oleh

Ketika “Kaisar” Bertitah kepada Sang “Putra Mahkota”

Editor : rakyat-admin-Berita-

Ibrahim Rewa: Bupati Itu, Ada Garis Tangan

RAKYAT SULSEL — BUPATI TAKALAR, Ibrahim Rewa bertitah kepada “putra mahkota”-nya, Natsir Ibrahim alias Nojeng. Titah itu terkait sikap seorang pemimpin, godaan kekuasaan, serta bentuk pengabdian.     Pernyataan Ibrahim Rewa itu, disampaikan saat menerima Rakyat Sulsel di Rujab Bupati, Takalar, Senin (28/5) sore. Berikut petikan lengkapnya.
Saat terjadi gejolak di Takalar, saya dan Nojeng tidak ada. Saat itu, saya berada di Jakarta. Demikian pula Nojeng.
Memang ada yang mencoba ‘memprovokasi’
sehingga hal itu terjadi (pembakaran atribut Partai Golkar, Red). Termasuk, sudah ada rapat-rapat di internal Golkar. Menurut saya, hal seperti itu (rapat orang-orang tertentu, Red) tidak beretika. Padahal, dalam politik, selalu ada etika.
Saya sampaikan kepada Nojeng untuk tetap membela Partai Golkar. Sebagai ketua, Nojeng harus bersikap. Sebagai ketua pula, Nojeng tidak bisa mundur begitu saja. Karena, banyak orang berada di belakangnya.Pemimpin tidak boleh meninggalkan arena perang, sampai titik darah terakhir dirinya harus membela pasukannya. Cuma harus jeli membaca kondisi dan arah angin. Mengingat kalau lari dari gelanggang akan menjadi sejarah hitam bagi generasi penerusnya.
Soal bupati, itu ada garis tangan. Tuhan telah menggariskannya.
Kita tidak boleh hanya tergoda kepada kekuasaan. Tetapi, yang terpenting, bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk kepentingan rakyat.
Saya juga sampaikan ke Nojeng, kamu masih muda. Masih panjang perjalananmu. Kalau sekarang belum, mungkin di masa mendatang ada peluang.
Tetapi, itu tadi. Semua tergantung bagaimana  kamu menunjukkan pengabdianmu untuk kepentingan rakyat. Kepentingan orang banyak. (yos)

Komentar