oleh

Carrefour Keluhkan Kejelasan Pasokan Produk Lokal

Editor : rakyat-admin-Ekonomi & Bisnis-
Suasana di salah satu pusat perbelanjaan Carrefour. Pemerintah akan membatasi produk impor yang beredar di pasar modern.

RAKYAT SULSEL — Peredaran berbagai produk impor di pasar modern bakal segera dibatasi. Kebijakan ini bisa sia-sia jika tidak diimbangi strategi meningkatkan kualitas produk lokal.
Pemerintah akan membatasi produk impor yang beredar di pasar, terutama di pasar modern. Artinya, bisa saja makanan dan minuman impor atau buah impor yang selama ini bebas beredar akan dibatasi. Kementerian Perdagangan (Kemendag) sedang menggodok beleid yang akan membatasi peredaran produk impor di pasar.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Gunaryo mengatakan, pengaturan produk impor itu akan terintegrasi dengan revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba yang sedang digodok. “Kami ingin mendorong pasar Indonesia mengutamakan produk lokal,” cetus  Gunaryo.
Menurut Gunaryo, dalam Permendag Nomor 53 tahun 2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern sebenarnya mencantumkan poin untuk mengutamakan produk dalam negeri. Namun, aturan itu belum diatur secara mendetail. Nantinya, aturan pembatasan produk impor itu akan berbeda untuk setiap jenis ritel.
“Ada peritel kuliner yang taplak mejanya pun diimpor, padahal kita bisa memproduksi sendiri,” ungkapnya
Revisi Permendag tersebut juga akan menetapkan kriteria produk dalam negeri. Akan ada lima hingga enam kriteria. Misalnya, produk harus diproduksi di dalam negeri, menggunakan bahan baku lokal dan menyerap tenaga kerja walaupun produknya berlabel merek global. Gunaryo memastikan, paling telat akhir tahun ini, peraturan baru tersebut akan keluar.
Menanggapi soal revisi ini, pengusaha ritel langsung meminta pemerintah meninjau ulang rencana ini. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, menjamurnya produk impor yang sampai ke kaki lima itu karena adanya permintaan yang relatif tinggi
Ia menyarankan supaya pemerintah lebih memperhatikan industri lokal supaya bisa bersaing dengan produk dari luar negeri.
“Bisa saja kita membatasi impor buah, tapi harus siap mengkonsumsi buah lokal. Nah, apakah kita sudah siap atau belum dengan mengkonsumsi buah lokal terus,” tanya Tutum.
Wakil Sekjen Aprindo yang juga Head of Public Affairs PT Carrefour Indonesia Satria Hamid Ahmadi menegaskan, peritel tidak anti produk lokal atau lebih percaya pada produk impor. Persoalannya, tidak semua produk lokal bisa bersaing dan dipasok secara kontinyu. Produk yang pasokannya tidak secara kontinyu relatif beragam mulai dari hortikultura sampai makanan dan minuman dalam kemasan.
“Lebih baik jangan memaksakan menjual produk lokal karena infrastrukturnya sendiri belum jalan,” saran Satria.
Aturan tersebut, menurutnya, juga bisa memicu persaingan yang tidak sehat. Misalnya bagi peritel, terutama menyasar segmen atas, yang mengkhususkan diri menjual produk impor. Carrefour Indonesia sendiri, kata Sat­ria, menjajakan sekitar 95 persen produk lokal.
“Sebetulnya adanya produk impor tersebut ada sisi positif. Konsumen tidak perlu pergi ke luar negeri untuk membeli produk impor. Plus investor sudah membayar pajak impor yang menjadi pemasukan negara,” ujarnya. (rm)

Komentar