oleh

Baliho Politik Usik Ruang Publik

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Daerah-

Tak Terdaftar di Dispenda

RAKYAT SULSEL — Penataan baliho berisi pesan-pesan politik kian semerawut di Kota Makassar. Pemasangan baliho yang tidak terkendali telah merampas hak-hak publik hampir di seluruh ruas jalan di Kota Makassar.
Seperti yang terlihat di perempatan Jalan Cendrawasi-Kakatua yang kian parah. Di titik ini sedikitnya 15 baliho politik terpasang hingga menutup area pejalan kaki hingga menghalangi traffic light. Akibatnya, para pejalan kaki harus ekstra berhati-hati saat melintas di jalan itu. Demikian halnya dengan para pengguna jalan.
Pada empat sudut perempatan jalan ini terdapat empat baliho calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel Ilham Arief Sirajuddin-Azis Qahhar Mudzakkar, serta baliho kandidat calon walikota Makassar, Busra Abdullah (PAN), Annar Salahuddin Sampetoding (independen), dan Anis Kama (independen), Muhyina Muin(Pakar Pangan).
Bahkan papan nama Jalan Sultan Alauddin perempatan Veteran Selatan-Kumala-Ratulangi tertutupi oleh baliho, semangat baru Sulsel Ilham-Azis, Gerakan Andi Rudiyanto Asapa untuk Sulsel, Anis Kama menghadap ke Jalan Kumala. Serta baliho Don’t Stop Komandan, dan reuni perak SMA Negeri 5 Makassar yang menghadap ke Jalan Veteran.
Di sepanjang Jalan Penghibur, Pasar Ikan, Riburane, Ujung Pandang, hingga Nusantara yang dinyatakan bebas baliho juga masih berdiri satu baliho Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan empat baliho Ilham-Azis.
Demikian juga dengan jalan-jalan besar lain seperti Pettarani, Urip Sumoharjo, Alauddin, Bawakaraeng, Jendelar Sudirman masih banyak berdiri baliho bernuansa politik.
Padahal, menurut Kepala Bidang Pajak Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Makassar Agus Jaya Zaid, saat di konfirmasi terkait hal ini mengatakan seluruh jalan protokol, kantor-kantor pemerintah dan rumah ibadah wajib bebas baliho dan iklan politik.
“Sebagian besar yang memasang baliho politik tidak melapor pada Dispenda. Ini yang membuat baliho tidak tertata.  Kami setiap waktu tertibkan, yang baliho besar ditertibkan tengah malam. Sulit karena personil kami sedikit,” tuturnya.
Agus Jaya mengemukakan, setiap perempatan maupun pertigaan jalan di Kota Makassar terdapat 2-3 baliho. Rata-rata dari baliho itu bernuansa politik dan hanya segelintir saja yang melapor ke Dispenda saat memasangnya, ungkapnya. (RS4/eui/D)

Komentar