oleh

SYL “Murka”: Nojeng, Kembali ke Sumbumu!

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-

Masa Kau Ingkar, Laki-lakiko…!

RAKYAT SULSEL — erseteruan perebutan kursi calon bupati Takalar dari Partai Golkar, bak sinetron berseri. Keputusan DPP Golkar yang ‘membuang’ Natsir Ibrahim alias Nojeng dan lebih meminang Burhanuddin Baharuddin alias Bur yang kemudian dibalas dengan pembakaran atribut Golkar oleh kader Golkar sendiri, membuat Ketua DPD I Partai Golkar, Syahrul Yasin Limpo terpaksa turun tangan.     Kemarin, SYL bahkan sempat mengumpulkan kader-kader partai beringin dari Takalar di rumah jabatan (Rujab) Gubernur. Mereka yang hadir dalam pertemuan itu, antara lain; Sekretaris Golkar Takalar, Alamsyah Demma, Ketua Korwil Dapil II, Ketua Korwil Dapil III, Pengurus MKGR Takalar, Kosgoro Takalar, Pincam Galesong Utara, Pincam Sanrobone, Pincam Pattalassang, dan tujuh kepala desa. Nah, saat pertemuan itulah SYL tampaknya “murka”.
“Saya mohon, saya kasi waktu satu minggu ini. Kalau bisa, tolong satukan yang bisa satu. Saya berharap, CB2 main. CB2 itu adalah satukan kalau bisa satu. Panggil dia untuk menyatu. Kalau tidak, mainkan CB3. Punna tena takammana, lepa-lepa mako kau. Passangma nakke akbiring kassi’ (Kalau tidak sejalan, silakan pilih jalan Anda. Biar saya yang menepi, Red),” katanya.
Berikut penegasan SYL selengkapnya yang direkam Rakyat Sulsel:

MEMANG bukanji persoalan Nojeng jadi bupati atau Bur jadi Bupati. Bukan… Karena itu lain tong akibatnya. Tapi mau bela Syahrul, itu yang saya suka. Kenapa, tidak ada niat lain saya, selain untuk kepentingan bangsa dan negara. Pegang itu!
Di saat-saat seperti ini mi itu jagonya SYL. Janganmaki’ terlalu ragu. Apalagi kalau sudah datangmi begini. Inimi jagoku.Kalau ada gelombang datang menghadangmu, jangan bawa menyamping perahumu, apalagi balik belakang dari tujuan.
Tunggu, mainkan gelombang itu. Dan pada saat gelombang menjadi ketinggian, berselancarlah kau menuju tantangan yang ada. Saya biasa hadapi seperti ini. Saya bisa memanage konflik. Jadi, kasi tauki itu Mursalim, siapa, bilang kasi baikki posisimu. Kembali kesini. Termasuk Nojeng, kembalikan ke sumbumu. Dan cuma satu perintah dari Syahrul Yasin Limpo. Ndaji’, kecuali Anda mau hilang dalam perjalanan.
Oleh karena itu, biasaji ini. Biasa…Sangat biasa untuk saya. Dan keputusan Partai Golkar itu keputusan yang matang. Artinya, saya kaget kenapa, saya berharap hasil surveinya Nojeng di atas. Tapi, kalau hasil surveinya memang tidak, artinya harus bisa berjiwa besar dong. Kalau begitu, tandatangani, kau wakil, itu kan bagus.
Selesai ini persoalan. Tugasmu ini, tugasmu satukan kembali. Kalau tidak, kita lawan secara bersama. Politik kan pilihan. Dan Janganmako kalau saya main-main begini. Biasa sekaliji. CB1, cara bertindak 1, CB2 cara bertindak 2, cara bertindak 3; hadapi. Apakah…? Apalagi kampungku. Berarti ini pemberian Tuhan. Cobalah main baik-baik. Janganko mau diprovokasi sama orang lain.
Yang jelas bagi saya, ini biasa. Biasaji. Jadi, teman-teman pulang sebentar, kasi aman. Saya kasi waktu dalam satu minggu. Lima hari ini, semua merekonsiliasi, terutama jajaran Golkar. Tidak ada lagi riak. Kalau tidak, buang! Itumi susahnya saya. Biasa, tapi kau tidak bisa keluar dari aturan. Saya pegang aturan. Dan itumi susahku. Biar kita bersaudara sekalipun, tidak boleh lewati aturan. Dan saya biasa menghadapi tantangan. Dulu kan seperti itu juga, sisa dimanage.
Saya senang. Saya terharu. Saya bangga, kita datang. Barangkali itu yang bakar-bakar semua, mudah-mudahan bukan saya yang dibakar. Dia tidak tau saja barangkali. Itu Takalar, enam kali survei. Yang survei, bukan satu… tiga. Jadi, cocokmi itu.
Kalaupun memang yang menentukan terakhir sesuai aturan, bukan Syahrul. Adalah, pengurus pusat. Tapi, mekanismenya jalan tidak? Kalau mekanismenya tidak jalan, baru Anda protes. Apalagi, yang kemarin, dua-duanya sudah tanda tangan (maksudnya Bur dan Nojeng sudah tandatangan, Red). Apa padeng kalau dua-duanya sudah tanda tangan? Artinya, na lekbami nu tanda-tangani. Bukan sama saya, di sana.
Saya mohon, saya kasi waktu satu minggu ini. Kalau bisa, tolong satukan yang bisa satu. Saya berharap, CB2 main. CB2 itu adalah satukan kalau bisa satu. Panggil dia untuk menyatu. Kalau tidak, mainkan CB3. Punna tena takammana, lepa-lepa mako kau. Passangma nakke akbiring kassi’ (Kalau tidak sejalan, silakan pilih jalan Anda. Biar saya yang menepi, Red).
Kalau suatu saat kau yang menang, alhamdulillah. Kalau saya menang, kau juga kalah. Jadi, kasi tahu, satu minggu ini. Panggil semua, apakah yang tidak dilewati. Golkar itu paling ketat. Mekanismenya, sangat ketat. Bahwa saya kaget hasil survei terakhir, itumi hasilnya karena sebelumnya ada penandatanganan.
Siapa yang nomor satu, dia yang jadi bupati. Yang nomor dua, jadi wakil. Itu sudah ditandatangan. Tidak ada jalannya. Masa kau ingkar, laki-lakiko. Mestinya, yang harus dipikir itu apa yang mau dibangun di Takalar.
Kita kompak-kompak. Saya pedemi kita datang. Karena saya pikir-pikir, di mana letaknya Syahrul ini. Sekarang, di Bone pun seperti itu. Di Luwu, pun seperti itu. Tetapi, harus dipahami ini juga gejolak sesaat. Oleh karena itu, dalam satu minggu ini, insya Allah saya ke Takalar. Adaki’ semua. Saya ingin bicara langsung semuanya. Dan, saya kira, itu tandanya Partai Golkar adalah partai besar. Partai kalau konflik itu ada sesuatu yang besar. Justru kalau ada organisasi atau partai tidak pernah konflik, itu berarti ada sesuatu yang tidak sehat di dalamnya.
Muaranya, tinggal memanage konflik. Muara konflik itu ada dua, ini teorinya. Muaranya, yang baik dan yang buruk. Biasanya, kalau konflik baunya tidak sedap, tidak enak. Dan muara dari konflik adalah marah, walk out, keluar dari posisi, perang, bahkan muara dari konflik adalah debating baku tantang orang, bakar.
Tapi, muara konflik juga yang baik adalah kita ketemukan ide-ide yang segar, makin solid. Memanage ini sampai dia makin solid. Konflik ini membuat kita makin paham. Kenapa bukan Nojeng? Oh, demi Rakyat Takalar. Periksa hatita. Demi siapa? Demi rakyat ta. Oh, kenapa bukan Nojeng? Oh, Nojeng mau dikasi kedua saja dulu, mungkin idenya makin bagus. Oh, kenapa bukan Nojeng? Karena Tuhan mentakdirkan ini. Jadi, ada sesuatu yang bermuara pada makin solidnya kita karena kita makin paham.
Manajemen konflik ke arah itu. Ada ide-ide segar muncul, punna tena nu kammayya, tena ni buntulukka anrinni to (Kalau tidak ada begitu, saya tidak ada di sini)? Berarti ada yang makin solid. Ada yang makin bisa pahami saya. Kita akan meraih kemenangan yang lebih besar di Takalar.
Jadi, arahkan ini semua. Jangan menajam ke persoalan baliho dan lain-lain sebagainya. Yang saya mau, manage konflik. Insya Allah kita menang. Kalau Takalar bisa keluar dari masalah ini, ini tanda-tanda kemenangan besar. Punna allalomi injo bombanga nampa bise tawwa, melajumi itu. Iya minne bombanga. (Kalau badai sudah berlalu, pasti sudah melajumi itu). Ibarat kita main selancar, ketika ada ombak, dan kita berada di ketinggian, maka hajar. Masih ada enam bulan, selesaikan ini. Perjelas semuanya seperti apa.  Saya berharap, Takalar tidak goyah bersama saya. Inai padeng, punna teai parakatte (Siapa lagi kalau bukan kita).
Jangan ada yang terpancing. Intinya, saya mau semua tenang. Saya beri waktu untuk pengurus lain menyatukan semuanya, termasuk menyatukan Bur dan Nojeng. Saya mau lihat jago-jagota semua. Saya tenang-tenang mendengar semua yang terjadi. Dan disinimi jagonya Syahrul. Saya akan selesaikan ini. Kita percayaka. Kita liat nanti. Tidak jadi pemimpin orang kalau tidak jelas mau kemana. Tidak tegar dengan pendirian. Pendirian saya satu, don’t ever gains the law (Jangan keluar dari aturan). Memang saya bisa paksakan sesuatu, tapi itu tidak benar. Saya mengalah, kalau prosesnya benar. (*)

Komentar