/C)

Komentar