oleh

Pemecatan Menanti “Putra Mahkota” Bone

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-

Maju Kena, Mundur pun Kena

RAKYAT SULSEL — Maju kena, mundur kena. Atas kena, bawah pun kena. Itulah gambaran kondisi yang dialami Andi Irsan Galigo, putra mahkota Bupati Bone, Idris Galigo. Maju sebagai calon independen, dia terancam dipecat DPP Partai Golkar. Posisinya sebagai wakil rakyat di dewan pun terancam hilang. Mundur dari pencalonan, jelas menjadi sebuah aib bagi keluarga.
Kendati “sang kaisar” Idris Galigo memberi restu kepada sang putra mahkota maju lewat jalur independen, di sisi lain, tentu menjadi stigma memalukan bagi Partai Golkar. Namun, Andi Cicang–demikian sapaan akrab Irsan Galigo–telah mengibarkan bendera perlawanan. Ia tetap kukuh maju sabagai 01 dan menolak kompromi politik yang ditawarkan. Apapun itu caranya, tetap memilih 01, termasuk memilih jalur independen.
Nah, sayangnya, sebagai kader Golkar, keinginannya maju lewat jalur independen itu membuatnya dalam posisi terancam sanksi DPP Partai Golkar.
Wakil Sekretaris Jenderal  DPP Partai Golkar, Syamsul Bachri menegaskan ancaman tersebut. Menurut politisi asal Sulsel itu, dalam Juklak  Pilkada dan Pedoman Organisasi (PO) partai disebutkan; “barang siapa yang maju sebagai calon kepala daerah  selain yang diputuskan partai, harus bersiap menerima  konsekuensi”.  “Itu artinya, apakah dia maju lewat partai lain atau lewat jalur  independen, itu sama saja sanksinya. Karena itu  menyimpang dari partai dan dianggap melawan  kebijakan partai,” tegas Syamsul kepada Rakyat Sulsel, malam tadi.
Syamsul menambahkan, ketika seorang kader maju  melawan calon yang diusung Partai Golkar, itu akan  mengganggu soliditas partai. Sehingga, jika Cicang maju  lewat jalur lain, maka DPP sudah menyiapkan sanksi.  Sanksi terberat adalah pemecatan dari partai, dan otomatis dia juga harus hengkang dari DPRD Sulsel.
Namun, DPP sebut Syamsul, mengharapkan Irsan  tetap pada tawaran partai, maju berpasangan dengan  Andi Fahsar Padjalangi. Syamsul mengaku memahami  kekecewaan Galigo. Namun, itu tadi, DPP sambungnya, sudah  berdasarkan aturan. “Memang dalam setiap keputusan,  tentu saja ada yang puas. Juga, ada yang tidak puas.  Kami putuskan Fahsar (Padjalangi), setelah melihat hasil survei, di  mana elektabilitas dan popularitas Fahsar lebih tinggi,” jelasnya.
Untuk itu, Syamsul mengharapkan, mereka yang puas diharapkan  bekerja keras, sungguh-sungguh, dan tidak main-main.  Sementara yang tidak puas, diharapkan bisa memahami  keputusan partai yang dibuat secara proporsional, jernih, dan tidak diskriminatif. “Saya kira ini bukan hanya berlaku untuk di Bone, tapi juga di Takalar dan Palopo,”  harapnya.
DPP sudah mengeluarkan  keputusan yang menetapkan Fahsar sebagai calon  bupati Bone dari Partai Golkar. Hanya saja, Syamsul mengaku tidak mengetahui persis apakah surat tersebut  sudah diterima Fahsar atau belum. “Setahu saya sudah keluar, cuma saya belum tahu, apakah surat tersebut  sudah sampai kepada Fahsar atau belum,” bebernya.
Sebelumnya, Ketua DPD II Partai Golkar Bone, Andi Idris Galigo yang juga ayah dari Andi Irsan Galigo,  mengatakan, Irsan akan maju lewat jalur independen (Baca Rakyat Sulsel edisi, Sabtu 27/5).  Irsan sebut Galigo, memiliki hak politik untuk maju.
Menurutnya, jika maju lewat jalur partai lain, memang ada sanksi dari Partai Golkar. Tetapi, jika lewat jalur  independen, itu belum diatur dalam aturan partai.

Galigo Dizalimi
Keputusan DPP Partai Golkar mendepak Andi Cicang, mendapat tanggapan dari rivalnya. Ketua tim pemenangan calon wakil bupati Bone Zakir Sabara H Wata, Selaraz for Zakir (Selatan Barat untuk Zakir), Arman Muis berpendapat  Bupati Bone Andi Idris Galigo yang juga Ketua DPD II Golkar Bone, dizalimi Golkar. “Kasihan Idris Galigo. Puluhan tahun berdarah-darah dan pasang badan membesarkan Golkar, tapi hanya karena kepentingan pragmatis kelompok di Golkar, sehingga dengan gampangnya dicampakkan. Idris dan putranya Irsan Idris benar-benar teraniaya dan terzalimi di Golkar,” kata Arman.
Andi Cicang menurutnya, punya potensi mendapat simpati dari pendukung fanatiknya. “Saya kira langkah tepat Irsan tetap maju melalui jalur independen. Tentu saja, untuk membuktikan bahwa memang Irsan memiliki pendukung fanatik. Ini akan memperjelas peta kekuatan pemilihan bupati di Bone, dan imbasnya di Pilgub kelak.
Namun, beberapa kalangan menilai, pernyataan Arman ini adalah sebuah strategi agar Cicang betul-betul maju. Nah, jika Cicang maju lewat independen, maka kemungkinan kuda hitam akan muncul. “Kalau Fashar-Cicang paket, sulit tertandingi,” tandas salah seorang warga Bone yang sudah lama tinggal di Makassar, seraya minta namanya tidak disebutkan.

*Andi Cicang Harus Berbenah
Terpisah, Direktur Politik dan Media Jaringan Riset Nasional (JRN), Anis Kurniawan menilai keputusan DPP Golkar tersebut sudah sangat objektif dan terbilang cukup berani. Seperti diketahui,  jauh-jauh hari diprediksi, Cicang bakal mengendarai Partai Golkar dengan dukungan pengaruh orang tuanya sebagai orang nomor satu di Golkar Bone.
“Survei di Bone dilakukan secara objektif dan hasilnya kalah elektabilitasnya dari pesaingnya di internal Golkar. Keputusan DPP Golkar sangat berani dan memberi pelajaran politik, khususnya bagi keluarga incumbent yang berniat ikut bertarung” jelas Anis.
Menurutnya, pelajaran berharga dari semua itu adalah pentingnya menyiapkan kader-kader yang akan diusung. Tidak kemudian secara sporadis dan instan dimunculkan begitu saja karena ada kharisma  orang tuanya  yang mendompleng.
Oleh sebab itu, bagi para anak bupati atau pejabat yang ingin bertarung di daerah lain, harusnya mempersiapkan diri. Terutama dalam hal menunjukkan kapasitasnya secara mandiri, sehingga interest publik berpihak padanya. Tidak karena ia anak pejabat, tetapi karena aspek kepantasan personalnya.
“Ini juga menjadi pelajaran, bahwa demokrasi membuka ruang bagi siapa pun. Jadi tidak boleh lagi ada keraguan dalam berkompetisi sejauh memang mendapat dukungan dari masyarakat luas,” tambah Anis.
Dia juga menyatakan, sikap profesionalisme dalam berpolitik harus juga ditunjukkan bagi anak bupati tersebut, karena apa yang dikeluarkan Partai Golkar itu merupakan sikap yang nyata dan itu juga merupakan hasil survei yang dihasilkan Golkar.
“Nah, kalaupun dari anak bupati tersebut mengambil langkah hengkang ke partai lain, itu juga bukan sebuah solusi, dan bisa saja karier politiknya akan berakhir,” ulasnya.

*Potensi Jalur Independen
Potensi di jalur independen menurut Direktur Celebes Research Centre (CRC) Herman Heizer sangat besar bagi Andi Cicang. Di mata Herman, Andi Cicang akan menjadi pesaing utama bagi kandidat yang diusung Partai Golkar, Fashar Padjalangi, bahkan peluang itu cukup terbuka.
Namun, Herman tidak bisa memberikan secara rinci hasil survei yang dilakukan. “Saya tidak bisa memberikan secara rinci hasil surveinya. Namun, yang pasti, Fashar berada teratas disusul oleh Cicang. Tapi, perbedaan keduanya tidak terlalu signifikan,” bebernya saat dihubungi Rakyat Sulsel, kemarin.
Selain itu, lanjut Herman, peluang faktor keluarga akan sangat membantu perolehan suara Andi Cicang di Pilkada. “Karena kita ketahui dia adalah anak kandung dari bupati Bone sekarang, Idris Galigo yang notabenenya punya pengaruh terhadap perolehan suara anaknya. Kekuatannya juga ada pada struktur organisasi birokrasi yang saat ini Cicang Anggota DPRD Sulsel,” paparnya.
Herman menambahkan, kalau Andi Cicang sudah jauh hari mempersiapkan dirinya untuk maju di Pilkada Bone, dengan kerja-kerja politik ke masyarakat yang bisa membangun kedekatan kepada setiap kepala desa yang ada di Bone.”Saya kira, dia sudah punya rencana-rencana matang untuk memilih jalur independen,” tandasnya. (RS5-RS6-RS9)

Komentar