oleh

Ibrahim Rewa Mainkan Dua “Kartu”

Editor : rakyat-admin-Berita, HL-

Persilakan Nojeng Jadi 02 Golkar dan Dorong Menantu Maju 01 di Demokrat
Di Bone, Kader Golkar Juga Bakar Atribut

RAKYAT SULSEL — Pascarekomendasi DPP Golkar yang menunjuk Burhanuddin Baharuddin sebagai calon bupati, Bupati Takalar H Ibrahim Rewa terus bergerak. Bahkan, orang nomor satu di Takalar itu kabarnya memainkan dua “kartu”. Dia mempersilakan sang putra mahkota Natsir Ibrahim alias Nojeng untuk tetap bergabung dengan Golkar sebagai 02, namun tetap mendorong sang menantunya, H Achmad Dg Se’re untuk maju bertarung sebagai calon bupati.
Informasi yang diperoleh Rakyat Sulsel, sang menantu nantinya akan didorong maju sebagai 01 lewat pintu Demokrat. Keluarga besar Ibrahim Rewa hingga kemarin masih berada di Jakarta untuk melakukan lobi-lobi politik. Maklum saja, sang menantu, H Achmad Dg Se’re adalah anggota DPR RI dari Fraksi PPP.
Untuk memuluskan langkahnya itu, bupati dua periode ini dikabarkan sudah bertemu dengan ketua umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Pertemuan keduanya, atas jasa ketua Demokrat Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin, yang juga hadir.
Selain dengan Demokrat, komunikasi dengan pihak PKS pun kencang dilakukan. Beberapa pengurus DPP PKS juga dikabarkan telah bertemu dengan Bupati Takalar yang diantar langsung H Achmad Sere.
Terkait akan majunya H Achmad Se’re tersebut, legislator Senayan tersebut masih enggan untuk mengungkapkan sikapnya ke publik. Dirinya memilih semua pihak untuk bersabar dan mendukung bupati yang akan datang. ”Takalar harus kita bangun bersama, soal sikap saya lebih baik doakan saya untuk mengabdi lebih baik, sabar ki dinda,” ujar H Achmad Dg Se’re.
Langkah Ibrahim Rewa untuk memainkan dua “kartu” dengan mendorong anak dan menantunya maju di Pilbup Takalar, dianggap tepat oleh sahabat Ibrahim Rewa, Kamaruddin Timung.
Menurut Kamaruddin Timung, langkah Ibrahim Rewa sudah tepat. “Bupati pasti loyal ke Golkar, namun dirinya juga tidak bisa melarang menantunya untuk maju sebagai calon Bupati Takalar. Begitu juga dengan sikap HN untuk legowo terhadap keputusan DPP Golkar merupakan sikap sosok seorang kader,” ujar Ketua Yayasan Masjid Agung Takalar tersebut usai menunaikan shalat Maghrib di Takalar kemarin (25/5).
Sementara berubahnya sikap Ketua DPD II Golkar H Natsir Ibrahim tersebut untuk patuh dengan keputusan DPP Golkar disebabkan banyaknya masukan dari beberapa pengurus DPP Golkar serta dari sang ayahnya, Bupati Takalar H Ibrahim Rewa. Nojeng juga mendapat nasihat dan masukan dari sahabatnya H Jabir Bonto, legislator DPRD Takalar yang sering bersamanya.
Sikap melunaknya Nojeng juga dibenarkan salah seorang pengurus DPD II Golkar Takalar Ismail Tato. Menurutnya, Nojeng besama kader Golkar lainnya tetap patuh terhadap keputusan DPP Golkar. “Dirinya menyatakan akan patuh kepada keputusan partai dan sudah kami dengar, dan itu akan menjadi penyampaian NH (Nojeng, red) saat rapat besok sore (hari ini) dengan semua jajaran pengurus DPD II, pengurus kecamatan, dan desa,” ujar Ismail Tato kemarin (25/5) usai shalat Jumat di Takalar.
Namun paket Burhanuddin dan Nojeng malah dikhawatirkan merugikan partai Golkar. Prediksi ini berkembang karena banyaknya pendukung fanatik keduanya akan berubah sikap politiknya dan memilih untuk hengkang. Langkah bupati yang mencoba memainkan dua kartu juga dianggap sebagai langkah mengamankan dirinya di semua partai. “Ini langkah mengamankan dirinya di semua partai,” ujar Muhammad Said salah seorang mahasiswa Takalar kemarin (25/5).

Bone Juga Bergolak

Dua hari setelah aksi pembakaran atribut Golkar di Kabupaten Takalar, sejumlah kader Golkar di Takalar pun melakukan aksi serupa. Kali ini, belasan pendukung HAM Irsan Idris Galigo yang mengamakan dirinya Barisan Garda Muda, melakukan aksi demonstrasi di Sekretariat DPD II Golkar Bone, Jumat (25/5).
Mereka menolak hasil survei DPP Gokar Bone yang mengunggulkan A Fahsar Masahdin Fadjalani, sekaligus mendesak ketua DPD I Golkar Syahrul Yasin Limpo untuk menetapkan Irsan sebagai calon dari Golkar dengan tanpa menghiraukan keputusan DPP.
Demonstrasi diterima anggota Dewan Pertimbangan DPD Golkar Bone H Haruna, Wakil Sekretaris Golkar A Irwansyah dan A Akbar Yahya. “Saya pendukung Irsan, dan dari Garda Barisan Muda menolak hasil survei DPP. Kami yakin itu palsu,” kata Romdani Putra, yang mengaku anggota Garda Barisan Muda.
Dia tidak percaya hasil survei karena mengaku tidak pernah mendapati ada survei yang dilakukan DPP di Bone. “Dari survei mana DPP tetapkan Fahsar, itu semua palsu,” katanya.
“Irsan adalah figur yang potensial dan punya basis massa yang kuat mengakar rumput,” tegasnya.
Anggota Dewan Pertimbangan DPD Golkar Bone, H Haruna, saat menerima pengunjuk rasa mengatakan menerima usulan pembawa aspirasi. “Saya mengatakan kalau memang hasil survei itu valid dari DPP maka kita harus terima, tetapi kalau tidak kita harus tolak,” katanya.
A Irwansyah mengatakan akan menyampaikan pernyataan sikap pendemo ke rapat pleno Golkar yang akan segera dilakukan dalam waktu dekat ini. “Sikap mengenai terima tidaknya dengan survei DPP, tergantung hasil rapat pleno,” katanya.
Sementara itu puluhan simpatisan dari HAM Irsan Idris Galigo (ACC), Jumat (25/5) kemarin meluapkan kekecewaan mereka atas keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) terkait hasil survei calon bupati.
Di Jalan Gunung Jaya Wijaya, pengunjuk rasa selain menurunkan posko induk SYL, puluhan simpatisan ACC juga membakar semua atribut yang ada di posko tersebut.
Koordinator aksi, A Muh Adri, mengungkapkan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan atas sikap DPP dan DPD I Golkar Sulsel yang tidak mengakui keputusan dari rapat pleno diperluas yang dilakukan oleh DPD II Kabupaten Bone yang menetapkan ACC (Irsan) sebagai calon bupati (Cabup) dari partai Golkar.
Padahal menurutnya, keputusan tersebut juga didasarkan atas desakan dari setiap pimpinan Golkar kecamatan untuk menetapkan ACC sebagai Cabup dari partai Golkar. “Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan kami atas sikap DPP dan DPD I yang telah mengebiri hasil keputusan dari rapat pleno diperluas DPD II Golkar Bone,” ucap A Adri.

SYL: Tidak Ada Kader Bermain Dua Kaki

Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) melihat kisruh di dua kabupaten pascapenetapan bakal calon pupati yang diusung DPP Golkar merupakan dinamika, karena Golkar merupakan partai besar dan penuh dengan dinamka politik.
“Untuk partai besar memang sering dirundung dinamika, karena dinamika merupakan bentuk kebesaran partai,” ujar Syahrul seusai membuka Orientasi Fungsionaris Partai Golkar Tingkat Provinsi dan Kabupaten Kota se-Sulsel di Hotel Swiss Bell in Makassar, sore kemarin.
Menurutnya, hal semacam itu bukan hal yang baru dialami partai besar seperti Golkar. Dia menanggap, hal ini merupakan sesuatu yang wajar, karena ini merupakan pilihan.
Dia juga mengakui, bahwa kekecewaan tersebut nantinya akan menjadi luntur dengan sendirinya karena saat ini kondisi kekecewaan tersebut masih dalam hal yang wajar. “Siapapun pasti bisa kecewa,” ungkapnya.
“Saya rasa ini merupakan kekecewaan sesaat saja, dan saya yakin bahwa kedua kader tersebut tidak akan keluar dari Golkar,” tambahnya.
Ketika disinggung mengenai adanya niat Partai Demokrat merangkul kadernya, dia meyakini Natsir Ibrahim dan Andi Irsan Idris Galigo merupakan kader yang taat dan memahami sikap organisasi. “Golkar ini merupakan partai besar dan kuat, sehingga jarang ada kader yang bermain dua kaki,” ucapnya.
Menurutnya, kader Golkar memiliki ideologi yang kuat sehingga sangat sulit untuk hengkang ke partai lain. Mantan Bupati Gowa dua periode ini juga berharap, gejolak tersebut tidak berimbas terhadap pencalonannya di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2013 mendatang sebagai calon incumbent.
“Mudah-mudahan tidak,” tegas Syahrul. (RS6-yos)

Komentar