oleh

Risiko Kredit Ancam Stabilitas Perbankan

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-

RAKYAT SULSEL — Sebagai salah satu implementasi prinsip transparansi dan akuntabilita pelaksanaan fungsi Bank Indonesia dalam menjaga stabilita keuangan, Bank Indonesia melakukan Sosialisasi dan seminar Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia, di Makassar Selasa (31/5).

Bank Indonesia mengeluarkan kajian Stabilitas Sistem Keuangan (KSK) No 18, Maret 2012, untuk membantu pemangku kepentingan, khususnya pelaku pasar keuangan dan pembuat kebijakan dapat mencermati risiko di dalam sistem keuangan secara dini sekaligus mitigasi risiko dengan baik.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah I Sulawesi, Maluku dan Papua, Arief Budi Santoso mengatakan kegiatan ini sebagai transparansi dan akuntabilitas BI dalam melaksanakan tugasnya. Kegiatan ini dibagi dalam tiga sesi, pertama Kajian Stabilitas Keuangan (KSK), kedua Laporan Pengawasan Perbankan (LPP) tahun 2011, dan yang ke tiga Pengaturan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

“Semoga sosialisasi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat kepada stakeholders, akademisi, pakar ekonomi, ketua-ketua asosiasi pelaku usaha dan perbankan. Tujuannya agar masyarakat atau publik bisa tau berbagai risiko yang ada yang bisa mengancam stabilitas ekonomi Nasional,” ujarnya.

Secara umum, Struktur dan jaringan perbankan selama tahun 2011 menunjukan perkembangan yang positif, jaringan kantor bank meningkat cukup pesat jumlah bank konvensional sebanyak 109 bank, jumlah unit usaha syariah (UUS) 24, Bank umum Syariah (BUS) sebanyak 11 dan BPRS menjadi 155.

Sepanjang 2011 pertumbuhan KPR dan KKB cukup tinggi, yaitu KPR sebesar 32,90% (yoy) dan KKB sebesar 32,12% (yoy). Pertumbuhan KPR yang tinggi akan mendorong kenaikan harga properti yang di khawatirkan akan bersifat buble, sehingga dapat meningkatkan risiko kredit bagi bank-bank dengan exposure kredit properti yang besar.

“Ketentuan ini diharapkan dapat mengerem prakterk penjualan perumahan dan kendaraan bermotor yang terkesan jor-joran, misal hanya dengan Rp 500 ribu konsumen sudah bisa membawa pulang motor seharga Rp 12 juta. Jika hal ini tidak di tekan maka resiko kemacetan akan sulit dihindari,” tambah Arief.

Untuk mengantisipasi lebih awal BI sudah memberikan peringatan akan terjadinya resiko kredit dan resiko likuiditas dengan menerapkan manajemen risiko sesuai dengan PBI No 5/8/PBI/2003 tanggal 19 mei 2003 tentang penerapan Manajemen risiko bagi Bank Umum. Jenis resiko yang menonjol dalam Industri perbankan adalah resiko kredit dan operasional. (RS10/una/C)

Komentar