oleh

Pertumbuhan Industri Sulit Capai 7%

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Ekonomi & Bisnis-

RAKYAT SULSEL — Pertumbuhan industri nasional diperkirakan akan melambat pada tahun ini. Bahkan, menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, industri akan sulit bertumbuh hingga 7 persen.

“Ya melambat. Pertumbuhan ekonomi enam persen saja sudah bagus. Manufaktur 6,9 persen pada tahun lalu. Saya pikir tahun ini 6,5 persen sudah bagus,” kata Sofjan di Jakarta, Jumat (18/5).

Terlebih lagi, dia menambahkan, situasi politik pada tahun depan dikhawatirkan akan memengaruhi pertumbuhan industri. “Saya paling pesimistis tahun depan, karena mulai pemilu. Tidak ada lagi yang konsentrasi. Semua konsentrasi menangkan pemilu. Faktor politik akan sangat pengaruhi pertumbuhan kita,” katanya.

Realisasi investasi, kata dia, menjadi faktor mendorong pertumbuhan industri pada tahun ini. “Tidak banyak investasi. Itu tahun ini. Sekarang melihat realisasi kuartal I cuma tumbuh tidak seperti tahun lalu,” ucapnya.

Sektor industri automotif, baja, makanan dan minuman, kata dia, bakal terus mendominasi pertumbuhan industri nasional pada tahun ini. “Mobil dan sepeda motor tumbuh, karena pendapatan kelas menengah naik. Tapi dengan aturan BI juga akan mempersulit, tapi ya akan tumbuh terus,” ucapnya.

Dia menambahkan, hal yang juga mengkhawatirkan adalah gap sosial di masyarakat Indonesia. “Yang saya khawatir saat ini adalah gap kaya miskin. Rasio kita ini sudah 4,1 persen. Itu yang kemarin dilaporkan di Bali. Rata-rata di dunia itu maksimal 3 persen. Ini yang akan menciptakan political instability,” ucapnya.

Secara terpisah, Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Harry Warganegara menjelaskan, pertumbuhan industri memang akan terus naik dan didominasi manufaktur.  Tapi, kata dia,  pemerintah belum maksimal mendorong pertumbuhan industri nasional.

“Kendala masih banyak. ??Jadi naiknya industri nasional dikarenakan kesempatan yang ada di pasarnya. ??Karena Eropa lagi melemah dan Amerika belum bisa bangkit maka aliran investasi mengalir yang antara lain ke Asia,” ucapnya.

Untuk itu, pemerintah harus menciptakan kebijakan yang bisa mendatangkan serta mempermudah investasi di dalam negeri. “Sayang kalau pemerintah tidak menetapkan aturan dalam momen yang bisa menarik buat peningkatan industri kita. Investasi masuk lebih karena faktor lucky, bukan karena langkah offensive,” ujarnya. (okz/una)

Komentar