oleh

Pelancong ke RI Cuma Sepertiganya Malaysia

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-

RAKYAT SULSEL — Sektor pariwisata Indonesia benar-benar bertekuk lutut dari Malaysia. Hal ini setidaknya terlihat dari data World Economic Forum (WEF) yang menemukan jumlah pelancong ke Malaysia lebih banyak 300 persen dibandingkan Indonesia.

Malaysia mencatat jumlah kunjungan turis selama 2011 mencapai 24,71 juta orang atau 87,5 per 100 populasi warganya. Sementara itu, Indonesia dengan segala keindahan alamnya, hanya mampu mendatangkan turis sebanyak 7,65 juta orang atau 3,2 per 100 populasi warga.

“Malaysia merupakan salah satu dari 10 negara tujuan wisata paling top dunia,” kata Associate Director, Economist, Global Competitiveness Network, World Economic Forum (WEF) dalam Laporan “The ASEAN Travel & Tourism Competitiveness Report 2012” yang diperoleh VIVAnews.

Dengan banjirnya kedatangan pelancong ke Negeri Jiran tersebut, WEF memperkirakan pendapatan yang diperoleh Malaysia tahun lalu mencapai US$18,26 miliar, atau Rp164,33 triliun. Pendapatan yang diperoleh Malaysia ini mencapai 7,7 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara mereka.

Sementara itu, Indonesia mencatat pemasukan dari sektor pariwisata sebesar US$7,95 miliar atau Rp71,57 triliun. Perolehan ini terbilang kecil, karena hanya mampu meraup porsi PDB sebesar 1,1 persen.

Dari 14 kriteria penilaian daya saing sektor perjalanan wisata (travel) dan pariwisata dunia, WEF memberikan penilaian cukup tinggi bagi Malaysia dalam hal penawaran harga. Negara ini menempati posisi ketiga dunia dan menguntit di bawahnya adalah Indonesia.

Untuk urusan daya saing harga, Brunei Darussalam menjadi negara paling baik dengan menempati posisi pertama dunia.

Walau mencatat kekalahan hampir di semua indikator daya saing sektor pariwisata, Indonesia sedikit bisa berbangga, karena unggul dari Malaysia dalam dua kriteria penilaian. Kedua faktor tersebut adalah masalah keselamatan dan keamanan serta skala prioritas sektor travel dan pariwisata.

Dari skala 1-7, nilai Indonesia untuk indikator keselamatan dan kesehatan mencapai 4,7. Sementara itu, untuk prioritas kedua sektor itu, Indonesia memperoleh nilai 5,7. (vn/una)

Komentar