oleh

Dari Pelatihan Analisis Anggaran CITA-BASICS

Editor : Rakyat Sulsel.Com-HL-

Media dan OMS Jangan Jadi Teman Pasif

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Sulsel, Wakhyono, saat menjelaskan interaksi pers dengan MSO di Malino.

RAKYAT SULSEL — Canada International Develompent Agency (CIDA) melalui program Better Apporoach to Service Provision Through Increased Capacities (BASICS) mengelar pelatihan terkait analisis dan penelusuran anggaran untuk organisasi masyarakat sipil (OMS). Pelatihan ini berlangsung 14 hingga 18 Mei 2012 di Malino, Kabupaten Gowa.
Pelatihan diikuti 28 orang terpilih, yaitu 14 orang dari Sulawesi Utara (Sulut) dan 14 orang dari Sulawesi Tenggara (Sultra). “Peserta kami pilih, hanya perwakilan saja. Berharap setelah dari pelatihan ini bisa dibagikan ilmunya kepada rekan-rekan OMS yang lain yang terbeban untuk melihat daerahnya berkembang ke arah baik pemerintahan dan masyarakatnya secara menyeluruh,” terang Syamsuddin Alimsyah Koordinator Kopel Indonesia yang juga fasilitator kegiatan ini.
Peserta dari Sulut terdiri dari 12 orang dari perwakilan OMS Kabupaten Minut, Sitaro dan Sangihe, 1 orang dosen dari Unsrat Manado dan 1 orang perwakilan media lokal. Peserta dari Sultra adalah 12 orang perwakilan dari Kabupaten Konsel, Baubau dan Buton Utara 1 orang dosen dari Unhalu Kendari dan 1 orang perwakilan media lokal.
Mengapa peserta dari Sulut dan Sultra namun pelatihan digelar di Sulsel? “Kami ingin para peserta yang merupakan mitra kerja kami, bisa studi kasus bersama. Belajar dari pengalaman di daerah masing-masing agar bisa melakukan penelusuran dan menemukan penyelesaian dengan baik. Sekali lagi tujuannya adalah kontrol pemerintah agar tidak boros anggaran, tidak menyalahgunakan uang negara dan menyelamatkan daerah,” jelasnya.
Salah satu yang menjadi narasumber dalam pelatihan ini adalah Wakil Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Sulsel, Wakhyono, yang membawakan materi interaksi media dengan OMS, baik LSM maupun akademisi.
Menurutnya, pers dan OMS adalah paduan pas untuk menggerakkan perubahan, atau sekurang-kurangnya menggalang opini publik tentang sebuah gagasan perubahan.
Kolaborasi itu sebenarnya sangat mungkin dilakukan, karena keduanya punya watak dan sumberdaya yang hampir serupa. Media massa berperan menyampaikan suara publik melalui pemberitaan dan informasi. OMS membela publik, terutama mereka yang terpinggirkan, melalui berbagai aktivitas pendampingan, pendidikan kritis dan advokasi.
Media massa punya wartawan dengan daya cium tajam untuk mengendus isu-isu kebijakan yang merugikan publik. LSM punya pendamping dan fasilitator lapangan yang dekat dengan pihak yang didampinginya.
“Namun sebaiknya, media massa dengan LSM jangan hanya menjadi teman yang pasif, tapi harus aktif. Sering-sering melakukan diskusi dengan media. Selama ini, begitu banyak narasumber yang tak punya rekam jejak yang jelas. Kesulitan ini membuat banyak wartawan mengggunakan narasumber dan news maker yang itu-itu juga,” katanya. (*)

Komentar