oleh

Sulsel Terancam Kehabisan BBM Bersubsidi

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis, HL-
ilustrasi

RAKYAT SULSEL — Kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 sebesar 40 juta kiloliter akan habis pada Oktober 2012 mendatang, hal ini telah di prediksi oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan melihat kuota yang disediakan oleh pemerintah yang semakin menipis.

Fenomena kelangkaan BBM bersubsidi ini juga sudah dirasakan sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Bali, dan Jawa Tengah. begitu juga dengan wilayah sul-sel yang mulai terancam kehabisan kuota BBM bersubsidi, karena persediaan yang diberikan oleh pemerintah di bawah standar kebutuhan ril di lapangan, hal ini diungkapkan oleh Eksternal Relation PT. Pertamina Rabu, (30/5).

Kuota BBM bersubsidi yang disediakan oleh pemerintah pusat untuk Sul-sel tahun 2012, Premium 781655 Kiloliter dan Solar 442.557 Kiloliter. Sementara realisasi sampai dengan April kuartal pertama 2012 premium 291.550 Kiloliter dan solar 149.168 kiloliter, jika di akumulasi dengan kuota yang diberikan oleh pemerintah sampai bulan april, maka kuota untuk Sul-sel akan mengalami over.

Hal ini disebabkan tidak sesuainya antara kuota yang disediakan oleh pemerintah dengan kebutuhan ril masyarakat sul-sel. Padahal Pertamina sudah memberikan gambaran dan rekomendasi mengenai kondisi dan kebutuhan  ril masyarakat, tetapi selalu yang direalisasikan di bawah standar kebutuhan.
Dalam rekomendasi pertamina meminta kuota 70 tetapi yang diberikan oleh pemerintah hanya 50, makanya selalu over karena kuota yang diberikan di bawah standar alias tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada. sehingga wajar jika terjadi kelangkaan atau kehabisan stok sebelum waktu yang ditentukan oleh pemerintah.

Pertamina sebagai perusahan plat merah hanya mengelolah kuota yang diberikan oleh pemerintah untuk bahan bakar bersubsidi, dan jika kehabisan kuota maka pemerintahlah yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan BBM di masyarakat, sehingga roda perekonomian di indonesia khususnya di Sul-sel bisa berjalan dengan baik.

Hal ini juga ironis dengan pesatnya pertumbuhan kendaraan di Sul-sel, sehingga dengan kuota yang dibawah standar ini sulit mengakomodasi pemakaian BBM bersubsidi yang sangat banyak.

Terkait juga dengan banyaknya konsumen yang membeli BBM dengan jergen bisa mengakibatkan distribusi BBM yang tidak merata sehingga ancaman kelangkaan akan segera terasa jika tidak ada antisipasi dari pertamina secara serius dan pengawalan yang ketat.

Komentar