oleh

Dagelan Politik; Dari “Galau” hingga Hahaha..

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Berita-

RAKYAT SULSEL — Fenomena politik menjelang Pilgub Sulsel, semakin seru saja belakangan ini. Ada kandidat wakil gubernur yang mengungkapkan terjadinya kecurangan penyelenggaraan Pilgub 2007 lalu. Ada pula yang mulai saling sindir.
Cobalah tengok beberapa hari lalu. Dua kandidat sudah saling sindir soal kata-kata “galau”. Yang satu menuding, rivalnya tengah galau hingga melakukan mutasi dan copot sana-sini serta memasang iklan di mana-mana. Sedang yang dituding galau, justru tertawa. “Galau? Ha…ha…ha…,” komentar kandidat yang dituding galau.
Di sisi lain, mekanisme persiapan Pilgub yang terjadi tidak terlalu cepat. Cukup dinamis. Memang sempat timbul tenggelam terkait preferensi penentuan apa dan dengan siapa berkoalisi yang dinilai paling strategis. Belakangan mulai mengerucut; Ilham Arief Sirajuddin sudah deklarasi bersama pasangannya Aziz Qahhar Mudzakkar dan sang incumbent Syahrul Yasin Limpo sudah hampir dipastikan akan kembali duet dengan Agus Arifin Nu’mang (Sayang Jilid II).
Sementara satu kandidat lagi, Andi Rudiyanto Asapa, hingga kini belum menentukan sikap. Namun, Rudi yang kabarnya akan deklarasi pada 26 Mei ini bakal menggaet politisi Demokrat, Andi Nawir.
Koalisi pun terus digalang. Bisa saja yang tadinya musuh lalu jadi teman, dan teman menjadi lawan politik. Itulah politik. Seni yang mungkin menjadi tidak mungkin. Demikian pula sebaliknya.
Menarik juga untuk disimak, suasana politik semakin seru dalam rencana koalisi yakni adanya partai yang seolah-olah berada di “dua kaki” atau bahkan “tiga kaki”. Dan ada pula para tokoh partai yang celoteh di lingkungan internal sana-sini karena tajamnya perbedaan pendapat.
Fluktuasi suhu politik pun begitu tajamnya; naik-turun. Belum lagi, semua partai yang termasuk golongan besar (Golkar dan Demokrat) sibuk dengan strategi dan taktik masing-masing menggalang koalisi dengan blok menengah sampai level gurem.
Banyak khalayak melihat, ini sebagai dagelan politik. Mereka saling senyum dan tawa. Kalau senyum dan tawa begitu alami dan lepas, tentunya bagus. Namun, kalau dilakukan secara terpaksa, itu sih namanya ketawa “sinis”.
Ngomong-ngomong tentang tertawa, ternyata itu bisa digunakan sebagai terapi sehat seseorang. Menurut Armand Archisaputra, Instruktur Klub Tawa Seuri Euy (blog Artikel Psikologi; 03 Oktober 2008), tertawa adalah ekspresi kebahagiaan dan bisa dilakukan tanpa syarat. Terapi tertawa sama khasiatnya dengan meditasi sehingga sering disebut juga yoga tawa.
Tentu saja bukan sembarang tertawa melainkan tertawa alami. Tertawa yang datang dengan sendirinya dari dalam diri kita tanpa bantuan atau rangsangan dari luar seperti banyolan atau lawakan.
Nah, kalau begitu, bagaimana dengan tertawa ketika melihat dagelan politik? Kalau tertawanya sinis justru bukannya terapi yang bisa menyebabkan kita sehat. Apalagi, kalau dibawa ke hati terdalam maka bisa berakibat sebaliknya. Sinis itu kan perilaku negatif. Jadi, sama saja kita sedang menyebarkan enerji negatif dalam pikiran dan hati kita. Lambat laun itu akan menghancurkan kesehatan jiwa.
So, rileks sajalah melihat perkembangan politik. Nikmatilah. Boleh disertai dengan senyum dan tawa kecil. Ambil saja hikmahnya dengan memroses enerji positif yang kita miliki. Yakni memandangnya sebagai proses pendidikan politik buat kita masing-masing. (*)

Komentar