oleh

Ekspansi Bisnis Grup Clarion

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Berita, HL-

Rumah Rektor UNM Pun Ingin Digusur

RENOVASI. Hotel Clarion melakukan renovasi hingga ke pemukiman warga.

RAKYAT SULSEL — DALAM membangun ekspansi bisnis hotelnya, manajemen Group Clarion kerap mendapat protes dari warga. Manajemen dituding merampas hak dan ketenangan warga. Pembangunan renovasi Hotel Grand Clarion misalnya, terus menuai sorotan dari warga, utamanya yang berdomisili di Jalan Bontosunggu, Kecamatan Rappocini. Bahkan, rumah jabatan rektor Uiversitas Negeri Makassar (UNM) di belakang Hotel Clarion tak luput dari incaran ekspansi hotel yang
sahamnya dimiliki Raymond Arfandi, Willianto Tanta, Fiter Witono, dan Anggiat Sinaga itu.

Menanggapi rencana pembelian rumah jabatan Rektor UNM di Jalan Landak, untuk perluasan Hotel Grand Clarion, Prof Dr Arismunandar, mempersilakan saja jika mereka memiliki keinginan. Namun, pihak UNM juga memiliki hak untuk menolak. “Saya kira, kalau mau saja yang silakan. Tapi, pihak kami juga berhak menolak. Kalau perlu, kami yang beli Clarion,” tegas Arismunandar.

Ia mengungkapkan, pihaknya juga sedang membutuhkan lahan untuk melakukan pengembangan kampus UNM. Sehingga, tidak ada alasan untuk melakukan penjualan lahan ke pihak lain, termasuk manajemen Clarion. “Kami juga butuh lahan untuk ekspansi, pengembangan kampus UNM. Jadi, tidak mungkin kami menjual,” ujarnya.

Sebelumnya, warga memprotes ekspansi Hotel Clarion hingga ke pemukiman warga. Selain diduga melakukan pelanggaran berat terkait pembangunan penambahan kamar hotel dan fasilitas lainnya yang tidak sesuai aturan dan izin pembangunan yang terkesan dipaksakan, juga warga merasa terganggu dengan aktivitas pembangunan hotel. Bahkan, jika hujan tiba, pemukiman warga di sekitar lokasi tersebut banyak yang kebanjiran.

Bukan itu saja, warga sekitar juga mengeluhkan suara-suara bising hingga tengah malam, sehingga jam istirahat warga terganggu. Belum cukup sampai di situ, pengaturan kendaraan proyek pembanguan hotel Clarion juga terlihat asal-asalan, parkir hingga ke tengah jalan.

“Got itu ditutup oleh pihak hotel, jadinya tersumbat. 40 tahun saya tinggal disini, tidak pernah ada banjir. Baru sekarang banjir, setelah got tertutup. Makanya, sebagai warga Jalan Bontosungu, saya mersa terganggu,” kesal Edi Kosasih, warga sekitar yang juga menjabat Kepala Badan Diklat Kota Makassar, belum lama ini.

Menurutnya, sebagai warga Makassar, dirinya merespon kehadiran hotel tersebut, tetapi perlu diingat oleh pihak manajemen untuk memperhatikan aspek dampak lingkungan pada masyarakat sekitarnya. “Jadi, kalau membangun jangan abaikan kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Jika melihat kondisinya, lanjutnya, manajemen hotel, nampaknya asal membangun saja. “Tiga tahun saya merasa terganggu, rumah saya bocor, semua hancur baru dia perbaiki atap saya,” keluhnya.

Jadi, kata Edi, semenjak pembangunan tambahan hotel tersebut, manajemen hotel seenaknya saja, kendaraan tidak diatur baik-baik.”Kemudian tengah malam, kita merasa terganggu apalagi saat Ramadhan dulu, itu tidak berhenti sampai kita mau sahur,” ungkapnya.

Dikatakan Edi, rolling untuk akses keluar masuk kendaraan dari hotel itu juga sangat berbahaya.”Itu jalan utama terus menurun, bahaya kalau begitu modelnya,” kuatirnya.

Terpisah, General Manager Grand Clarion Hotel Anggiat Sinaga saat dikonfirmasi berkilah bahwa semua prosedur pembangunan sudah sesuai, bahkan kebisingan sudah tidak menggangu warga. “Persoalan dengan warga sudah selesai, tidak ada lagi yang terganggu lihat saja, kita telah perbaiki jalan, semuanya mulus seperti jalan tol,” elak Anggiat.(RS1-RS5/al/E)

Komentar