oleh

Dua Kali Dikhianati, Rudi Mengaku Petarung ;Ancam Gaet Konstituen SYL-IAS

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-

RAKYAT SULSEL — JIKA Ilham Arief Sirajuddin disebut petarung, Syahrul Yasin Limpo sebagai guru petarung, Rudiyanto Asapa juga tak mau ketinggalan. Kandidat gubernur Sulsel 2013 itu mengaku juga sebagai petarung lantaran dua kali dikhianati sebagai politikus. Lantas siapa petarung sejati?.
Rudi-begitu Rudiyanto Asapa disapa, memang banyak yang mengunder-estimate atau memandang sebelah mata peluangnya untuk maju sebagai Cagub Sulsel 2013 mendatang. Bukan apa-apa, sampai sekarang, syarat 12 kursi atau 15 persen jumlah kursi parlemen di DPRD Sulsel untuk diusung sebagai kandidat belum terpenuhi.
Namun, sebagai petarung, Bupati Sinjai dua periode itu tak menganggapnya sebuah masalah. Rudi tak kehilangan solusi. Dirinya mengatakan bahwa partai nonparlemen juga sudah siap untuk mendukungnya.”Jalan apapun akan saya tempuh. Saya ini bukan politisi yang baru kemarin. Saya sudah pernah dikhianati dua kali. Di PDIP dan RepublikaN. Saya ini petarung,” ucap Ketua DPD Gerindra Sulsel itu di sela perayaan sederhana hari ulang tahunnya yang ke-55, Sabtu (26/5) kemarin.
Seperti apa solusi yang dimaksud Rudi?. Jika menilik pencapaian 12 kursi, nyaris Rudi berharap pada partai yang belum mengeluarkan rekomendasi; PKS, Partai Hanura, dan sisa-sisa  partai nonparlemen. “Urusan itu bukan domain DPD I Gerindra Sulsel, tetapi itu kewenangan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerindra. Itu sudah menjadi mekanisme partai,” tegas Ketua DPD I Gerindra Sulsel itu.
Terkait dengan dukungan Partai RepublikaN Sulsel yang condong ke pasangan IA, Rudi mengeluarkan kecaman,  jika RepublikaN tidak mendukung dirinya, maka siap-siap saja partai tersebut akan kehilangan basis di Sulsel. “Semua orang tahu bahwa saya adalah salah satu pendiri Partai RepublikaN di Indonesia Timur. Bendera Pataka partai itu  juga, masih ada saya simpan,” tuturnya.
Tetapi,  jika RepublikaN tak mengindahkan kecamannya, Rudi hanya pasrah dan mempersilakan publik yang menilai. “Kalau Partai RepublikaN tetap mau mengingkari itu dan tidak mengusung saya. Silahkan. Saya tidak sakit hati dan saya tetap demokratis menilainya. Biarkan masyarakat yang menilai seperti apa partai ini,” tandasnya.
Untuk dua Cagub yang disebut guru petarung dan petarung, SYL dan IAS sesumbar memberikan warning kepada keduanya untuk berhati hati dan menjaga konstituennya. “Saya optimistis bisa mengambil 25 persen suara dari Syahrul dan 25 persen dari  Ilham. Saya tidak bisa menyebut basis saya di mana dan partai apa saja yang akan mendukung saya karena kalau itu ketahuan sekarang, saya takut itu bisa disabotase oleh orang. Belum waktunya saya bocorkan hal tersebut,” ungkap Rudi.
Disinggung dengan pasangannya yang disebut-sebut ‘kutu loncat’ dari partai lain (Demokrat), Rudi menganggapnya itu akan semakin menambah resistensi suaranya. “Sejak diketahui publik siapa pasangan saya, kondisi politik di Pilgub mulai berubah. Tidak ada yang tahu siapa yang akan menang nanti?. Semuanya bisa terbalik. Kami juga melihat kondisi Sulsel perlu perbaikan dan perubahan. Jadi tolong suruh Don’t Stop Komandan dan Semangat Baru untuk hati-hati,” ancam Rudiyanto.
Ditambahkan Rudi, dirinya akan membuat kejutan pada saat deklarasi, 10 Juni mendatang.  Termasuk partai apa yang akan mendukung dirinya. “Segala sesuatu bisa berubah sampai pada final penghitungan hasil suara,”ujarnya.
Sesumbar Rudi rupanya tidak semudah fakta di lapangan.  Jika dibandingkan dengan SYL dan IAS, tingkat elektabilitas atau keterpilihannya, jauh tertinggal.Hasil survei Latompi Indonesia (Latin) Institute yang dilakukan sejak Maret 2012 lalu di kota asal Rudi, Sinjai. Tingkat elektabilitas Rudi hanya di kisaran 10 persen. “Sedangkan pasangan IA mencapai angka 29 persen. Sementara tingkat elektabilitas SYL jauh lebih tinggi meninggalkan kandidat lainnya yang mencapai 59 persen. Selebihnya, tidak menyatakan sikap,” urai Mu’min Elmin, Manajer Media dan Analisis Publik Latin Institute, belum lama ini.
Senada, Manager Strategi Indonesia Timur Jaringan Suara Indonesia (JSI), Irfan Jaya pesimistis melihat peluang Rudi memenangkan even lima tahunan sekali itu. Jikapun maju, peluang Rudi dinilai jauh lebih kecil dibandingkan dua kandidat gubernur lainnya. Peluangnya tipis, lantaran hanya berpeluang mendulang banyak suara di empat daerah dari 24 kabupaten/kota di Sulsel. Daerah yang dinilai bisa menjadi basisnya, yakni; Sinjai, Tana Toraja,Toraja Utara, dan daerah sekitar Pinrang. “Di luar empat daerah itu, Rudi harus bekerja keras dan bekerja cerdas menggalang dukungan. Apalagi, kandidat lainnya sudah dari dulu melakukan sosialisasi. Rudi masih butuh treatment lebih untuk mendapat dukungan di luar empat daerah,” paparnya.
Selain itu, potensi suara Rudi datang dari istrinya, Felicitas Asapa yang dikenal memiliki rumpun keluarga besar di Toraja. “Soal berapa besar dukungan yang diperoleh itu sangat tergantung dengan pola mobilisasi dukungannya,” tambah Irfan.
Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Rudiyanto Asapa, Andi Sugiarti Mangun Karim mengakui jika tingkat elektabilitas Rudi tertinggal jauh dari kandidat incumbent. Kendati demikian, ia menilai bahwa hal itu wajar. Argumennya, kandidat lain telah melakukan sosialisasi sejak beberapa tahun lalu.”Saya rasa itu wajar sekali kalau posisi Pak Rudi di bawah incumbent. Tapi, waktu pemilihan masih jauh sehingga masih memungkinkan terjadi perubahan,” kata dia meyakinkan.
Lebih lanjut, Sugiarti optimistis tingkat elektabilitas Rudi bakal melejit setelah deklarasi. Peluang memenangkan Pilgub juga tetap terbuka lebar. Alasannya, selain jaringan Partai Gerindra yang sudah sampai di tingkat perdesaan, Rudi juga punya banyak jaringan lain yang bisa digerakkan. Apalagi, Rudi tercatat sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulsel yang langsung bersentuhan dengan petani di semua pelosok. “Bahkan bisa melebih elektabilitas incumbent. Kita lihat saja nantinya,” tuntasnya.(RS1-RS6/al/E)

Komentar